Apa Manfaat APEC?

Momentum pertemuan APEC 2013 akan digelar di Bali, Indonesia pada Oktober 2013 merupakan sebuah kepercayaan internasional yang patut jadi fokus perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pasalnya, Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan APEC untuk kedua kalinya.

Tema yang diusung oleh Indonesia dalam pertemuan APEC 2013 yaitu “Resilient Asia- Pacific: The Engine of Global Growth” yang menggambarkan sebuah pengakuan bahwa kawasan Asia- Pasifik merupakan 60% dari kegiatan perdagangan dunia dan penggerak pertumbuhan dunia.

Bagaimanapun, kawasan Asia- Pasifik memiliki sesuatu yang dibutuhkan oleh hampir semua belahan di dunia, dan tidak terbatas pada investasi, finansial, teknologi, dan teknologi, tetapi termasuk juga geopolitik. Namun, jika saja ada negara besar yang karena tuntutan geopolitiknya mengharuskannya mengambil kebijakan politik unilateral, maka forum APEC mau tidak mau harus mampu mengimbanginya.

Di APEC sendiri ditemukan lima kawasan yang masingmasing memiliki nilai strategis untuk mereka secara individual maupun kolektif yaitu Asia Tenggara, Amerika Utara, Amerika Latin, Asia Timur, Pasifik Barat Daya, dan Eropa Timur. Jadi dengan memahami bobot strategis APEC, dapat diketahui ke arah mana APEC akan bergerak.

Apabila dilihat dari perspektif ekonomi, terlihat anggota inti APEC berasal dari tiga kawasan yaitu Asia Timur, Asia Tenggara, dan Amerika Utara. Tiga kawasan ini masing-masing mempunyai ekonomi kunci yang dalam praktiknya saling bergantung dan saling bersaing. Namun dalam konteks APEC, kawasan ekonomi itu memang berperan sebagai mesin pertumbuhan global dalam pencapaian tujuan APEC ke depan.

Tetapi, “resilient” itu menjadi tidak memiliki dampak terhadap kawasan Asia-Pasifik jika ekonomi kunci itu justru malah saling bersaing dan mengabaikan kepentingan bersama APEC. Karena dalam geoekonomi berlaku prinsip “trade follows the flag”.

Sebab, bila anggota APEC ternyata lebih mengedepankan keunggulan atau kelebihannya dari bobot strategis di atas, Asia- Pasifik bukan hanya akan menjadi rawan terhadap konflik-konflik bilateral, dan karena itu tidak lagi memiliki “resilient”, tetapi juga Asia-Pasifik dipastikan akan kehilangan perannya sebagai mesin pertumbuhan global.

Niat Indonesia untuk membuat kawasan Asia Pasifik memiliki ketangguhan dan menjadi mesin pertumbuhan global sulit menjadi kenyataan. Bahkan mungkin saja APEC akan berubah menjadi forum yang didominasi negara big power tersebut dan APEC akan digiring ke arah pemenuhan kepentingan geopolitik mereka.

Terkait dengan konteks ini, geostrategi dipandang sebagai kebijakan luar negeri negara anggota APEC tertentu untuk memproyeksikan kekuatan ekonomi maupun diplomatik pada salah satu dari kawasan-kawasan dari mana anggota APEC berasal. Akibatnya mereka harus fokus hanya pada bidang politik atau ekonomi atau militer di kawasan tertentu.

Kalau kemudian anggota APEC memperlihatkan indikasi ke arah itu, kemungkinan APEC menjadi forum kompetisi sumber daya (resources) lebih besar ketimbang menjadi forum untuk membangun kerja sama dalam eksplorasi sumber daya.

Akibatnya, kohesivitas APEC akan terongrong dan berada di bawah kendali geostrategi negara-negara dari kawasan tertentu. Sehingga makna geostrategi dari tema yang diusung oleh Indonesia tersebut , adalah bahwa gagasan “Resilient” Asia-Pacific mengandung pesan upaya bersama anggota APEC untuk membuat kawasan ini mempunyai ketangguhan terhadap guncangan-guncangan ekonomi. Indonesia perlu persiapan matang menghadapi ini.

Related posts