Kuartal I, Penjualan BUMI Turun Jadi Rp 13 Triliun - Dampak Turunnya Harga Komoditas

NERACA

Jakarta – Anjloknya harga komoditas disektor tambang makin memperburuk performance kinerja keuangan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) selain beban utang bejibun yang ditanggung perseroan.

Direktur Bumi Dileep Srivastava mengatakan, PT Bumi Resources Tbk memperkirakan nilai penjualan batu bara selama kuartal I- 2013 mencapai US$ 1,3 miliar atau sekitar Rp 13 triliun), turun 11% dibanding periode sama tahun lalu sebesar US$ 1,46 miliar, “Penurunan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) batu bara menjadi US$ 73 per ton dari sebelumnya US$ 92,7 per ton menjadi pemicunya,”katanya di Jakarta, Selasa(16/4).

Perusahaan batu bara termal terbesar nasional itu mencetak kenaikan volume penjualan sebesar 20,6 persen menjadi 19,1 juta ton dari 15,8 juta ton. Adapun produksi tercatat melonjak 23,7% menjadi 19,7 juta ton dari 15,9 juta ton.

Menurutnya, penurunan produksi dinilai wajar karena pada produksi kuartal I biasanya rendah, seiring tingginya curah hujan. Namun, tahun ini, perseroan mengklaim berhasil mencetak rekor produksi kuartal I tertinggi sepanjang sejarah perseroan.

Dileep menegaskan, stok batu bara perseroan juga cukup tinggi, yakni sebesar 5,5 juta ton. Hal itu mampu menopang volume penjualan. Menurut dia, fokus perseroan saat ini adalah memperbaiki kinerja operasional. Caranya dengan memperbaiki logistik, efisiensi, dan menekan biaya serta belanja modal (capital expenditure/capex). Efisiensi biaya, kata dia, terlihat dari penurunan nisbah kupas (strip ratio) menjadi 9,5 kali dari sebelumnya 10,8 kali.

Sementara target hingga akhir tahun ini, Dileep menjelaskan, volume penjualan berpotensi mencapai 76 juta ton, naik 11,7 persen dibanding 2012 sebesar 68 juta ton. Sementara ASP ditargetkan mencapai 73 per ton, turun dibanding tahun lalu sebesar US$ 81,5 per ton.

Merujuk angka itu, nilai penjualan Bumi bisa menyentuh US$ 5,7 miliar tahun ini, dibanding 2012 sebesar US$ 5,5 miliar. “Angka-angka itu bisa dicapai, jika permintaan batu bara di China meningkat. Yang pasti, kapasitas produksi perseroan cukup untuk mengantisipasi lonjakan permintaan,” tegas Dileep.

Bumi Resources membukukan rugi bersih sebesar US$ 666 juta selama 2012. Pada 2011, anak usaha Bumi Plc itu meraih laba bersih sebesar US$ 216 juta. Sebagai informasi, BUMI berniat menjual tiga anak usahanya, yaitu PT Bumi Resources Minerals (BRMS), PT Fajar Bumi Sakti (FBS), dan PT Pendopo Energi Batubara (PEB). Dana hasil penjualan tiga perusahaan itu akan digunakan untuk membayar utang yang jatuh tempo tahun ini. (bani)

BERITA TERKAIT

Niaga Komoditas - Indonesia Berpotensi Membawa Kebijakan Sawit Uni Eropa ke WTO

NERACA Jakarta – Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa pihaknya berpotensi untuk membawa kebijakan diskriminatif terhadap minyak kelapa sawit yang dikeluarkan oleh…

Bukukan Penjualan Rp 106,74 Triliun - Porelahan Margin HM Sampoerna Makin Tebal

NERACA Jakarta – Di tahun 2018, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) mencatatkan penjualan bersih Rp106,74 triliun atau naik 7,72% pada…

Harga Tiket Pesawat Mahal Bikin Pariwisata Bangka Belitung Meredup

Harga Tiket Pesawat Mahal Bikin Pariwisata Bangka Belitung Meredup NERACA Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) belum lama ini mengunjungi…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Pembangunan Jaya Ancol Tumbuh 1,4%

PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) membukukan laba tahun 2018 sebesar Rp223 miliar atau tumbuh 1,4% dibandingkan dengan periode yang…

Laba Bersih Indocement Menyusut 38,3%

NERACA Jakarta – Pasar semen dalam negeri sepanjang tahun 2018 mengalami kelebihan pasokan, kondisi ini berdampak pada performance kinerja keuangan…

Pacu Pertumbuhan Investor di Sumbar - BEI dan OJK Edukasi Pasar Modal Ke Media

NERACA Padang - Dalam rangka sosialisasi dan edukasi pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Padang bekerja sama dengan…