Penipuan Nasabah, BBJ Lepas Tanggung Jawab - Bappebti Digugat

NERACA

Jakarta – Kasus penipuan yang terjadi dalam pasar komoditi dalam beberapa tahun terakhir ini, rupanya belum disikapi serius oleh PT Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX). Bahkan, lembaga ini terkesan lepas tangan dengan alasan lihat dahulu jenis investasi dan status hukumnya.

Kata Direktur JFX, M. Bihar Sakti Wibowo mengatakan, kasus penipuan di pasar komoditi tidak diserahkan hanya kepada BBJ, karena harus mengetahui jenis investasi dan status hukumnya, “JFX harus dibedakan dengan Bursa Efek Indonesia, disana ada Otorita Jasa Keuangan dan kalau disini ada di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi. Namun harus dilihat juga ada diwilayah mana, karena JFX hanya akan memberi sanksi yang ada diwilayahnya,”kilahnya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Dia juga mempertanyakan ijin yang dimiliki perusahaan komoditas yang melakukan penipuan. Menurutnya, dari sana bisa dilihat wewenang siapa yang akan melakukan tindakan terhadap perusahaan yang melakukan penipuan.

Oleh karena itu, dirinya juga menghimbau kepada masyarakat jangan tertipu dengan investasi yang diiming-imingi keuntungan besar, karena investasi tidak sama dengan berjudi.

Pengamat pasar modal Yanuar Rizky pernah bilang, munculnya praktek penipuan terhadap nasabah di bursa berjangka karena lemahya pengawasan dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) sebagai regulator, “Bappebti harus bertanggung jawab atas pengawasan yang lemah ini dikarenakan fungsi pengawasan terdapat di bappebti,”ujarnya

Menurutnya, Bappebti sebagai regulator seharusnya melakukan pengawasan yang ketat sehingga nasabah tidak merasa dirugikan atas pelanggaran itu. Kendatipun, banyaknya pelanggaran yang terjadi di Bursa Berjangka, tetapi tidak semata-mata bisa dibubarkan dikarenakan dalam Bursa Berjangka terdapat industrinya yang didalamnya ada pelaku pialang berjangkanya.

Sebagai informasi, 22 nasabah PT Danagraha Futures (PT DGF) menggugat Bappebti, Inspektorat jenderal (Irjen) Kementerian Perdagangan (Kemendag), dan Kemendag ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus). Padahal secara nyata melakukan aksi penipuan, penggelapan dan pencucian uang para nasabahnya dengan nilai kerugian mencapai sekitar US$ 1,25 juta dan PT DGF tidak memiliki ijin.

PT DGF merupakan sebuah perusahaan investasi yang bergerak di bidang perdagangan komoditas, perdagangan berjangka serta valuta asing. Mereka menarik para konsumennya dengan iming-iming keuntungan 2 - 3% perbulan melalui signal trading yang juga dapat mendeteksi kerugian maksimal 6 persen yang uangnya bisa diambil kapanpun. (nurul)

BERITA TERKAIT

Pasar Properti Penuh Tantangan - BTN Optimis Masih Ada Peluang Tumbuh 2020

NERACA Jakarta – Tahun depan, industri properti masih menemui tantangan seiring dengan ancaman perlambatan ekonomi nasional dan resesi ekonomi di…

PPRE Targetkan Kontrak Baru Tumbuh 20%

NERACA Jakarta –Tahun depan, PT PP Presisi Tbk (PPRE) memproyeksikan raihan proyek baru akan tumbuh 20% dibanding tahun ini. Tercatt…

Berikan Layanan Nasabah Korporasi - Maybank Sediakan Cash Collection Solution

NERACA Jakarta – Guna meningkatkan layanan kepada nasabah korporasi, PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia) memberikan cash collection solution,…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Transjakarta Bagikan Dividen Rp 40 Miliar

NERACA Jakarta- Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST), PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) memutuskan untuk membagikan dividen perusahaan kepada…

Raup Ceruk Pasar Luar Negeri - WIKA Targetkan Kontrak Baru Capai Rp 6 Triliun

NERACA Jakarta – Sukses meraih kontrak baru di Afrika menjadi batu loncatan bagi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) untuk…

Transformasi Pasar Modal Kredibel - OJK Terus Perkuat Supervisi Pengawasan

NERACA Jakarta – Kasus gagal bayar keuntungan reksadana yang menimpa Minna Padi Aset Manajemen dan Narada Aset Manajemen menjadi alasan…