Udang Kian Jadi Pilihan Masyarakat - Harga Daging Mahal

NERACA

Serang – Di kala harga daging melambung sampai diatas Rp100 ribu per kilogram, udang menjadi penggantinya. Menurut Mitra Penambak Udang Dusun Kemayunga, Desa Sukajaya, Kabupaten Serang Hikmat Darmawan, saat ini permintaan udang di pasar lokal sedang meningkat. \"Untuk saat ini, justru kita (penambak udang) berebutan untuk memenuhi permintaan pasar,\" ungkap Hikmat saat ditemui di Desa Sukajaya, Kabupaten Serang, Banten, Senin (15/4).

Ia menjelaskan kandungan gizi udang pun tidak kalah tinggi dari daging. Di samping itu, harganya yang terjangkau dibandingkan dengan daging. \"Permintaan pasar untuk udang sedang meningkat. Harganya pun hanya Rp25 ribu per kilo, masih jauh di bawah daging. Hal ini yang membuat masyarakat mengalihkan dari konsumsi daging ke udang,\" katanya.

Hikmat menambahkan bahwa pihaknya telah memasarkan udangnya langsung ke pedagang pasar, restoran dan untuk di ekspor. \"Udang-udang mendapatkan tempat tersendiri di masyarakat Indonesia. Bahkan ada beberapa yang diekspor. Melalui Unit Pengolahan Ikan (UPI) untuk dijadikan turunan udang lalu di ekspor ke Amerika, Jepang dan Eropa,\" tambahnya.

Dari sekitar 90 hektar luas lahan yang dimanfaatkan untuk tambak udang, lanjut dia, setidaknya bisa menghasilkan sekitar 10 ton udang per hektar. \"Nantinya dari hasil produksi tersebut, sekitar 65% akan kita lepas di lokal (konsumsi lokal) dan sekitar 35% lagi akan di ekspor,\" katanya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten Maysaroh Mawardi mengatakan bahwa tingkat konsumsi ikan dan udang di masyarakat menunjukan tren yang meningkat. \"Semenjak adanya gerakan makan ikan, konsumsi jadi meningkat dan tren konsumsinya pun meningkat setiap tahunnya,\" katanya.

Untuk itu, disaat harga daging masih tak kunjung turun, kata dia, udang bisa menjadikan bahan makanan subtitusi pengganti daging. \"Kami berharap agar tingkat konsumsi udang terus mengalami peningkatan. Apalagi daerah Serang dikenal dengan sentra dan budidaya udang,\" imbuhnya.

Sekedar informasi, saat ini harga daging dipasaran masih mencapai Rp95 ribu per kilo. Harga tersebut telah bertahan hampir 8 bulan. Padahal pada tahun lalu di periode yang sama, harga daging hanya mencapai Rp75 ribu. Bahkan, pada saat bulan Ramadhan, diperkirakan harga daging mencapai Rp125 ribu. Namun hingga kini, pemerintah belum bisa menurunkan harga daging.

Serap Tenaga Kerja

Dikala konsumsi udang meningkat, penyerapan tenaga kerja untuk komoditas udang pun cukup banyak. Bahkan, Revitalisasi tambak udang Pantura Jawa ini diperkirakan dapat menyerap tenaga kerja lebih dari 60 ribu orang.Penyerapan tenaga kerja akan semakin meningkat, jika setiap hektar tambak udang dapat menyerap lebih dari 3 orang tenaga kerja.

\"Tenaga kerja dapat terserap dari program industrialisasi udang lebih dari 400 ribu orang, atau setara dengan penyerapan tenaga kerja untuk setiap 1% pertumbuhan ekonomi,\" kata Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C. Sutardjo.

Sharif menegaskan, kebijakan industrialisasi perikanan menjadi fokus perhatian KKP, merupakan sebuah kebijakan strategis dalam menggerakkan seluruh potensi perikanan.

Kebijakan ini melalui pengembangan perikanan budidaya, perikanan tangkap dan pengolahan hasil produk perikanan. Kebijakan tersebut dilakukan melalui pengembangan komoditi unggulan untuk meningkatkan nilai tambah produk secara menyeluruh, mulai dari hulu sampai hilir, sehingga berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

\"Sebagai langkah awal, pada tahun 2012 ini KKP telah menetapkan 4 komoditas industrialisasi, yaitu udang, bandeng, patin dan rumput laut, yang merupakan komoditi perikanan dengan potensi pengembangan yang cukup besar,\" jelasnya.

Udang, tandas Sharif, merupakan salah satu komoditas utama dalam industrialisasi perikanan budidaya. Komoditi ini karena memiliki nilai ekonomis tinggi (high economic value) dan permintaan pasar yang juga tinggi (high demand product). Untuk pengembangan industrialisasi udang, KKP telah melakukan revitalisasi tambak melalui perbaikan infrastruktur berupa saluran primer, sekunder dan juga saluran tertier.

Program ini untuk memberi jaminan pasokan air ke petakan tambak, sehingga diharapkan dapat mengoptimalkan kawasan pertambakan. Program ini terutama dilakukan di Pantura Jawa dan secara bertahap akan terus berlanjut pada kawasan pertambakan di daerah lainnya.

\"Dalam kesempatan yang baik ini kami menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada Kementerian Pekerjaan Umum yang memberi dukungan kegiatan berupa rehabilitasi saluran primer dan sekunder serta perbaikan jalan produksi pada kawasan pertambakan dan juga kawasan perikanan lainnya,\" katanya.

Menurut Sharif, perikanan budidaya akan semakin diandalkan dalam pemenuhan kebutuhan ikan, baik didalam negeri maupun kebutuhan dunia. Mengingat produksi perikanan tangkap sudah harus dikendalikan pada batasan tertentu untuk menjaga kelestarian ikan di laut. Oleh karena itu, program peningkatan produksi perikanan budidaya harus terus digelorakan.

“Dalam mengoptimalkan perikanan budidaya tersebut, kami mengajak keterlibatan masyarakat pembudidaya, pihak swasta dibidang perikanan budidaya dan juga perbankan untuk dapat bersinergi dalam upaya peningkatan produksi,” ujarnya.

Related posts