Investasi Armada Kapal Capai US$14 Miliar

NERACA

Jakarta - Indonesian National Shipowner’s Association (INSA) memperkirakan investasi armada kapal dari 2005 sampai dengan 2014 diperkirakan mencapai US$14 miliar karena permintaan yang terus bertambah. “Investasi armada kapal diproyeksikan menyentuh US$14 miliar dalam kurun waktu 9 tahun atau dari 2005 hingga 2014. Nilai investasi akan bertambah sejak diberlakukannya kebijakan asas cabotage sesuai UU 17/2008 tentang Pelayaran,” kata Ketua bidang Kerjasama dan Hubungan Luar Negeri INSA, Djoni Sutji di Jakarta, Senin (15/4).

Sedangkan Direktur Industri Maritim, Kedirgantaraan dan Alat Pertahanan Ditjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Soerjono mengatakan, selama ini, industri galangan kapal di dalam negeri masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk dari sektor finansial.

“Pada acara seminar Indonesian Cabotage Advocation Forum (INCAFO), 10-11 April 2013 telah disepakati kemandirian bangsa dengan memperkuat industri galangan kapal. Targetnya, merebut pasar domestik kebutuhan kapal-kapal niaga maupun khusus, yang selama ini dalam rangka cabotage dipenuhi dari kapal-kapal bekas buatan luar negeri,” paparnya.

INCAFO, menurut Soerjono, telah menginisasi munculnya Inpres 5/2005 tentang Azas Cabbotage sehingga industri pelayaran kapal nasional memenuhi kebutuhan kapal dalam negeri. Saat ini, jumlah kapal mencapai 10.200 unit dan penambahan kapal tidak diimbangi oleh pertumbuhan ruang produksi galangan kapal. “Yang bertambah secara berarti hanya ruang produksi untuk reparasi dan hal masih kurang mencukupi. Akibatnya, kapal-kapal harus menunda kewajibannya melakukan reparasi,” ujarnya.

Soerjono menambahkan, selama ini sektor perbankan kurang memiliki minat untuk membiayai sektor galangan kapal. “Tidak ada gunanya memiliki kapal banyak kalau kewajiban mereparasi tidak dijalankan. Sejak 2009, industri galangan kapal hanya mampu menambah ruang produksi sebesar 300.000 deadweight tonnage (DWT) per tahun dari sebelumnya 600 ribu DWT per tahun menjadi 900 ribu DWT,” tandasnya.

Sebelumnya perusahaan pengelola galangan kapal di Batam, Drydocks World and Maritime World (DWMW) Dubai, memperluas usaha dalam bentuk komitmen kerja sama investasi sekitar 2,5 milyar dollar AS serta sarana fasilitas galangan kapal di Batam.

Komitmen ini tertuang dalam Nota Kesepahaman untuk kerja sama joint venture antara Drydocks World and Maritime World Dubai, PEA dan PT Bina Bangun Bahari (BBB), Indonesia, Group dari perusahaan Sentra Bangun Harmoni, demikian Konsul Fungsi Pensosbud KJRI Dubai, Adiguna Wijaya.

Acting Konsul Jenderal RI Dubai, Heru Sudradjat menjadi saksi dan menandatangani MoU yang antara lain menyepakati kerja sama eksklusif antara kedua pihak dalam pengelolaan properti seluas 178 Ha milik DWMW yang berlokasi di Batam, dengan skema investasi joint venture senilai sekitar US$ 2,5 milyar menyatakan KJRI Dubai sejak awal telah turut aktif memfasilitasi penjajakan kerja sama investasi ini. pihak BBB Group melakukan pertemuan dan mempresentasikan langsung kepada DWMW proposal kerja sama serta membahas hal-hal yang lebih teknis menyangkut kerja sama proyek investasi di Batam.

Potensi lahan yang dimiliki pihak DWMW di Batam diproyeksikan untuk pengembangan infrastruktur, industri dan energy mengingat kawasan tersebut merupakan lintasan Pendulum Nusantara sebagaimana yang dicanangkan Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan RI. Ditambahkan bahwa Pendulum Nusantara dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas dan koneksitas antar pelabuhan di Indonesia yang terentang dari Sumatera hingga Papua.

Sehubungan dengan itu, di kawasan Batam, sesuai dengan kesepakatan dalam MoU, akan dibangun pelabuhan dengan kapasitas besar. Tujuan program ini antara lain untuk memperlancar jalur pengiriman barang antar pulau di Indonesia yang diharapkan dapat mendorong peningkatan perdagangan pasar domestik.

Related posts