Penerbangan Murah Berpotensi Abaikan Hak Konsumen

NERACA

Jakarta - Direktur Jenderal Standarisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan Nus Nuzulia Ishak menilai industri penerbangan yang memilih strategi Low Cost Carrier (LCC) atau penerbangan dengan tarif rendah berpotensi mengabaikan hak-hak, kenyamanan, keselamatan dan keamanan bagi konsumen.

Menurut dia, dalam regulasi penerbangan Indonesia, lantaran menerapkan biaya tarif yang lebih murah maka mulai marak bermunculan perusahaan penerbangan dengan tarif rendah disertai mengurangi layanan. \"LCC ini sering juga disebut budget airlines. Mereka melakukan eliminasi dengan cara mengurangi layanan-layanan seperti katering, dan juga menggunakan pembelian tiket online. Meski demikian, harusnya keamanan tetap menjadi faktor utama dalam penerbangan di LCC,\" kata Nus di Jakarta, Selasa (16/4).

Menurut Nus, persaingan yang ketat antar maskapai penerbangan membuat mereka berfikir keras untuk menekan biaya sehingga dapat menjual tiket dengan harga paling murah. Akibatnya, lanjut Nus, seringkali kualitas yang diberikan rendah, sehingga memunculkan potensi terabaikannya hak-hak konsumen, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan.

Padahal, lanjut dia, hak-hak konsumen seperti kenyamanan, keamanan, dan keselamatan tersebut sebenarnya sudah diatur dalam pasal 4 Undang-Undang (UU) Perlindungan Konsumen. Selain itu, Kementerian Perhubungan juga memiliki regulasi yang mengatur jasa penerbangan ini. \"Namun, meski ada UU, tidak serta merta masalah konsumen penerbangan selesai,\" lanjut Nus.

Konsumen jasa penerbangan sejauh ini masih mengalami banyak permasalahan mulai dari keterlambatan, meski kompensasi telah diatur Kemenhub. Hal lain seperti kehilangan barang dan bagasi penumpang, serta kehilangan uang tiket, saat maskapai mengalami pailit. Adapula permasalahan di bidang penerbangan yang masih sering dialami konsumen antara lain harga tiket yang fluktuatif. Kemudian pelayanan check-in yang lama karena antrian panjang, fasilitas di ruang tunggu bandara yang kurang memadai, keterlambatan jadwal penerbangan.

Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Emirsyah Satar mengatakan kompetisi di industri penerbangan bertarif rendah akan terus bergeliat. \"Dengan perekonomian Indonesia yang terus tumbuh, permintaan masyarakat untuk terbang juga semakin meningkat, dan trennya juga terjadi pada penerbangan LCC,\" kata Emirsyah. Ia memprediksikan pasar penerbangan LCC akan bertumbuh 20% pada tahun depan.

Sekjen INACA Tengku Burhanuddin mengatakan pangsa pasar penerbangan LCC di Tanah Air menguasai 70% dari total penumpang udara saat ini. Menurut Tengku, maskapai lokal seperti Citilink dinilainya sudah semakin terlihat lebih agresif dengan didukung Garuda Indonesia sebagai induk perusahaannya. \"Dengan Citilink semakin agresif menambah armada dan kapasitas, akan bagus untuk persaingan LCC, karena selain bagus untuk harga, juga untuk kualitas yang diharapkan semakin baik. Diharapkan maskapai lain juga membuat terobosan dengan mendatangkan pesawat-pesawat baru sehingga akan terus memacu persaingan di pasar LCC,\" ucap Tengku.

Butuh Banyak Pesawat

Sementara itu, pemain terbesar di kelas LCC di Indonesia adalah maskapai Lion Air, sebagai pioner penerbangan LCC di Indonesia. Maskapai ini memiliki rute yang sangat menggurita di Indonesia. Sebagai contoh, untuk rute dari Jakarta ke Medan, maskapai ini terbang hingga 18 kali per hari.

Untuk memperkuat posisinya, Lion Air membeli 230 pesawat Boeing 737 dari pabrikan asal Amerika Serikat (AS), The Boeing Company. Pengiriman pesawat-pesawat itu dimulai pada 2017 dan berakhir pada 2025. Bahkan maskapai ini juga membeli lima pesawat Boeing 787 Dreamliner, pesawat dengan bodi superjumbo, yang di Indonesia belum ada maskapai yang memilikinya.

Presiden Direktur Lion Air Rusdi Kirana mengatakan pasar penerbangan domestik masih butuh banyak pesawat, setidaknya hingga 1.000 unit, mengingat Indonesia negara kepulauan, sedangkan dari sisi jumlah pesawat masih kalah dengan India, China, bahkan Singapura. \"Dengan adanya penambahan rute dan penambahan jumlah pesawat, kami targetkan pangsa pasar menjadi 60% pada dua atau tiga tahun ke depan. Saat ini kami menguasai 49-51% pasar penerbangan domestik,\" tuturnya.

Untuk mengejar pangsa pasar hingga 60% tersebut, lanjutnya, pihaknya akan mendatangkan sejumlah pesawat secara bertahap. Pada tahun ini akan datang 24 unit pesawat Boeing 737-900 ER, tiga unit jenis propeler, 12 ATR, sehingga hingga akhir 2012 ditarget jumlah armada menjadi 108 unit. Pada tahun depan akan mendatangkan 36 pesawat Boeing lagi.

Kendati ceruk pasar penerbangan LCC besar, potensi tersebut belum diimbangi dengan ketersediaan infrastruktur bandara. Sementara jumlah penumpang pesawat sudah dua kali lipat dari kapasitas tampungnya. Belum lagi layanan di bandara yang dinilai belum efisien untuk mendukung penerbangan bertarif murah.

Related posts