“Bom Boston” Tak Pengaruhi Ekonomi Indonesia

NERACA

Jakarta - Tragedi \"bom marathon\" yang terjadi di Boston, Amerika Serikat (AS) pekan ini cukup menghentakkan perekonomian negeri Paman Sam itu. Namun, Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati mengungkapkan \"Bom Boston\" tidak berdampak besar terhadap perekonomian Indonesia. Pasalnya, nilai ekspor Indonesia ke AS tidak terlalu besar, bahkan bisa digantikan dengan diversifikasi pasar ke pasar yang lebih potensial ketimbang AS.

\"Ekspor Indonesia ke AS tidak terlalu besar. Jadi ada atau tidak adanya bom di AS tidak akan berpengaruh banyak terhadap ekonomi Indonesia,\" ujarnya kepada Neraca, Selasa (16/4). Dia menjelaskan mungkin saja ekonomi AS semakin melambat dengan kejadian bom di Boston. Sebab investor akan lebih memilih negara lain untuk dijadikan target investasinya.

Namun, kata dia, meledaknya bom sudah menjadi urusan politik negeri Paman Sam tersebut. \"Ini tergantung dari kebijakan pemerintah AS dalam menghadapi bencana. Semakin cepat selesai maka semakin baik buat ekonomi AS,\" terangnya. Terkait dengan menurunnya ekspor ke AS, Enny memandang sudah semestinya Indonesia mengalihkan ekspornya ke negara yang lebih potensial seperti Afrika ataupun Amerika Latin.

\"Dalam beberapa bulan terakhir, transaksi perdagangan Indonesia dengan Amerika Latin ataupun Afrika mengalami peningkatan. Ini perlu menjadi perhatian buat pemerintah untuk mengalihkan ke negara-negara tersebut,\" katanya.

Enny mencontohkan dengan negara Afrika yang kaya dengan minyak. Menurut dia, Indonesia mempunyai bergaining yang besar dihadapan negara-negara berkembang dibandingkan dengan negara maju seperti China ataupun AS.

“Indonesia mempunyai posisi tawar yang kuat untuk negara-negara berkembang. Misalnya dengan Afrika, kita bisa impor minyak mentah Afrika kemudian kita olah di Indonesia, dan Afrika harus menerima beberapa jenis pertanian Indonesia,\" jelasnya.

Enny menuturkan, daripada memikirkan dampak dari meledaknya bom di AS, kata Enny, lebih baik Indonesia memaksimalkan potensi konsumsi domestik dan investasi di dalam negeri. \"Pertumbuhan Indonesia tidak akan berpengaruh terhadap ekspor akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah memaksimalkan potensi domestik yang besar dan meningkatkan daya saing produk dalam negeri. Jangan sampai produk impor lebih banyak dari pada produk lokal. Karena, dengan konsumsi domestik yang tetap tumbuh, investasi yang meningkat dan produk-produk dalam negeri mempunyai daya saing maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap bagus,” ujarnya.

Sekadar informasi data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia dengan AS tergolong surplus dengan nilai mencapai US$1,227 miliar. Saat ini, AS menempati urutan ke-4 sebagai negara tujuan ekspor non migas. Urutan pertama tujuan ekspor masih ditempati oleh China, Jepang dan India.

Jangka Pendek

Potensi pasar ekspor nonmigas didominasi pada komoditas bahan makanan, karet, produk-produk furnitur dan dekorasi rumah. Di tempat terpisah, dosen FEUI Aris Yunanto mengatakan bahwa \"Bom Boston\" tidak akan berpengaruh signifikan terhadap pemulihan ekonomi global.

“Ledakan bom tidak berpengaruh signifikan terhadap pemulihan global yang diharapkan akan dapat memicu kembali pasar ekspor. Secara jangka pendek, ya. Tapi kondisi ini bisa menjadi blessing,” ujar Aris, kemarin.

Menurut dia, kejadian tersebut hanya untuk menyatakan bahwa kelompok separatis atau teroris masih eksis sehingga anggaran Pemerintah AS untuk terorisme kemungkinan besar akan diperbaiki di tahun depan.

Namun demikian, lanjut dia, tampaknya tidak akan ada alokasi khusus anggaran yang dialihkan Presiden Barack Husein Obama karena pemulihan kondisi negara tersebut telah diperhitungkan secara matang. Target pemulihan global, kata Aris, hanya akan sedikit bergeser dari rencana semula.

Akan tetapi, secara akumulasi atau tahunan adanya kejadian ini akan menekan Rezim Obama untuk menjaga ketahanan dan stabilitas perekonomiannya lebih baik lagi. “Dengan adanya kejadian ini di awal kuartal II 2013, antisipasi yang dilakukan Pemerintahan Obama semakin kuat,” ujarnya.

Hal itu berarti akan mendukung pencapaian rencana pemulihan global dan berdampak pada pasar ekspor. “Jika stabilitas dan kondisi makro mereka akan terjaga. Itu artinya akan mendorong kembali adanya permintaan dari negara-negara tujuan ekspor kita,” papar Aris. lia/bari/ardi

Related posts