Grup Bakrie Akui Soal Gadai Saham Bumi Mineral

NERACA

Jakarta – Sikap berkelit Grup Bakrie soal gadai saham PT Bumi Mineral Resources Tbk (BRMS) akhirnya terbuka juga setelah mengakui telah melalukan aksi korporasi tersebut.

Corporate Secretary BRMS Muhammad Sulthon mengatakan, registrasi oleh Bumi Armada Engineering (BAE) hanya dilakukan atas saham-saham perseroan yang dimiliki oleh BUMI, serta terintegrasi secara langsung atas nama BUMI, “Saham itu tereintegrasi secara langsung atas nama BUMI, yang dimiliki BUMI, serta diperjanjikan oleh BUMI dengan pihak ketiga, di mana kepemilikan dan kendali tetap ada pada BUMI,\"katanya dalam siaran persnya di Jakarta kemarin.

Menurutnya, perbedaan registrasi kepemilikan saham, terjadi karena registrasi yang dilakukan oleh BUMI, dilakukan atas saham-saham perseroan yang dimiliki oleh BUMI. Adapun saham-saham yang terintegrasi atas nama pihak ketiga yang dimiliki oleh BUMI, tidak dapat dicatat oleh sistem registrasi BAE sebagai saham milik BUMI.

Sebelumnya, Biro Administrasi Efek PT Sinartama Gunita dalam keterbukaan informasi di BEI mengatakan, pada 28 Februari lalu, kepemilikan saham BRMS telah berubah.

Saat ini, kepemilikan BUMI di BRMS menyusut menjadi 11,54 miliar lembar saham, atau setara dengan 45,13%. Sementara perusahaan berafiliasi Bakrie lainnya, Long Haul Indonesia, tercatat menguasai 3,27 miliar lembar saham BRMS, atau setara dengan 12,8%.

Padahal sebelumnya, pada Rabu 27 Februari lalu, Direktur & Corporate Secretary Bumi Resources Dileep Srivastava menyatakan pihaknya tidak melakukan penjualan saham BRMS. Alhasil, saat itu, kepemilikan BUMI di BRMS pun masih sebesar 87,09%.

Dileep menambahkan, tidak memiliki perubahan atas rencana pengurangan utangnya, “Kami sampaikan juga bahwa tidak ada perubahan terhadap rencana strategis perseroan untuk mengurangi utang dengan cara memonetisasi aset wajar,\"ujarnya.

Sekadar informasi, pada akhir September 2012, Bumi Resources memiliki utang sebesar US$3,79 miliar atau setara dengan Rp36,38 triliun (dengan kurs Rp9.600 per dolar AS). Utang tersebut paling lama akan jatuh tempo pada 2017.

Utang tersebut terdiri dari utang jatuh tempo BUMI pada 2012 sebesar US$ 17 juta dan US$ 254,5 juta di 2013. Selain itu, BUMI juga memiliki utang US$ 1,23 miliar di 2014, sebesar US$1,062 miliar pada 2015, sebanyak US$ 530 juta pada 2016, dan US$ 700 juta pada 2017. (bani)

BERITA TERKAIT

BNI Belum Putuskan Soal Kerjasama WeChat dan Alipay

    NERACA   Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (BNI) masih belum menentukan keberlanjutan kerja sama dengan dua perusahaan…

Harga Saham Melorot Tajam - Saham Cottonindo Masuk Pengawasan BEI

NERACA Jakarta - Perdagangan saham PT Cottonindo Ariesta Tbk (KPAS) masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) karena mengalami…

Kuras Kocek Rp 460,38 Miliar - TBIG Realisasikan Buyback 96,21 Juta Saham

NERACA Jakarta - Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) telah membeli kembali atau buyback saham dari…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tiga Anak Usaha BUMN Bakal IPO di 2019

Menyadari masih sedikitnya perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang go public atau tercatat di pasar modal, mendorong Kementerian Badan…

Impack Pratama Beri Pinjaman Anak Usaha

Dukung pengembangan bisnis anak usaha, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) melakukan perjanjian hutang piutang dengan anak usahanya PT Impack…

Layani Pasien BPJS Kesehatan - Siloam Tambah Tujuh Rumah Sakit Baru

NERACA Jakarta – Tidak hanya sekedar mencari bisnis semata di industri health care, PT Siloam International Hospital Tbk (SILO) terus…