Perusahaan Italia Incar Migas Indonesia

NERACA

Jakarta - Perusahaan asing memang melihat potensi besar sektor minyak dan gas (migas) di Indonesia. Kali ini, perusahaan migas asal Italia Ente Nazionale Idocarburi (ENI) Spa yang akan menambah nilai investasinya sebesar US$400 juta atau senilai dengan Rp3,9 triliun dalam beberapa tahun mendatang.

Direktur Pelaksana ENI Indonesia Ltd, Carlo Vito Russo mengatakan, pihaknya akan melanjutkan kegiatan eksplorasi di sejumlah blok yang saat ini masih terus digarap. \"Kami akan melanjutkan pengeboran sumur eksplorasi di Blok Muara Bakau dan Bulungan yang berada di Kalimantan Timur,\" ungkap Carlo di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Sementara itu di tempat yang sama Chief Executive Officer ENI, Spa Paolo Scaroni mengatakan, perusahaan sudah berinvestasi di Indonesia sejak 2001. Dalam empat tahun terakhir, pihaknya telah menemukan cadangan migas sebanyak 200 juta barel setara minyak. \"Sementara ini, investasi yang sudah dikeluarkan untuk eksplorasi berjumlah US$ 400 juta dolar,\" ujarnya.

Menurut dia, pihaknya akan terus meningkatkan investasi baik di blok migas yang sudah ada maupun baru. \"Pada 2016, kami akan mulai berproduksi 100.000 barel setara minyak per hari,\" tuturnya.

Bagi Hasil

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik menilai bahwa perusahaan asal negeri spagheti tersebut tidak hanya mengeksplorasi blok-blok yang sudah tergarap namun juga berminat melakukan kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi pada blok-blok yang belum dikerjakan. \"Beliau (ENI) berinvestasi di Indonesia sudah cukup banyak, dan akan menambahkannya lagi karena sangat percaya kepada perkembangan Indonesia sekarang,\" tutur Jero.

Dicontohkan Menteri ESDM, jika ada negara asing yang mengerjakan blok- blok migas di Indonesia sebagian masyarakat menganggapnya blok tersebut diambil atau dikuasai oleh pihak asing. Padahal lanjut Menteri mereka mengerjakan blok migas dengan perjanjian PSC (production Sharing Contract/perjanjian bagi hasil). \"Jadi para pendahulu kita membuat perjanjian bagi hasil itu bagus bagi kita dan akan terus kita tambah sharing untuk Indonesianya,\" tutur Jero.

ENI Italia, lanjut dia, merupakan perusahaan minyak terbesar di Italia. Mereka memiliki kualifikasi khusus di bidang deep water exploration. \"Jadi ngebor minyak di laut dalam itu salah satu keahlian ENI, nah kalau dia mengebor di laut dalam resikonya ada di dia, kalau rugi dia yang rugi kalau dapat kita dapat bagi hasilnya dan bagi hasilnya kita lebih besar,\" ujar Menteri.

Hingga saat ini, kata Jero, ENI telah melakukan pengembangan di 13 blok di seluruh Indonesia, terutama di offshore. Dan dia minta jika ada blok-blok baru yang belum dikerjakan, ENI yang akan melakukan kegiatan eksplorasinya.

Dikuasai Asing

Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Migas Indonesia Faisal Yusra mengungkapkan bahwa sebanyak 85% minyak dan gas (migas) Indonesia telah dikuasai asing. Hal itu membuat ketahanan nasional menjadi ringkih. \"Ketahanan nasional saat ini telah ringkih,\" kata Faisal.

Menurut Faisal, kondisi tersebut diakibatkan keberadaan UU No 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. UU tersebut membuat Pertamina sebagai perusahaan migas di Indonesia menjadi kecil, dan terpecah-pecah. \"Pertamina tidak menjadi pemegang kedaulatan dan kemandirian migas Indonesia. Padahal, konsep dikuasai oleh negara dalam UUD 1945 Pasal 33 mengandung makna memiliki atau penguasaan, mengelola dan mengendalikan secara langsung oleh negara,\" ujarnya.

Tetapi, pada kenyataannya, pihak swasta justru membuat Indonesia tidak mampu meningkatkan kemandirian dan ketahanan energi. Dan hasilnya, negara penghasil minyak ini menjadi sangat bergantung pada produk impor. Buktinya, saat ini, Pertamina hanya bisa menghasilakan 150 ribu barel per hari untuk memenuhi kebutuhan BBM 1,3 juta barel per hari. \"Dampaknya berimbas pada ketahanan negara. Bahkan, jika ada peperangan, asing dapat mengalahkan Indonesia dengan cara yang mudah dan murah,\" ujarnya.

Untuk mengatasi persoalan ini, kata Faisal, diperlukan undang-undang baru yang sejalan dengan UUD 1945. Di mana, pengelolaan migas dari hulu ke hilir diserakhkan seluruhnya ke perusahaan negara, dengan Pertamina sebagai operator.

Salah satu kontraktor migas terbesar di Indonesia adalah Chevron. Melalui anak usahanya yaitu Chevron Pacific Indonesia, telah memproduksi 30% dari total produksi minyak di Indonesia. Sementara perusahaan asal Prancis, Total E&P Indonesie menguasai sekitar 25% produksi gas di Indonesia. Perusahaan tersebut mempunyai blok di Kalimantan Timur. Beberapa megaproyek di bidang migas masa depan juga berada di tangan asing. Antara lain adalah blok Cepu yang dikelola oleh ExxonMobil dan proyek gas Masela yang dikelola oleh Inpex.

Related posts