LPS Keukeuh di Posisi 5,5% - Sejalan dengan Pertumbuhan Ekonomi

NERACA

Jakarta - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memutuskan tetap mempertahankan tingkat suku bunga penjaminan di bank umum untuk simpanan dalam mata uang rupiah sebesar 5,5% dan dalam bentuk valuta asing (valas) sebesar satu persen. Sementara suku bunga penjaminan atas simpanan masyarakat di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) juga bertahan di level delapan persen.

Direktur Penjaminan dan Manajemen Risiko LPS, Salusra Satria, menyatakan tingkat bunga penjaminan periode 15 Maret hingga 14 Mei 2013 masih sejalan dengan kondisi perekonomian dan perbankan. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi LPS untuk mempertahankan tingkat suku bunga penjaminan di periode tersebut.

“Kami menilai kinerja perekonomian domestik yang meskipun berpotensi menghadapi risiko inflasi namun relatif masih dalam kondisi yang stabil. Ini terlihat dari realisasi inflasi inti tahun ke tahun turun. Dari 4,29% pada Februari 2013 ke level 4,21% di bulan Maret 2013,” terang Salusra, melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (15/4).

Lebih lanjut dia mengatakan, realisasi inflasi inti ini masih berada pada rentang target Bank Indonesia (BI) sebesar 4,5%+ 1%. Selain itu, kata Salusra, kondisi likuiditas perbankan masih cukup tinggi. Hal ini terlihat dari posisi alat likuid perbankan yang dilihat dari tagihan bank umum kepada BI, yaitu sebesar Rp764,46 triliun (23,84% terhadap total dana pihak ketiga/DPK) pada Februari 2013 berada di atas rata-rata selama selama tahun 2012, yakni sebesar Rp750,29 triliun (25,37% terhadap total DPK).

Di samping itu, suku bunga indikasi penawaran dalam transaksi pasar uang antarbank (PUAB), yaitu Jakarta Interbank Offered Rate (Jibor) Overnight satu minggu dan satu bulan stabil pada kisaran 4,18% sampai 4,6% pada akhir Maret 2013. Pertimbangan lain LPS mempertahankan tingkat bunga penjaminan adalah biaya dana rata-rata tertimbang perbankan juga menunjukkan tren menurun dari 3,92% pada Januari 2013 menjadi 3,78% pada Februari 2013.

Sesuai ketentuan LPS, apabila tingkat bunga simpanan yang diperjanjikan antara bank dan nasabah penyimpan melebihi tingkat bunga, maka simpanan tersebut menjadi tidak dijamin. Sebelumnya, BI mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di angka 5,75%. Tingkat BI Rate tersebut dinilai masih konsisten dengan sasaran inflasi tahun 2013 dan 2014 yang sudah ditetapkan BI sebesar 4,5% plus minus 1%.

Selain itu, bank sentral memperkirakan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah, yakni menjadi 6,2%-6,6%, dari yang sebelumnya 6,3%-6,8%. Pada triwulan kedua 2013 mendatang pertumbuhan ekonomi diperkirakan tidak jauh berbeda dari triwulan satu ini yang sebesar 6,2%.

“Mengenai diturunkannya target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebetulnya kita menggambarkan bahwa pertumbuhan dan investasi di sektor bangunan masih tetap tinggi dan yang (investasi) non bangunan melambat. Ditambah belum pulihnya perekonomian dunia sehingga tidak banyak diharapkan tarikan dari ekspor,” ujar Gubernur BI, Darmin Nasution, belum lama ini.

Sedangkan di 2014, BI juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi lebih rendah, yakni hanya di kisaran 6,6%-7,0%, dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya yang berada di angka 6,7%-7,2%. Sementara, inflasi inti (core inflation) ada di angka 4,21% (yoy) yang sejalan dengan ekspektasi inflasi masyarakat yang masih terjaga, dan kapasitas produksi yang masih memadai karena pemerintah sudah melakukan langkah-langkah untuk mengatasi gangguan pasokan bahan pangan dan datangnya musim panen.

“Core inflation tersebut hampir persis sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Padahal kenyataannya, inflasi adalah perubahan harga-harga secara umum, bukan hanya karena tiga macam (harga komoditas itu saja). Jadi inflasi akan kembali normal dalam tiga bulan ke depan. Sampai akhir tahun nanti inflasi masih akan tetap dalam target yang sudah kami tetapkan,” ungkapnya. [ardi]

Related posts