Pembeli Bank Mutiara Harus Bayar Tunai

NERACA

Jakarta – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengatakan bahwa pihaknya tidak akan memberikan keringanan pembayaran dalam bentuk cicilan kepada siapapun investor yang berminat membeli Bank Mutiara. Jadi investor tersebut memang harus menyediakan Rp6,7 triliun secara tunai.

“LPS kan hanya boleh menguasai Bank Mutiara maksimal sampai November2014 paling maksimum. Kalau mengangsur dia mau berapa kali? Tidak ada lagi waktunya kan. Lagian kalau dia mau angsur berapa jaminannya,” kata Mirza Mochtar, Direktur Keuangan LPS, ketika ditemui di Jakarta, Kamis (16/4).

Mirza mengungkapkan kalau dalam tender yang sekarang ini sudah ada empat investor yang tertarik membeli Bank Mutiara. Keempatnya sudah mendaftar ke Danareksa, yang mengurusi pembelian tersebut.

“Sekarang sudah masuk empat investor yang menawar, tapi kita belum tahu detailnya. Itu nanti semuanya diproses Danareksa, bukan LPS, karena mereka juga masukinnya ke sana. Nanti Danareksa yang pre-publikasinya. Memang (investor) yang berminat itu harus mengajukan letter of interest kepada Danareksa. Lalu dia harus memasukkan dokumen-dokumen persyaratannya, sampai tanggal 15 Mei nanti batas waktunya,” ungkapnya.

Mirza mengakui bahwa LPS memang menginginkan Bank Mutiara bisa dijual di harganya semula Rp6,7 triliun. Mereka optimis bisa mencapai nilai itu. Karena apabila dijual setelah enam tahun maka harganya harus dikurangi.

“Kalau bisa malah dijual di atas Rp6,7 triliun. Kita masih optimis bisa mencapai itu, karena kan Bank Mutiara dibanding 2008 sudah lebih bagus, jadi prospek ke depannya juga bagus. Yang kedua, investor yang beli bank ini, sudah peraturan baru dari BI, di mana dia boleh menguasai 100% saham Bank Mutiara selama 20 tahun tanpa memperhatikan rating (kesehatan bank), dan ini berlaku untuk siapa saja,” tuturnya.

Namun, setelah 20 tahun itu baru akan dilihat tingkat kesehatannya. “Ini berdasarkan rating GCG, kalau misalnya rating-nya 3 ke atas, pemilik mayoritas harus divestasi sampai 40%. Kalau ada investor beli bank harus 40%, sedangkan Bank Mutiara boleh 100%. Selama 20 tahun, kalau dia rating-nya jelek ya dia harus divestasi juga,” jelasnya.

LPS juga lebih suka jika investor yang nantinya membeli Bank Mutiara itu adalah investor lokal. “Kita sama saja preferensinya investor lokal atau asing. Tapi lebih bagus kalau lokal ya. Tentunya semuanya harus mengikuti aturan regulator atau BI. Artinya nanti ada fit and proper kan pada pemenang tender. Kalau semua berjalan lancar, kita harapkan Oktober atau November sudah deal dan ada pengumumannya. Itu juga kalau kita agree atau cocok harga, misalnya yang sekarang Rp6,7 triliun, terus dia memenuhi kriteria dalam arti tidak ada hubungannya dengan pemilik lama,” tutupnya. [ria]

BERITA TERKAIT

Muamalat Raih 3 Penghargaan Sebagai Bank Swasta Publik Terbaik

      NERACA   Jakarta - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk meraih penghargaan dalam ajang Anugerah Perusahaan TBK Indonesia-V-2018.…

MUFG Bank Dinobatkan sebagai Best Internasional Bank

      NERACA   Jakarta - Entitas perbankan utama MUFG, MUFG Bank, Ltd. hari ini mengumumkan bahwa kantor cabangnya…

BUMN Harus Mampu Sebagai Jangkar Kinerja Ekspor

NERACA Jakarta – Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan kontribusi ekspor BUMN mencapai sekitar lima miliar dolar AS tahun ini. PT…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi NERACA Denpasar - Sebanyak 12 lembaga keuangan yang menghimpun dana masyarakat secara ilegal di…

BRI Fasilitasi Pengelolaan Keuangan Lion Air

      NERACA   Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk (BRI) memfasilitasi pengelolaan keuangan Lion Air Group…

Kesadaran Masyarakat dalam Perencanaan Dana Pensiun Masih Rendah

  NERACA   Surabaya - Manulife Indonesia menyebutkan kesadaran masyarakat Indonesia dalam perencanaan dana pensiun masih rendah, karena dari total…