Blok Sebuku Bakal Semburkan Gas Mulai Oktober

Rencana Produksi 100 Juta Kaki Kubik Per Hari

Rabu, 17/04/2013

NERACA

Jakarta - Lapangan Ruby, Blok Sebuku dengan operator Pearl Oil (Sebuku) Ltd, direncanakan mulai produksi gas bumi sebesar 100 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) pada Oktober 2013. “Saat ini proses pengembangan proyek sudah lebih dari 83%,” kata Kepala Divisi Manajemen Proyek dan Pemeliharaan Fasilitas, Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Rudianto Rimbono di Jakarta, Senin (15/4).

Dia mengatakan, salah satu milestone yang telah dicapai adalah terlaksananya loadout Wellhead Platform (WHP)Jacket yang dilakukan di yard kontraktor di Batam ke barge PT.Saipem Indonesia pada pertengahan Maret lalu. Pekerjaan ini lebih cepat dari yang direncanakan. Tahap selanjutnya, saat ini tengah dilakukan loadout Process and Quarters Platform (PQP) Jacket. “Selanjutnya dilakukan instalasi di Lapangan Ruby,” katanya.

Baca juga: Produksi Kertas RI Bakal Mampu Setara Brazil - Dunia Usaha

Rudianto menjelaskan, Lapangan Ruby di design untuk memproduksikan gas sekitar 214 miliar kaki kubik (BCF) selama 10 tahun. Laju produksi tertinggi hingga 100 MMSCFD akan berlangsung selama empat tahun. Produksi berasal dari enam sumur pengembangan dari Formasi Berai.

Konsep pengambangan lapangan adalah pembangunan sistem proses terintegrasi yang terdiri dari enam slot WHP yang terhubung dengan jembatan ke PQP yang terletak di laut dengan kedalaman 60 meter.

Gas dan kondensat yang sudah diproses untuk memenuhi spesifikasi penjualan, dikirim melalui pipa diameter 14 inci sepanjang 312 km ke Terminal Senipah, Kulai Kartenegara, Kalimantan Timur (Kaltim), yang dioperasikan Total E&P Indonesie. Gas kemudian disalurkan ke PT. Pupuk Kaltim melalui jalur pipa sIstem gas Kaltim. “Seluruh gas Lapangan Ruby diperuntukkan untuk kebutuhan domestik, yakni pabrik pupuk untuk mendukung ketahanan pangan,” kata Rudianto.

Baca juga: PT. MLS Akan Bangun Pabrik Selang Kompor Gas - Manfaatkan Bahan Baku Lokal

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah menetapkan alokasi gas untuk kebutuhan unit penyimpanan dan regasifikasi terapung (floating storage and regasification unit/FSRU) di dalam negeri mulai 2013 sampai 2025. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik mengatakan telah melakukan negosiasi dengan para investor untuk meningkatkan pasokan gas di dalam negeri. "Alokasi gas domestik ini alot karena jawaban investor biasanya kontrak sudah begini. Tapi saya bilang kontrak masih bisa diubah, yang tidak boleh diubah hanya kitab suci," kata Wacik.

Baca juga: Pabrik Smelter Nikel di Sulteng Mulai Beroperasi - Tingkatkan Nilai Tambah Produk Primer

Beberapa sumber alokasi gas ini adalah LNG Tangguh, Papua, Blok Muara Bakau yang dioperasikan ENI, dan Indonesia Deepwater Development yang dioperasikan Chevron. Pasokan dari LNG Tangguh mulai diberikan sejak 2012 yaitu pengalihan alokasi ekspor ke Sempra, Amerika Serikat sebanyak 20 kargo. "Ini yang semula 100 persen diekspor, pada 2012 untuk pertama kalinya diberikan untuk domestik," kata Wacik.

Sementara itu Train 3 LNG Tangguh yang akan mulai berproduksi pada 2018 sebanyak 40 persen akan dialokasikan untuk dalam negeri. Sementara produksi gas dari Lapangan Jangkrik dan North East Jangkrik di Blok Muara Bakau akan memasok kebutuhan dalam negeri mulai 2016. "Dari ENI Jangkrik untuk dalam negeri 14 kargo pada 2016, untuk 2017 sampai 2022 sebanyak 18 kargo, kemudian turun pada 2023 menjadi 7 kargo dan pada 2024 sampai 2025 turun lagi menjadi 4 kargo," kata Jero.

Baca juga: Industri Keramik Diprediksi Bakal Terus Mengkilap - Ketersediaan Bahan Baku dan Energi Mencukupi

Adapun dari proyek IDD di Selat Makassar akan memasok 50 kargo LNG pada 2017 hingga 2019. Namun pasokan akan turun menjadi 30 kargo pada 2020 sampai 2021, kemudian turun lagi menjadi 16 kargo pada 2022 dan turun lagi menjadi 10 kargo pada 2023.

Alokasi Pasokan

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi Edy Hermantoro menjelaskan pasokan gas ini akan dialokasikan untuk FSRU Jawa Barat, FSRU Jawa Tengah, FSRU Lampung, FSRU Banten dan terminal penerima LNG dan regasifikasi Arun, Aceh. Edy mengatkan FSRU Jawa Barat akan mendapat 27 kargo mulai 2013. "Nusantara Regas (pemilik FSRU Jawa Barat) mendapat 27 kargo pada 2013 sampai 2027. Sekarang ini dari Bontang, selanjutnya dari Tangguh," kata Edy.

Baca juga: KKP Ajak Pembudidaya Mulai Serius Garap Mariculture - Ikhtiar Menuju Poros Maritim Dunia

Sementara itu FSRU Jawa Tengah, FSRU Banten dan terminal penerima LNG dan regasifikasi Arun mulai mendapat alokasi gas di 2015. Edy menjelaskan untuk Arun pada tahap awal akan mendapat pasokan 8 kargo, kemudian pada 2016 meningkat menjadi 16 kargo hingga 2025.

FSRU Jawa Tengah pada 2015 mendapat alokasi 6 kargo, pada 2016 hingga 2018 meningkat menjadi 16 kargo. Pada 2019 hingga 2022 akan mendapat 33 kargo, kemudian turun menjadi 16 kargo pada 2023 dan turun lagi menjadi 8 kargo pada 2024 dan 2025.

Baca juga: Insinyur Muda Dikabarkan Bakal Dapat Insentif Tunai - Ketenagakerjaan

FSRU Jawa Tengah mulai 2015 pertama kali mendapatkan 6 kargo, kemudian tiga tahun berikutanya 16 kargo (2016-2018). Pada 2019 mendapatkan 22 kargo sampai 4 tahun, 2023 sebanyak 16 kargo, 2024-2025 sebanyak 8 kargo. FSRU Banten mulai mendapat gas sebanyak 6 kargo pada 2015, kemudian bertambah menjadi 16 kargo pada 2016 sampai 2022, dan pada 2023 mendapat 8 kargo.

Jero Wacik mengatakan pada 2012 sebanyak 42% gas yang masuk ke dalam negeri dipergunakan oleh industri. Sementara itu PLN mendapat alokasi 21%, disusul Perusahaan Gas Negara untuk kebutuhan industri dan rumah tangga 20% dan penggunaan untuk produksi migas sebanyak 14%.

Baca juga: Pasar Metering Gas Terdorong Proyek 13.400 MW