BI Prediksi Total Belanja Pemilu 2014 Meningkat - Biaya Kampanye Lebih Rendah

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) memperkirakan total belanja pengeluaran untuk penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2014 mendatang akan mencapai Rp44,1 triliun, per triwulan II 2014. Deputi Gubernur BI Terpilih Perry Warjiyo, mengatakan pada pelaksanaan Pemilu tahun 2009 lalu, total belanja pengeluaran sebesar Rp43,1 triliun, per triwulan II 2009.

“Waktu itu (Pemilu 2009), spending (anggaran yang dikeluarkan) dimulai dari triwulan IV 2008. Kemudian sempat meningkat di triwulan I 2009, lalu turun di triwulan II 2009. Jadi, estimasi kita, ya, sekitar Rp44,1 triliun selama setahun (empat kuartal). Yaitu dimulai dari triwulan III 2013, lalu meningkat di triwulan keempat serta puncaknya di triwulan I 2014, dan terakhir triwulan II 2014,” kata Perry di Jakarta, Jumat (12/4), pekan lalu.

Dia mengungkapkan, setelah BI menghitung pengeluaran pemilu pada 2013 dan 2014, kemudian berdasarkan pola pengeluaran yang terjadi dalam Pemilu 2008-2009, maka akan ada dampak sebesar 0,13% terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Di mana untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia, BI memprediksi akan mencapai 6,4% pada tahun ini.

Perry juga menambahkan, biaya kampanye diprediksi akan lebih rendah apabila partai politik menggunakan tokoh terkenal, misalnya selebritis, dalam melakukan kampanye. Hal itu jauh lebih efisien ketimbang menggunakan “orang baru” dalam pelaksanaan kampanye.

“Estimasinya, jika menggunakan orang baru, maka ongkos politiknya bisa dikisaran Rp500 juta hingga Rp1,8 miliar. Itu selama setahun,” tegas Perry. Alasan mengapa BI menurunkan estimasinya terhadap total pengeluaran Pemilu 2014 mendatang lantaran disebabkan oleh beberapa hal, seperti jumlah partai politik dan alokasi jatah kursi di DPR.

“Jumlah partai politik peserta Pemilu 2014 lebih sedikit, yaitu 12 partai. Tahun 2009, ada 44 partai, 38 pusat, dan 6 lokal. Lalu, calon legislatif dahulu 120% dari jumlah kursi, sekarang 100% dari jumlah kursi. Makanya kita lihat totalspending-nya lebih kecil, karena jumlah calon legislatif (caleg) dan partainya sedikit,” paparnya.

Perry juga mengakui, sesuai dengan apa yang telah terjadi pada masa Pemilu 2008-2009, bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia memang terbantu naik atau mengalami peningkatkan dikarenakan adanya penyelenggaraan Pemilu yang termasukeventbesar yang berpengaruh terhadap seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Devisa hasil ekspor

Terkait devisa hasil ekspor (DHE), Perry menjelaskan, berdasarkan data sementara per Februari 2013, ekspor yang terjadi mencapai US$14,5 miliar. “Jadi DHE-nya sebesar US$11,7 miliar, dan yang sudah masuk perbankan nasional sebesar US$9,9 miliar. Sehingga rasionya sebesar 84%,” jelas dia.

Namun Perry mengaku tidak mungkin 100% DHE akan masuk ke Indonesia. Pasalnya, di negara lain pun tidak sampai 100% DHE yang disimpan dalam kas negara. “Tapi beberapa langkah sudah kita lakukan agar DHE banyak masuk. Perusahaan-perusahaan elektronik multinasional sudah (masuk), serta perusahaan migas juga kalau per Februari sudah (masuk),” terangnya.

Oleh karena itu, Perry mendorong agar bank yang memenuhi syarat untuk membuka unit kegiatan penitipan dengan pengelolaan (trust) bisa segera melakukannya setelah mendapat izin BI. Dengan masuknya DHE, tentu saja akan berpengaruh positif bagi bank itu sendiri.

“Isu kita adalah bahwa dengan adanya bisnistrust, dari DHE yang masuk sebesar 84%-85% itu bisa (segera) diputarkan. Jadi manfaat bagi banknya semakin besar. Sampai saat ini sudah ada dua bank yang memperoleh izin prinsip sehingga bisa segera operasional. Kemudian yang sudah dapat surat penegasan untuk operasional bisnistrust ada satu bank,” pungkasnya. [ria]

Related posts