IPO Tahun Ini Dinilai Lebih Semarak

NERACA

Jakarta- PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menegaskan keyakinannya, jika pelaksanaan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) tahun ini akan lebih banyak dibanding tahun sebelumnya. Bahkan target IPO sebanyak 30 emiten tahun ini akan terealisasi, “Di 2012 lalu sampai dengan Juni sudah ada 13 perusahaan yang IPO, dan sampai dengan akhir tahun tercapai 23 emiten dari target 25 emiten.” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Menurutnya, kondisi perekonomian dan gejolak negara yang timbul tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja pasar modal. Selain itu, dibanding tahun sebelumnya, tingkat kebutuhan ekspansi usaha perusahaan di tahun 2012 sudah lebih banyak dibiayai oleh keuntungan operasional.

Selain beberapa calon emiten yang telah melakukan mini ekspose sebelumnya, kata Hoesen, ada satu emiten yang baru saja melakukan pemaparan publik terbatas (mini ekspose) untuk mendapatkan kontrak pendahuluan perizinan proses IPO, yaitu PT Electronic City.

Pihaknya mencatat, sedikitnya ada 18 calon emiten yang telah melakukan mini ekspose kepada BEI dari akhir 2012 sampai dengan tahun ini. Salah satunya, PT Saratoga Investama Sedaya yang akan melepas sekitar 10%-15% ke publik pada Mei 2013. Anak usaha Saratoga pun, PT Mitra Pinasthika Mustika yang bergerak di bidang distribusi kendaraan bermotor juga merencanakan untuk dapat melaksanakan IPO.

Adapun calon emiten lainnya yang telah melakukan mini ekspose, yaitu PT Bank Mestika, bank umum swasta devisa yang berkantor pusat di Medan, Sumatra Utara yang fokus pada usaha pada retail banking juga telah melakukan mini ekspose. Dalam pelaksanaan penawaran sahamnya, Bank Mestika berencana melepas sebesar 10% saham ke publik.

Dalam IPO ini, Bank Mestika akan memakai laporan keuangan Desember 2012 dan menunjuk PT Ciptadana Securities sebagai penjamin pelaksana efek. Sementara dari perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ada PT Semen Baturaja yang akan melepas kepemilikan sahamnya sebesar 35% ke publik pada kuartal kedua ini. BEI telah menerima dokumen pernyataan pendaftaran dari perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sejak akhir Maret 2013.

Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan sebelumnya mengatakan, pasar saham Indonesia dalam posisi sangat positif, dimana demand asing terus bertambah pada kisaran belasan triliun. Hal tersebut didukung oleh kondisi fundamental Indonesia, di samping belum pulihnya pasar dan situasi ekonomi di Amerika dan Eropa.

Bahkan dia memproyeksikan aksi beli bersih (net buy) asing diperkirakan melebihi Rp 40 triliun pada akhir tahun ini. Selain itu, kinerja sektor pertambangan juga menunjukkan adanya tanda-tanda perbaikan. Menurutnya, faktor politis tidak akan berpengaruh signifikan terhadap kondisi pasar saham. “Investor kita sudah sangat rasional saat ini. Apa yang terjadi dalam praktik politik praktis tidak banyak mempengaruhi pasar, “ ujarnya. (lia)

Related posts