Investor Asing Bikin Anjlok Harga Kakao

NERACA

Jakarta – Anjloknya harga komoditi kakao dipicu derasnya investor asing yang bermain di bursa komoditi Indonesia, “Banyaknya pihak asing yang masuk juga menjadi pemicu anjloknya harga kakao, “kata Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia, Zulhefi Sikumbang di Jakarta akhir pekan kemarin.

Dia juga menjelaskan, petani menjadi lemah karena industri kakao banyak dikuasai asing dan mereka pula yang menentukan harga. Puncaknya, Berry Callebaut (BC) salah satu perusahaan yang memproduksi Silverqueen dan ceres, membeli Petrafood dengan harga US$ 950 juta dan BC menjadi salah satu perusahaan coklat terbesar di dunia.

Renji Betari, Analis Jakarta Futures Exchange (JFX) Renji Betari menuturkan, anjloknya harga kakao disebabkan oleh patokan harga yang dipakai saat ini adalah bursa konsumen. Karena itu, pihaknya tengah gencar sosialisasikan harga produsen kepada petani kakao Indonesia.

Dia menambahkan, bursa konsumen yang mengacu ke Amerika dan Inggris selama ini menginginkan harga serendah-rendahnya, berbeda dengan bursa produsen yang mengharapkan harga setinggi-tingginya,“Indonesia sebagai negara penghasil kakao terbesar ke tiga setelah Pantai Gading dan Ghana, mematok harga kakaonya yang mengacu ke bursa di Amerika atau Inggris, ini menyebabkan harga kakao kita menjadi rendah,”ungkapnya.

Menentukan Harga

Lanjutnya, Indonesia sebagai produsen seharusnya dapat menentukan harga dan inilah yang menjadi salah satu tugas JFX untuk mensosialikan patokan harga kakao Indonesia. Saat ini yang menjadi fokus JFX dalam satu tahun kedepan adalah mendatangi pedagang fisik terutama di Makassar yang menjadi kota penghasil kakao terbanyak di Indonesia dan mengajarkan agar menggunakan harga yang ada di bursa komoditi.

Menurut Renji, dengan sosialisasi yang diberikan, saat ini petani sudah banyak yang pintar. Pasalnya, para petani saat ini sudah menggunakan harga yang digunakan di bursa komoditi, “Kalau harga lagi turun, mereka hanya menitip kakaonya belum mau melakukan transaksi karena menunggu harga naik,”jelasnya.

Dia juga menegaskan, dirinya tidak khawatir dengan bursa di Malaysia. Karena yakin harga kakao yang ada saat ini akan stabil. Berdasarkan data yang dimiliki JFX, harga kakao dalam 15 bulan terakhir cenderung stabil dengan harga tertinggi Rp 23.600 dan terendah Rp 20.000. Target harga kakao perkilogram untuk 2 bulan ke depan Rp 23.500 dan tahun ini ditargetkan Rp 24.500. (nurul)

BERITA TERKAIT

Harga Bapokting di Kota Sukabumi Tergolong Stabil

Harga Bapokting di Kota Sukabumi Tergolong Stabil NERACA Sukabumi - Perkembangan harga bahan pokok penting (Bapokting) dan barang strategis lainya…

Investor Tidak Perlu Khawatirkan Situasi Politik

NERACA Jakarta – Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengimbau investor dan dunia usaha di Indonesia tidak perlu mengkhawatirkan situasi politik saat…

Harga Gabah Kering Giling di Banten Naik 2,92 Persen

Harga Gabah Kering Giling di Banten Naik 2,92 Persen NERACA Serang - Harga Gabah Kering Giling (GKG) pada tingkat petani…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Bersih Siantar Top Naik 17,95%

NERACA Jakarta – Di tahun 2018 kemarin, PT Siantar Top Tbk (STTP) berhasil membukukan kenaikan laba bersih sebesar 17,95% secara…

LMPI Targetkan Penjualan Rp 523,89 Miliar

NERACA Jakarta – Meskipun sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Langgeng Makmur Industri Tbk (LMPI) masih mencatatkan rugi sebesar Rp 46,39…

Bumi Teknokultura Raup Untung Rp 76 Miliar

PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) membukukan laba bersih Rp76 miliar pada 2018, setelah membukukan rugi bersih sebesar Rp31,48 miliar…