Pasokan Terbatas, Investasi Properti Tetap Kinclong

NERACA

Jakarta- Gairah pasar properti dan investasi di sektor tersebut dinilai akan terus berlanjut di tahun ini. Pasalnya, pasokan yang ada belum dapat memenuhi permintaan pasar yang cukup tinggi, baik dari segmen perkantoran maupun hunian. Emiten-emiten properti yang memiliki landbank yang masih luas dinilai memiliki peluang yang cukup besar untuk meraup untung dari adanya pertumbuhan ini. “Asing umumnya membeli aset yang sudah jadi, tapi stocknya terbatas sehingga bisa jadi peluang bagi emiten yang memiliki landbank luas.” kata Executive Director Cushman & Wakefield, Handa Sulaiman di Jakarta, Selasa (16/4).

Pihaknya mencatat, dari hasil riset yang dilakukan PT Cushman & Wakefield, Tangerang Selatan merupakan kawasan favorit, kemudian diikuti Bekasi dan Sentul. Perusahaan yang memiliki landbank yang luas, seperti Ciputra, maupun Alam Sutera akan memiliki peluang yang cukup besar untuk melakukan pengembangan. Sementara untuk investasi individu, kata dia, dengan melihat pergerakan harga emas yang terus mengalami penurunan, investasi di bidang properti ini terbilang cukup menjanjikan.

Senior Associate Director Research & Advisory Arief Rahardjo mengatakan, dari total volume transaksi pada 2013, kontributor terbesar dari jumlah transaksi properti untuk hunian tercatat berasal dari wilayah Tangerang oleh Alam Sutera, kemudian Summarecon Serpong, Paramount Serpong, dan BSD City. “Fenomena Alam Sutera dengan akses langsung jalan bebas hambatan sangat mempengaruhi keputusan calon konsumen dalam membeli rumah. Begitupula dengan Bekasi.” ujarnya.

Dia menilai, pasca masuknya Summarecon, pergerakan transaksi di kota ini sangat aktif dan progresif. sehingga dalam satu bulan, transaksi yang terbukukan mencapai 30-40 unit. Dari wilayah Tangerang, kemudian beralih ke Bekasi dan Sentul. Hal ini disebabkan oleh pergerakan harga tanah di wilayah Tangerang mengalami kenaikan signifikan seiring dengan adanya pembangunan infrastruktur atau aksesibilitas menuju beberapa distrik perumahan, seperti Alam Sutera, Bintaro Jaya, dan BSD City.

Transaksi Jual

Wilayah Tangerang, lanjut dia, mencatatkan penyerapan nilai penjualan tertinggi sebanyak Rp75,2 miliar, meskipun angka tersebut Rp6 miliar lebih rendah dibandingkan pada semester pertama 2012 namun masih Rp16,1 miliar di atas angka tahun lalu. Sementara apabila dibandingkan dengan kinerja pada semester pertama 2012, Bekasi merupakan area yang mengalami pertumbuhan positif sebesar 4,2% mencatat nilai rata-rata penjualan per bulan menjadi Rp37,6 miliar.

“Dalam dua semester terakhir ini, pertumbuhan permintaan selalu lebih tinggi daripada pertumbuhan pasokan sehingga tingkat penjualan selalu tumbuh positif di seluruh area, baik dalam basis tahunan maupun semester.” paparnya.

Pihaknya mencatat, dominasi transaksi unit segmen atas pada semester pertama 2012 diambil alih oleh segmen menengah atas pada semester dua 2012 dengan proporsi 28% dari keseluruhan transaksi. Berdasarkan area, unit rumah segmen menengah atas pun merupakan unit yang paling banyak terjual di Bekasi, sebanyak 38%. “Unit yang paling diminati pada segmen ini berkisar dari Rp1,4 miliar hingga Rp1,8 miliar dengan ukuran 112 meter per segi hingga 148 meter per segi.” ucapnya.

Perumahan segmen atas mengambil porsi 27% dengan dominasi transaksi di Jakarta dan Tangerang, masing-masing sebesar 52% dan 39%. Sementara transaksi penjualan di Bogor-Depok didominasi oleh segmen menengah bawah dan bawah sebesar 31% dan 30%.

Related posts