Bahana Raup Peluang IPO Rp 7 Triliun - Sentimen Positif

NERACA

Jakarta- PT Bahana Securities mengaku telah menerima mandat sebagai penjamin pelaksana emisi untuk tujuh perusahaan yang akan melaksanakan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO). Total nilai emisi untuk ketujuh perusahaan tersebut, yaitu sekitar Rp7 triliun.

Direktur Utama PT Bahana Securities, Eko Yuliantoro mengatakan, selain menangani IPO PT Austindo Nusantara Jaya Tbk, pihaknya juga akan menangani tiga perusahaan lainnya yang telah melakukan pemaparan terbatas kepada PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Untuk Austindo sendiri, sebagai salah satu perusahaan yang mendapatkan kontrak pendahuluan memiliki nilai emisi sekitar Rp1,12 triliun-Rp1,69 triliun.

Sementara untuk tiga perusahaan lainnya, lanjut dia, berasal dari sektor manufaktur dan perbankan. Masing-masing perusahaan diperkirakan memiliki nilai emisi sekitar Rp1 triliun-Rp1,5 triliun. “Tiga lagi dari manufaktur dan keuangan, dana yang diincar untuk sektor manufaktur berkisar antara Rp1,5 triliun. Sedang untuk sektor keuangan itu nilainya berada di atas 1 triliun,” ucapnya di Jakarta, Senin (15/4).

Menurutnya, untuk mandat pelaksanaan IPO dua perusahaan sektor manufaktur tersebut pihaknya akan bekerja sama dengan perusahaan efek domestik lainnya. Adapun untuk perusahaan di sektor jasa keuangan, perusahaan merupakan penjamin emisi domestik yang bekerja sama dengan perusahaan efek asing.

Selain itu, pihaknya juga telah menerima mandat dari tiga perusahaan lainnya yang akan melaksanakan penawaran umum saham perdana di tahun ini. Namun sayangnya, Eko tidak mau menyebutkan secara detail terkait perusahaan tersebut dan porsi pelepasan sahamnya. “Masih terlalu awal, nanti saja,” ujarnya.

Meski demikian, Eko menyebutkan, di antara perusahaan tersebut ada pula PT Semen Baturaja (Persero) yang merupakan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berencana melepas kepemilikan sahamnya sebesar 35% ke publik pada kuartal kedua ini. BEI pun sebelumnya mengaku telah menerima dokumen pernyataan pendaftaran dari perusahaan BUMN ini sejak akhir Maret 2013.

Pasar Masih Positif

Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan sebelumnya mengatakan, pasar saham Indonesia dalam posisi sangat positif, dimana demand asing terus bertambah pada kisaran belasan triliun. Hal tersebut didukung oleh kondisi fundamental Indonesia, di samping belum pulihnya pasar dan situasi ekonomi di Amerika dan Eropa.

Bahkan dia memproyeksikan aksi beli bersih (net buy) asing diperkirakan melebihi Rp 40 triliun pada akhir tahun ini. Selain itu, kinerja sektor pertambangan juga menunjukkan adanya tanda-tanda perbaikan. Menurutnya, faktor politis tidak akan berpengaruh signifikan terhadap kondisi pasar saham. “Investor kita sudah sangat rasional saat ini. Apa yang terjadi dalam praktik politik praktis tidak banyak mempengaruhi pasar, “ ujarnya.

Berbeda dengan Haryajid, Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang mengatakan, prospek IPO pada tahun ini, utamanya pada semester kedua 2013 akan terpangaruh adanya sentimen politis. Namun, pada semester pertama dinilai menjadi masa bulan madu bagi pasar saham. “Di semester kedua akan mulai beranjak volatile dikarenakan mendekati momentum pemilu. Investor asing di semester kedua sudah mulai mengerem, terlebih di 2014 di mana kondisinya sama dengan 2004 di mana kita tidak dapat memprediksikan siapa pemimpinnya. Ini membuat market suatu volatilitas yang tinggi.” jelasnya. (lia)

Related posts