Emiten Marak Pilih Obligasi Dibanding Rights Issue - Dinilai Lebih Mudah

NERACA

Jakarta – Industri keuangan bank dan non bank rupanya lebih nyaman untuk menerbitkan obligasi sebagai sumber pendaaan kebutuhan modal kerja ketimbang menerbitkan saham baru atau rights issue. Tak ayal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengakui, tahun ini banyak perusahaan yang menerbikan surat utang atau obligasi dibandingkan right issue.

Direktur Penilaian PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Hoesen mengatakan, perusahaan lebih memilih obligasi karena kebutuhan dana yang tidak terlalu besar atau hanya sebagai tambahan untuk modal kerja, “Dulu obligasi sepi tapi sekarang ramai. Ya itu tergantung strategi perusahaan. Kalau hanya untuk tambah modal, banyak yang memilih bond,\" katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Menurutnya, penerbitan obligasi pada tahun ini diprediksi akan lebih meningkat, karena perusahaan melihat dana yang diperoleh obligasi lebih mudah dan pembayaran lebih lama. Selain itu, tenor yang lebih panjang dan prosesnya jauh lebih mudah, sehingga banyak yang terbitkan bond atau obligasi.

Sebelumnya, pengamat obligasi dari PT Penilai Efek Indonesia, Fakhrul Aufa pernah bilang, prospek penerbitan obligasi tahun 2013 masih cukup positif. Proyeksi pertumbuhan obligasi di tahun ini ditaksir akan mencapai sekitar 20-25%.

Meskipun demikian, investor tampaknya akan hati-hati menyusul tingkat inflasi yang sepertinya kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), kenaikan tarif dasar listrik dan upah minimum. Hal tersebut tentu dapat mendorong kenaikan BI rate dan inflasi sehingga akan berdampak negatif bagi pasar.

Berdasarkan data BEI, sepanjang tahun ini total emisi obligasi dan sukuk mencapai Rp 18,9 triliun yang berasal dari 18 emisi dan 15 emiten. Teranyar, PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) telah mencatatkan obligasi senilai Rp600 miliar dan bakal disusul PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X yang berencana menerbitkan obligasi senilai Rp700 miliar pada akhir kuartal II 2013.

Sementara untuk rights issue, pesertanya baru PT Astra Otoparts Tbk (AUTO). Disebutkan, perseroan menggelar rights issue dimaksudkan untuk mendanai aksi korporasinya dan membayar utang.

Jumlah saham yang akan diterbitkan sebanyak 1.400.000.000 saham dengan nilai nominal Rp100, dimana setiap pemegang 100 saham lama yang namanya terdaftar dalam pemegang saham hingga 29 April 2013, memiliki 20-40 HMETD untuk membeli saham baru. Harga penawaran saham baru sebesar Rp2.200-3.400 per lembar sehingga jumlah dana maksimal yang bisa dirah sebesar Rp3,1 triliun. (bani)

BERITA TERKAIT

Pasar Properti Penuh Tantangan - BTN Optimis Masih Ada Peluang Tumbuh 2020

NERACA Jakarta – Tahun depan, industri properti masih menemui tantangan seiring dengan ancaman perlambatan ekonomi nasional dan resesi ekonomi di…

PPRE Targetkan Kontrak Baru Tumbuh 20%

NERACA Jakarta –Tahun depan, PT PP Presisi Tbk (PPRE) memproyeksikan raihan proyek baru akan tumbuh 20% dibanding tahun ini. Tercatt…

Berikan Layanan Nasabah Korporasi - Maybank Sediakan Cash Collection Solution

NERACA Jakarta – Guna meningkatkan layanan kepada nasabah korporasi, PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia) memberikan cash collection solution,…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Transjakarta Bagikan Dividen Rp 40 Miliar

NERACA Jakarta- Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST), PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) memutuskan untuk membagikan dividen perusahaan kepada…

Raup Ceruk Pasar Luar Negeri - WIKA Targetkan Kontrak Baru Capai Rp 6 Triliun

NERACA Jakarta – Sukses meraih kontrak baru di Afrika menjadi batu loncatan bagi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) untuk…

Transformasi Pasar Modal Kredibel - OJK Terus Perkuat Supervisi Pengawasan

NERACA Jakarta – Kasus gagal bayar keuntungan reksadana yang menimpa Minna Padi Aset Manajemen dan Narada Aset Manajemen menjadi alasan…