UKM Harus Siapkan Risiko Bencana

NERACA

Jakarta – Usaha kecil menengah (UKM) dinilai perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi risiko bencana yang berpotensi menghancurkan usahanya. ”Setelah kejadian-kejadian bencana yang mengerikan itu, pemerintah juga harus tahu bahwa bencana ini luar biasa dampaknya. UKM itu pasti banyak yang gulung tikar. UKM tadinya seratus mungkin tinggal satu. Dampaknya yang lain adalah tenaga kerja. Yang tadinya dia kerja di situ kemudian sama sekali dia tidak dapat pekerjaan. Mencari pekerjaan lain lagi susah,” jelas Deputi Bidang Usaha Kecil Menengah, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Nina Tursinah kepada Neraca di Jakarta, Senin (15/1).

UKM harus mempersiapkan diri terhadap bencana alam, lanjut Nina, karena UKM berkontribusi besar terhadap GDP (pendapatan domestik bruto), yaitu 60%. Dan juga, kalau UKM hancur, ini akan merembet ke usaha besar.

Melihat celah tersebut, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO/international Labour Organization) membuat semacam panduan agar UKM mempunyai bayangan langkah-langkah apa saja yang harus dipersiapkan paling tidak untuk mengurangi risiko bencana alam. ILO Indonesia akan membuat proyek Training of Trainers (TOT) kepada UKM untuk memberi wawasan persiapan terhadap bencana alam.

“Bencana alam sepanjang tahun 2012 menyebabkan kerugian sebesar US$ 40 miliar. Sekitar 60% nya adalah UKM, yang berarti sebagian besar dampak bencana diderita oleh UKM,” jelas Koordinator Proyek dari ILO Jenewa Donato Kiniger-Passigli.

Menurut Donato, UKM adalah penyumbang tenaga kerja terbesar. Sekitar 66% tenaga kerja bergerak di UKM. Kebanyakan lapangan kerja yang tersedia adalah untuk perusahaan kecil yang mempunyai kurang dari 100 pekerja dan perusahaan baru yang umurnya kurang dari lima tahun. “UKM semakin terasa penting karena sekitar 177 juta UKM ada di negara-negara G20,” ujar Donato.

ILO akan memulai lakukan TOT di Bogor dengan menjabarkan sepuluh langkah utama agar UKM siap menghadapi bencana alam sehingga kerugian dapat diminimalisir. “Yang pertama harus dilakukan adalah menentukan prioritas bisnis,” kata Donato. Pada intinya, langkah-langkah yang diberikan ini adalah membuat manajemen UKM lebih teratur.

Kedua adalah mengidentifikasi aset-aset penting. UKM harus mengetahui aktivitas apa saja yang diperlukan untuk setiap proses dalam bisnis UKS tersebut, lalu dijabarkan lagi ke sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber dana mana saja yang menjadi tulang punggung bisnisnya.

“Langkah ketiga adalah mengidentifikasi operasi ketika krisis,” kata Donato. Aktivitas mana saja yang rawan untuk meningkatkan biaya.

Keempat, UKM perlu untuk menganalisis risiko-risiko internal dan eksternal. Penting juga bagi UKM untuk mencari tahu lebihd alam lagi bagaimana mengurangi dampak finansial, misanya dengan asuransi.

Menurut Nina, UKM Indonesia nyaris tidak kenal dengan yang namanya asuransi. “Persentase pengguna UKM kecil sekali, paling 5% yang pakai asuransi. Itupun yang sudah ekspor, itu juga yang sudah establish,” jelas Nina.

Langkah kelima yang perlu dilakukan UKM adalah menyiapkan skenario apa yang akan dilakukan ketika bencana itu datang. “Dia harus mempersiapkan ketika nanti ada bencana. Selama ini sama sekali dia tidak mempersipkan. Seperti mempersiapkan stok barang. Kalau tiba-tiba ada banjir, minimal barang-barang yang sensitif kena air, itu sebaiknya taruh di mana,” jelas Nina.

Langkah-langkah berikutnya berkutat pada peningkatan manajemen UKM, sampai di langkah terakhir mengumpulkan pelajaran dari kejadian yang sudah-sudah. [iqbal]

Related posts