Mandiri: Pertumbuhan Ekonomi Menurun di Semester I 2013

NERACA

Jakarta - PT Bank Mandiri Tbk memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2013 ini tidak akan sebaik pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2012. Selain itu, pertumbuhan kredit dan pendapatan dana murah juga sedikit melemah di triwulan I-2013.

Direktur Strategi dan Keuangan Bank Mandiri, Pahala Nugraha Mansury, mengatakan realisasi dana murah dan pertumbuhaan kredit pada triwulan I-2013 dan triwulan II-2013 tidak akan setinggi pertumbuhan kredit pada triwulan III-2012 dan triwulan IV-2012.

Hal ini terjadi disebabkan oleh kondisi ekonomi global yang belum pulih dan ada dampaknya kepada ekonomi Indonesia. “Triwulan I dan II 2013 ini mungkin tidak setinggi saat triwulan III dan IV 2012 lalu. Ini disebabkan nilai mata uang kita yang tertekan dan adanya hal-hal lain yang membuat ada pengaruhnya terhadap kredit dan dana murah”, kata Pahala, kemarin.

Menurut dia, pada semester I-2012 kredit Bank Mandiri tumbuh di level 24%, sementara diperkirakan kredit Bank Mandiri pada semester I-2013 akan berada di bawah level 24%. Pertumbuhan dana murah pun diprediksi akan berada dikondisi yang serupa. Namun, persero berharap agar secara full year ada kondisi yang membaik, baik kredit maupun dana murah.

“Memang masih akan ada pelemahan. Saya rasa ini ada pengaaruhnya juga dari harga komoditas yang belum pulih, pertumbuhan ekspor yang belum meningkat. Tapi, kita berharaap triwulan II-2013 dan triwulan berikutnya bisa lebih baik lagi dibandingkan triwulan I-2013″, jelasnya.

Sementara itu, Chief Economist Bank Mandiri, Destry Damayanti, mengungkapkan belum maksimalnya pemulihan ekonomi global juga berdampak pada kinerja industri perbankan. Bahkan, pada semester pertama ini akan sulit bagi bank tumbuh secara maksimal dikarenakan kondisi ekonomi global yang masih belum menunjukkan arah perbaikan.

Dia melihat pada semester pertama tahun ini akan sulit bagi ekonomi Indonesia tumbuh secara maksimal. Kondisi ekonomi global yang belum menentu membuat diantara penyebab utama ekonomi Indonesia belum melaju secara kencang.

“Kemarin ada data yang menunjukkan indikator ekonomi dunia justru menurun. Mungkin kondisi global sekarang menunjukkan bahwa kita tidak perlu terlalu berharap banyak”, kata Destry. Kendati ekonomi global tidak bisa diandalkan, namun Destry menilai, ada tiga negara yang menjadi penting bagi Indonesia sekarang ini, yakni China, India, dan Korea Selatan.

Negara ini, lanjut Destry, yang membuat perekonomian Indonesia mampu bertahan dengan baik, dari ketidakpastian ekonomi dunia. Oleh karena itu, Destry memandang perlu bagi pemerintah ikut serta menjaga ekonomi dari sisi internal.

“Masih banyak risk (risiko). Risk inflasi ada, risk neraca perdagangan juga ada. Kita tidak menyangka sebenarnya inflasi itu dari food. Padahal, diawal itu kita sudah hitung skenarionya, baik TDL, UMP, dan semacamnya. Namun, kita benar-benar tidak menyangka dari food. Kita berharap pemerintah bisa cepat tanggap untung mengatas food inflation itu”, tegas dia. [ardi]

Related posts