PGN Menyebut Isu Buyback Hanya Ulah Spekulan - Optimalkan Anggaran US$ 1,5 Miliar

NERACA

Jakarta- PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) menampik adanya pembelian saham kembali (buyback) oleh pemerintah untuk memaksimalkan bisnis perseroan. Isu buyback tersebut dinilai pihak manajemen hanya merupakan hasil spekulatif sejumlah orang atau kelompok. “Itu hanya spekulatif saja. Wajar memang ada isu mengenai hal tersebut. Dalam RUPST tidak ada item yang membahas mengenai buyback saham,” kata Direktur Utama PGAS, Hendi Prio Santoso di Jakarta, Rabu (17/4).

Menurutnya, pihak manajemen sekalipun tidak pernah membahas secara spesifik terkait hal tersebut. Bahkan, dalam pertemuan yang baru saja dilakukan dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). “Terus terang buyback ini sendiri saya baru dengar. Kami tidak ada pembahasan mengenai hal itu oleh pemerintah,” ujarnya.

Untuk memaksimalkan bisnis perseroan, lanjut dia, perseroan akan melakukan ekpansi dan berupaya untuk mengoptimalkan anggaran. Dalam pengoptimalan anggaran tersebut, selain diperoleh dari kas internal, juga tidak menutup kemungkinan bagi perseroan untuk menerbitkan obligasi. Pada tahun ini, perseroan menganggarkan belanja modal/capital expenditure (capex) sebesar US$1,5 miliar. “Sekitar US$ 500 juta sebagai langkah ekpansi bisnis inti perseroan, dan US$ 1 miliar untuk akuisisi sejumlah blok Migas.” jelasnya.

Dalam RUPST, kata dia, perseroan menyetujui untuk membagikan dividen sebesar 58,79% dari laba bersih perseroan pada tahun 2012 yang mencapai Rp8,86 triliun atau sebesar Rp4,9 triliun dengan nilai Rp202 per saham.

Dari total dividen tersebut sebesar Rp2,8 triliun dibagikan kepada pemerintah dan sebesar Rp2,1 triliun kepada pemegang saham lainnya. Perhitungan atas pembagian dividen ini didasarkan pada kondisi keuangan dan kinerja yang dicatatkan perseroan. Rencananya, pembagian dividen akan dilakukan pada Mei mendatang. “Kami bersyukur bahwa perusahaan dalam kondisi yang sehat, dan fund raisingnya juga sehat, sehingga kami mempunyai perspektif bahwa kita mampu membayar dividen besar,” jelasnya.

Kinerja Perseroan

Direktur Keuangan PGN, M Riza Pahlevi Tabrani mengatakan, sepanjang tahun 2012, perseroan mencatatkan hasil penjualan gas menjadi 807 mmscfd dari tahun sebelumnya sebesar 795 mmscfd. Kenaikan ini mendorong bisnis transmisi, volume gas bertambah sebesar 877 mmscfd dari 845 mmscfd.

Menurutnya, terjadinya peningkatan volume gas didukung oleh pembangunan infrastruktur. Perseroan juga akan meningkatan alokasi gas bumi untuk domestik. Karena itu, pihaknya optimistis volume penjualan gas bumi masih akan terus mengalami peningkatan.

Sepanjang tahun 2012 perseroan mencatat, telah merealisasikan sejumlah program kerja, antara lain pembangunan Floating Storage Regasification Unit (FSRU) Lampung dengan kapasitas 240 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Saat ini pembangunan FSRU Lampung telah memasuki pembangunan bagian dasar kapal (keel laying) di galangan kapal Hyunday Heavy Industries di Ulsan, Korea Selatan dan ditargetkan selesai pada akhir tahun 2014.

Untuk memperkuat ketahanan pasokan gas jangka panjang, perseroan serius melakukan pengembangan bisnis usaha dengan masuk ke sisi hulu minyak dan gas melalui penyertaan kepemilikan entitas anak, PT Saka Energi Indonesia (SEI). Perseroan juga tercatat telah menandatangani kesepakatan untuk penyertaan di dua Blok Production Sharing Contact (PSC) dalam negeri.

Adapun penyertaan Participation Interest (PI) pertama, yaitu di Blok Ketapang PSC, Jawa Timur, sebesar 20% dari Sierra Oil Services Ltd. Blok tersebut dioperasikan oleh Petronas Carigali yang sekaligus memiliki kepemilikan sebesar 80%. Blok Ketapang PSC ini diperkirakan memiliki cadangan setara dengan 84 juta barel minyak (84MMBOE). Pada puncaknya blok tersebut diperkirakan akan memproduksi minyak sebesar 25.000 barel per hari dan gas sebesar 50 juta kaki kubik per hari.

Sekadar catatan, sepangang tahun 2012 perseroan mencatatkan laba bersih sebesar US$ 890,89 juta atau sekitar Rp8,8 triliun, naik sekitar 30% dari perolehan laba tahun 2011 sebesar US$ 680,80 juta atau Rp 6,5 triliun. Perseroan juga mencatatkan laba usaha US$ 1,02 miliar dan EBITDA US$ 1,19 miliar. (lia)

Related posts