PDB Meningkat Dorong Pertumbuhan Asuransi Jiwa Syariah

NERACA

Jakarta - Sun Life Financial Indonesia (SLFI) menilai bahwa produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang diperkirakan meningkat enam persen memicu pertumbuhan kelas menengah sehingga mendorong produk asuransi jiwa terutama syariah berkembang. Country Manager Sun Life Financial Indonesia, Bert Paterson, mengatakan PDB Indonesia yang tumbuh 6,2% pada 2010 dan 6,5% pada 2011 dan diperkirakan berada di atas enam persen untuk tahun mendatang merupakan potensi bagi industri untuk menambah jumlah nasabah.

\"Pasar asuransi jiwa syariah di Indonesia, seperti halnya pasar asuransi tradisional saat ini tengah mengalami pertumbuhan yang pesat, akan tetapi tingkat penetrasi masih sangat rendah dan industri asuransi jiwa syariah masih berada dalam tahap awal untuk dapat ambil bagian di domestik,\" ujar Bert di Jakarta, Selasa (16/4).

Dia mengatakan, potensi jumlah nasabah yang mampu membeli produk asuransi jiwa Syariah akan semakin besar, kemungkinan dapat mencapai 80 juta nasabah. Menurut Bert, ada beberapa tantangan bagi industri yang harus dihadapi ketika menyasar nasabah di luar kota metropolitan yakni mahalnya mitra distribusi.

\"Namun, studi global tentang penggunaan media sosial menunjukan bahwa masyarakat Indonesia merupakan early adapter dan hampir menjadi pengguna terbanyak di dunia. Kami berharap akan ada model distribusi yang inovatif yang akan dikembangkan,\" paparnya.

Dia mengharapkan, pasar keuangan terutama syariah berkembang lebih cepat. Jika tidak, maka perusahaan harus belajar untuk menjalankan bisnisnya dengan ketidaksesuaian liabilitas aset dan risiko keuangan yang ditimbulkan.

\"Akibat kurang tersedianya instrumen finansial yang sesuai di kebanyakn pasar, maka sebaiknya pemerintah dan regulator menghapus pembatasan terhadap instrumen investasi asing,\" ungkap Bert. Jika pembatasan itu ditunda, menurut dia, pasar keuangan syariah di Indonesia menjadi lebih dalam dan luas sehingga perusahaan bisa mempunyai lebih banyak keleluasaan untuk berinovasi dan selanjutnya memenuhi kebutuhan kelompok calon nasabah yang lebih luas.

Bert Paterson juga mengakui untuk melakukan hal tersebut pastilah membutuhkan banyak biaya. Namun menurut dia, ada cara lain agar distribusi menjadi lebih efektif. Asuransi syariah, tambah dia, dapat menggunakan media sosial secara konsisten. \"Mudah-mudahan kita dapat melihat beberapa model distribusi yang inovatif dan berkembang,\" ujarnya.

Dia pun menyebut inovasi produk saja tidaklah cukup. Pasar keuangan syariah perlu ritme pengembangan lebih cepat sehingga dapat. mendukung inovasi produk. \"Jika hal ini tidak terjadi, perusahaan akan mengalami ketidaksesuaian kewajiban aset dan risiko keuangan,\" ungkapnya. Berdasarkan laporan terbaru Swiss Re Sigma, penetrasi asuransi yang diukur sebagai premi dari PDB hanya 1,1% pada 2011. Tingkat penetrasi asuransi syariah bahkan hampir terabaikan.[ardi]

Related posts