Minim Pengalaman Jadi Sumber Kekecewaan Telkom - Gagal Tender di Myanmar

NERACA

Jakarta – Sesumber ambisi PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) meguasai pasar regional di Asia rupanya harus menelan kekecewaan lantaran, perusahaan operator plat merah ini gagal ikut tender internasional pengembangan proyek telekomunikasi di Myanmar.

Meskipun demikian, pemerintah menyikapi hal ini dengan tenang. Pasalnya, dampak kegagalan memasuki pasar Myanmar dinilai tidak mempengaruhi harga saham perseroan di pasar modal.

Merespon hal tersebut, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan menilai, kegagalan Telkom ikut tender dinilai wajar karena belum memiliki pengalaman seperti perusahaan telekomunikasi seperti di negara-negara lain, “Telkom gagal, karena kita belum punya pengalaman seperti mereka,\"katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Selain itu, lanjutnya, perseroan yang lolos tender di Myanmar disyaratkan harus memiliki pelanggan minimal sebesar 1 juta di luar negeri. Sementara Telkom, baru memiliki 40 ribu pelanggan di Timor Leste.

Oleh karena itu, kata Dahlan, kegagalan Telkom dalam tahapan pra kualifikasi dinilainya bukan merupakan kekalahan, \"Bukan kalah karena nggak lolos pra kualifikasi,\" cetusnya.

Minim Pengalaman

Dia menuturkan, perseroan tersebut belum memiliki pengalaman seperti perusahaan telekomunikasi seperti di negara-negara lain. \"Karena kita belum punya pengalaman seperti mereka,\"ujarnya.

Seperti diberitakan, Telkom kandas tereliminir saat akan memasuki ronde terakhir. BUMN telekomunikasi dari Indonesia ini tak berhasil menembus daftar 12 peserta yang lolos ke babak evaluasi untuk memperebutkan lisensi seluler di Myanmar.

Dari 91 proposal awal yang masuk ke komite seleksi, Telkom yang sempat menggandeng operator lokal Myanmar Telecom, masih mampu melaju hingga babak prakualifikasi tahap pertama yang meloloskan 23 peserta.

Namun sayangnya, Telkom kandas tereliminasi ketika masuk ke babak evaluasi. Nama besar Telkom di Indonesia ternyata belum mampu berbicara banyak di kancah internasional jika dibandingkan nama-nama besar yang kita kenal, seperti SingTel, Axiata, dan Qatar Telecom.

Meski demikian, saham Telkom di Bursa Efek Indonesia (BEI) diakhir perdagangan pada akhir pekan kemarin pada perdagangan sesi pertama ditutup naik 200 poin (+1,82%) ke level Rp 11.200 per lembar. Sebanyak 13.994 lot sahamnya ditransaksikan 710 kali dengan nilai Rp 77,9 miliar. Disebutkan, posisi sahamnya tersebut merupakan level tertinggi.

Ekspansi Ke 10 Negara

Asal tahu saja, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk selama ini tengah gencar melakukan ekspansi bisnis di empat negara, diantaranya Singapura, Hongkong, Timur Leste dan Australia, “Kami memang merencanakan 10 negara namun saat ini empat negara yang baru terealisasikan,\" kata Direktur Utama Telkom, Arief Yahya.

Dia menjelaskan, dalam beberapa waktu yang dekat pihaknya juga akan membidik negara Makau, Taiwan, Malaysia dan Saudi Arabia untuk melebarkan bisnis perseroannya.

Menurut Arief, Telkom mengincar negara jiran tersebut karena disinyalir akan menghasilkan bisnis yang bergairah. \"Umumnya kan warga negara sana TKI dan ratai-rata orang Indonesia jadi bentuknya seperti bisnis mengikuti orang Indonesia,\" tegasnya.

Kata Arief, untuk tahap ekspansinya di Malaysia akan menjalin operator di negara tersebut. Dimana, untuk tahap awal perseroan tidak bangun jaringan langsung tetapi menjalin kerjasama dengan operator disana.

Soal nilai investasi, lanjut Arief, ekspansinya ke Malaysia menggunakan Operating Expenditure (Opex). \"Tidak tepat menggunakan investasi karena tidak menggunakan capex tapi sewa atau opex ya kira-kira satu juta karena TKI disana ada dua jutaan,\" tambahnya.

Tahun ini, perseroan menargetkan pendapatan Rp 80 triliun dan untuk mencapai target, perseroan memperluas pasar ke luar negeri dan termasuk ekspansi ke 10 negara. Perseroan sendiri mengklaim, masih on the right track untuk mengejar lisensi telekomunikasi di Myanmar demi melancarkan niatan ekspansi bisnis di kawasan regional Asia. (bani)

Related posts