Tambah Jumlah Peserta, Jamsostek Gandeng Kemendagri

NERACA

Jakarta - PT Jamsostek (Persero) menggandeng Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk menambah jumlah peserta program Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Kerjasama tersebut terkait integrasi data administrasi kependudukan (adminduk).

“Ini sejarah dalam membangun fondasi transformasi Jamsostek menjadi BPJS Ketenagakerjaan. Kami berterima kasih kepada Kemendagri yang mau bekerja sama dengan Jamsostek,” ujar Direktur Perencanaan, Pengembangan dan Informasi Jamsostek Agus Supriyadi usai penandatangan kerja sama (PKS) di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut Agus, ketika Jamsostek berubah menjadi BPJS maka seluruh penduduk Indonesia menjadi potensi besar untuk menjadi peserta. Untuk itu, Jamsostek memerlukan informasi administrasi kependudukan dalam melihat profil penduduk yang bisa digarap menjadi peserta. “Meski seluruh penduduk bukan pekerja, tetapi kita tetap berkepentingan untuk melihat profil mereka, agar bisa dipetakan ataupun diberikan edukasi mengenai pentingnya jaminan sosial,” terang dia.

Agus mengungkap, selain bisa digunakan untuk meningkatkan kepesertaan, adminduk ini sangat penting bagi Jamsostek untuk melakukan segmentasi peserta sehingga edukasi yang dilakukan tepat sasaran, penyempurnaan data base peserta Jamsostek yang saat ini ada, verifikasi data dan menghindari adanya penyimpangan (zero fraud). “Adminduk ini entry point, banyak yang bisa kami lakukan dengan adminduk ini,” paparnya.

Dia berharap karena peserta BPJS Ketenagakerjaan, pastinya juga merupakan peserta BPJS Kesehatan maka alangkah baiknya menggunakan nomor identitas tunggal antara kedua institusi tersebut. Identitas tunggal ini untuk memudahkan verifikasi data kepesertaan jaminan sosial.

“Kami terus melakukan pendekatan dengan PT Askes (Persero) dalam melakukan kajian ini,” tegas dia. Melalui kerja sama dengan berbagai pihak, Agus berharap, tumbuh kesadaran gerakan jaminan sosial secara masif di masyarakat.

Setelah kerja sama dengan Kemendagri, dia mengaku akan bekerja sama dengan kementerian lainnya. “Salah satunya dalam upaya penegakan hukum, jika pengusaha menunggak iuran maka bisa saja dicekal ke luar negeri,” tutur Agus.

Hingga Februari 2013, Jamsostek mencatat hasil investasi sebesar Rp2,5 triliun. Kontribusi terbesar dari hasil investasi tersebut berasal dari portofolio saham. Kontribusi saham pada hasil investasi tersebut mencapai Rp1,1 triliun, sedangkan obligasi sebesar Rp904 miliar, deposito sebesar Rp473 miliar, dan dari reksa dana properti serta penyertaan modal Rp142 miliar.Hasil investasi tersebut diperoleh dengan total dana investasi yang dikucurkan mencapai Rp137,5 triliun. Jumlah tersebut naik Rp5,2 triliun dari posisi Desember 2012 sebesar Rp132,1 triliun. [kam]

Related posts