Permintaan Meningkat, Produksi Udang Terus Dipacu - Perikanan Budidaya

NERACA

Indramayu –Perikanan budidaya di Indonesia sesungguhnya mengandung potensi yang sangat besar untuk menjadi sumber pemasukan bagi negara. Di tengah menurunnya produksi di negara lain, sektor perikanan budidaya di negeri ini, khususnya komoditas udang, kini semakin menjadi primadona pasar dunia.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (Dirjen PB) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto mengungkapkan pembudidayaan udang di Indonesia mengalami kemajuan yang pesat, dikarenakan permintaan dari berbagai negara seperti Amerika, Jepang dan beberapa negara di Eropa. Apalagi, lanjut Slamet, beberapa negara pesaing seperti Thailand dan Vietnam sedang mengalami penurunan produksi.

Menurut dia, target produksi udang di 2013 yang dicanangkan pemerintah mencapai 600 ribu ton. \"Pencapaian produksi yang tinggi ini merupakan upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas dan daya saing produk perikanan, serta mendorong keterkaitan hulu dan hilir, harmonisasi program sektor maupun lintas sektor maupun antar pelaku usaha satu dengan lainnya, yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat,\" ungkap Slamet usai mengunjungi tambak udang di Indramayu, Jawa Barat, Rabu (17/4).

Untuk itu, lanjut Slamet, agar lebih meningkatkan hasil produksi, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) mengembangkan dua konsep industrialisasi perikanan budidaya yaitu melalui revitalisasi sistem produksi perikanan budidaya dan pengembangan infrastruktur dan kawasan budidaya.

Sejalan dengan itu, sejak tahun 2012 lalu, DJPB telah melakukan revitalisasi demfarm tambak udang dan ikan bandeng di Pantura Jawa Barat dan Banten di 6 kabupaten yaitu Karawang, Subang, Indramayu, Cirebon, Serang dan Tangerang. Pada tahun 2013 ini, revitalisasi tambak direncanakan dilaksanakan di Pantura Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sumatra Utara dan Lampung. Kegiatan revitalisasi tambak ini selain mencakup kegiatan rehabilitasi tambak dan saluran juga kegiatan demfarm atau percontohan usaha budidaya tambak.

Hari Air Dunia

Dalam kesempatan yang sama, Slamet juga mengungkap begitu pentingnya air untuk kehidupan dan kelangsungan tambak. “Seiring Hari Air Dunia yang diperingati setiap tanggal 22 Maret 2013 dan menjadi wadah untuk menyatukan fokus perhatian dunia terhadap peran pentingnya ketersediaan air dan mengupayakan tata kelola sumber daya air yang berkelanjutan, juga menjadi momen yang penting dan tak terpisahkan dari program revitalisasi tambak yang dijalankan oleh DJPB,” ujar Slamet Soebjakto, pada saat membuka Peringatan Hari Air Dunia 2013, yang mengusung tema Kerjasama Air (Water Cooperation).

Menurut dia, air yang merupakan kebutuhan vital suatu kegiatan budidaya harus dikelola, dimanfaatkan dengan bijak dan efisien. “Penggunaan dan pemanfaatan air tanpa adanya tata kelola yang baik akan merugikan pengguna air itu sendiri dan sektor perikanan budidaya sebagai pengguna air harus berperan aktif,\\\" tambah Slamet.

Secara nyata, pengelolaan tambak demfarm dengan menggunakan sistem tertutup (closed system), merupakan salah satu bagian dalam efektif dan efisien menggunakan air. ada peringatan ini sekaligus dilaksanakan kegiatan “Forum Pengembangan Prasarana dan Sarana Budidaya” yang bertujuan untuk melakukan koordinasi dalam rangka integrasi kebijakan pembangunan prasarana dan sarana budidaya dengan lintas sektor dan Sosialisasi pengembangan kawasan perikanan budidaya (demfarm) yang terintegrasi.

Lintas Sektoral

Dirjen PB juga menyampaikan bahwa Program Revitalisasi Tambak yang dilaksanakan melalui program Demontration Farm (Demfarm) yang telah dimulai sejak tahun 2012, telah membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. Menurut Slamet, tambak udang demfarm sampai dengan Minggu ke-1 bulan April 2013 telah melakukan panen dengan total panen sebanyak 308,02 Ton. Diharapkan, ini merupakan titik awal untuk memotivasi para pembudidaya udang dalam membangkitkan kembali kejayaan budidaya udang di wilayah Pantura Jawa khususnya Banten dan Jawa Barat.

Sebagai wujud dari terbentuknya koordinasi dan kerjasama lintas sektoral, DJPB saat ini diistilahkan Slamet adalah aktif “menjemput bola”, yaitu dengan menginisiasi berbagai kerjasama. Salah satu kerjasama yang sangat penting adalah dengan Kementerian Pekerjaan Umum (Kementerian PU) dengan dalam memperbaiki infrastruktur seperti saluran irigasi tambak dan jalan produksi. Contohnya pada tambak udang, Kementerian PU yang memperbaiki saluran irigasi primer dan sekunder, sedangkan DJPB mengerjakan saluran tersier.

Selain itu, DJPB juga menggalang kerjasama dengan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dalam mengupayakan agar listrik bisa masuk ke lokasi-lokasi budidaya udang. Sebab beban biaya listrik lebih murah ketimbang BBM (Bahan Bakar Minyak). Infrastruktur yang baik dan memadai, menurut Slamet, tentu akan menjadi daya tarik bagi investor lokal dan internasional untuk menanamkan modalnya di usaha budidaya perikanan. Tak hanya itu, DJPB juga melakukan kerjasama dengan Badan Pertanahan Nasional. Kerjasama ini penting karena apabila bantuan perbankan sudah banyak, maka yang dibutuhkan adalah agunan. Untuk itu perlu dilakukan sertifikasi lahan budidaya agar nantinya dapat di agunkan untuk mendapatkan tambahan permodalan dari perbankan.

Related posts