Lansia dan Stigma "Beban"

Oleh: Kencana Sari, SKM., MPH

Staf Peneliti Balitbang, Kementerian Kesehatan.

Jangan pernah menganggap lansia adalah kaum pembeban. Rancangan UU Aparatur Sipil Negara yang menetapkan perpanjangan umur pensiun pegawai negeri sipil menjadi 58 bagi pegawai administratif dan 60 tahun bagi mereka yang menjabat sudah dibuat, bukan tanpa alasan. UU No. 13/1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia telah merekam potensi lansia, mereka usia 60 tahun ke atas yang memiliki pengalaman, keahlian, dan kearifan sehingga dinilai perlu diberi kesempatan untuk berperan dalam pembangunan.

Tidak sedikit lansia yang ketika memasuki masa pensiun masih berpotensi unggul. Di Jakarta contohnya, lebih dari 14% lansia, berpendidikan minimal sarjana. Sebagian dari mereka mungkin adalah komisaris atau owner dari suatu perusahaan. Artinya mereka ini punya potensi yang harus tetap diberdayakan, alih-alih dilupakan. Tidak tepat jika di masa pensiun mereka “ditugasi”untuk hanya diam di rumah menimang cucu, walau sebagian memilih demikian. Justru, seharusnya mereka bisa diberdayakan membina generasi lebih berdasar pengalaman dan ilmu yang telah mereka miliki. Pertanyaannya adalah adakah \"salurannya?\"

Jumlah lansia yang semakin meningkat dewasa ini terjadi lantaran meningkatnya umur harapan hidup (UHH) masyarakat sebagai salah satu indikator kesehatan dan kesejahteraan. UHH di Indonesia semakin tahun semakin meningkat dan diprediksikan mencapai angka 74,5 pada 2025. Namun, apakah umur harapan hidup saja cukup sebagai indikator kesejahteraan dan kesehatan? UHH yang tinggi penting juga dibarengi dengan kualitas hidup yang baik. Kasarnya, buat apa hidup lama tetapi menderita.

Kualitas hidup yang baik saat lansia sangat diitentukan oleh kehidupan sebelum lansia. Hidup yang berkualitas juga tidak akan tercapai bila kondisi kesehatan buruk. Kondisi kesehatan saat lansia merupakan hasil dari pola hidup selama hayat. Contohnya saja, penyakit arteriosklerosis seperti jantung koroner bisa tercetus oleh pola makan tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik yang berlangsung lama. Penyakit lain yang tipikal pada lansia adalah muskoskeletal, hipertensi,gigi dan mulut, dan mental.

Kegemukan juga merupakan faktor risiko yang dapat memicu berbagai penyakit kronis pada lansia. Berdasarkan analisis lanjut data riset kesehatan dasar tahun 2010, sekitar hampir 20% lansia di Indonesia mengalami kegemukan. Mereka yang tinggal diperkotaan 30% berisiko lebih tinggi untuk menjadi gemuk dibanding mereka yang tinggal di pedesaan. Lansia yang tinggal dengan pendamping keluarga, misalnya tinggal bersama anak juga akan meningkatkan risiko untuk menjadi gemuk sebesar 20%.

Lalu apa artinya data-data itu? Hidup yang panjang dan berkualitas pun pada saat lansia bisa diperoleh dengan tetap menjaga misalnya berat tubuh yang ideal. Kegemukan merupakan salah satu hal penting yang harus dikendalikan sejak usia dini untuk mencegah kebangkrutan negara melalui universal healthcoverage yang dimulai tahun 2014 nanti.

Program kesehatan dan peningkatan kualitas hidup khususnya pada lansia juga tidak bisa di generalisir penerepannya untuk semua daerah. Penanganan masalah di kesehatan perkotaan pasti berbeda dengan pedesaan. Ada hal-hal yang sifatnya local specific yang tidak bisa dihilangkan dan mempengaruhi sendi-sendi kehidupan masyarakat dan penting untuk diperhatikan dalam pembuatan kebijakan. Dengan demikian program-program pemerintah akan efektif menuju masyarakat yang sehat dan mandiri.

Related posts