Produksi Kakao Turun Drastis - Program Pengembangan Oleh Kementan Gagal

NERACA

Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Zulhefi Sikumbang menilai Gerakan Nasional Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao yang dicanangkan sejak 2009 tidak berhasil. Gerakan yang telah menghabiskan dana Rp 3 triliun tersebut belum mampu mengangkat produksi bijih cokelat tersebut.

Diakui Zulhefi, program gerakan nasional tersebut memang ide dari Askindo. Namun dalam pelaksanaannya dikerjakan Kementerian Pertanian. \"Bentuk tidak tepat gunanya, pemerintah kasih bibit kakao dan pupuk juga. Tapi, pelaksanaan itu tidak didukung dengan langkah lanjutan yang baik, seperti pemberdayaan untuk petani dalam mengembangkan lahan pertanian kakao tersebut,\" kata Zulhefi di, Jakarta, Jumat (12/4).

Zulhefi mengungkapkan, hingga saat ini masih banyak petani kakao yang beralih menanam kelapa sawit dan karet. Kondisi ini pula yang menyebabkan peringkat Indonesia sebagai penghasil kakao di dunia masih belum mampu menggeser Ghana dan Pantai Gading.

Tak hanya dari kalangan petani, Askindo juga menyayangkan minimnya pertumbuhan di sektor industri kakao yang justru mengalami penurunan produksi. Sampai akhir 2012, produksi kakao Indonesia hanya mencapai 453.723 ton, atau lebih rendah dibandingkan 2006 yang mencapai sekitar 621.837 ton.

\"Angka penurunan pasokan hasil kakao tersebut karena tidak mampunyai petani yang mampu merawat tanaman kakao dengan baik dan tingginya kelembaban udara di Indonesia, sehingga hama tanaman kakao sering melebar,\" papar dia.

Bea Keluar Tinggi

Dalam kesempatan yang sama,Zulhefi juga mengungkapkan penerapan Bea Keluar (BK) tentang ekspor biji kakao yang mencapai sekitar 5% hingga 15% dinilai akan menyingkirkan dan meredupkan industri pengolahan kakao di dalam negeri. \"Seperti kita ketahui akibat dari penerapan tersebut, hampir sekira 90% eksportir kakao lokal yang tutup, akibatnya para petani tidak ada kekuatan penuh untuk mengatur harga, sehingga para industrilah yang dapat menentukannya,\"katanya.

Adapun Penerapan Bea Keluar (BK) tentang ekspor biji kakao yang mencapai sekitar 5 % hingga 15 % merupakan Peraturan Menteri Keuangan No 67/PMK.011/2010.Lebih lanjut, menurutnya penerapan dari BK kakao akan menimbulkan perkembangan industri pengolahan kakao di dalam negeri, adalah masuknya para asing. Tercatat hingga saat ini asing sekitar 70 % dan dalam negeri hanya 30 %. \"Saat ini asing punya jaringan dan pasar yang kuat, serta kapasitas gilingnya yang naik dari tahun 2011,\" jelasnya.

Dirinya mencontohkan, saat ini ada perusahaan olahan kakao di Indonesia yaitu Petra Food, hasil pengolahan tersebut dijual ke perusahaan Barrt Callebout. Hingga saat itu perusahaan tersebut menjadi. industri pengolahan kakao yang besar di ruang lingkup dunia.\"Perusahaan tersebut pantaslah disebut menjadi industri pengolahan yang baik dan terbesar di dunia,\" imbuhnya.

Penjualan Turun

Sementara itu, Penjualan kakao jenis bulk diperkirakan akan mengadapi masa suram pada tahun 2013 ini. Serangan hama telah membuat kualitas dan kuantitas produksi kakao menurun, sehingga harganya pun anjlok.

Sekretaris perusahaan PT Perkebunan Nusantara XII (persero), Herry Purwanto, mengatakan, perseroan selalu membukukan kerugian pada penjualan hasil budi daya coklat selama tiga tahun terakhir. \"Untuk itu, tanaman kakao yang produktivitasnya rendah dan tidak berprospek segera digantikan tanaman tebu,\" kata Herry.

Herry merinci, penjualan kakao jenis edel telah membuat perusahaan merugi Rp 1,2 miliar pada 2011. Tahun 2012, untung Rp 364 juta. Dan estimasi laba pada 2013 sebesar Rp 1,8 miliar. Sedangkan penjualan kakao jenis bulk pada 2011 merugi Rp 14,6 miliar. Kerugian berlanjut pada 2012 senilai Rp 5,4 miliar dan diprediksi terjadi kembali tahun ini sebesar Rp 3,5 miliar.

Penjualan kakao berkontribusi sebesar 8 % dari total laba perseroan pada 2012 sebesar Rp 127 miliar. Pada 2013, PTPN XII menargetkan laba bersih Rp 130 miliar. Dengan konversi lahan tanaman coklat menjadi tebu, diharapkan mendulang laba di atas Rp 25 juta per hektare. \"Itu juga langkah menyiapkan lahan tebu untuk pasokan pabrik gula Glenmore yang berkapasitas giling 8.000 TCD. Butuh 10 ribu hektare lahan tebu,\" ucap Herry.

Celakanya, masa suram penjualan kakao diiringi tren harga jual kakao yang terus anjlok. Jenis kakao edel high grade, realisasi rata-rata harga jual pada 2012 sebesar US$ 4,54, turun dibandingkan tahun sebelumnya US$ 4,94. Hal serupa juga terjadi pada low grade dengan realisasi rata-rata jual tahun 2012 sebesar Rp 16.654 per kilogram, atau turun ketimbang tahun 2011 sebesar Rp 34.804.

Hal serupa terjadi pada jenis kakao bulk high grade. Realisasi rata-rata harga jual pada 2012 sebesar US$ 2,73, turun ketimbang rata-rata harga jual tahun 2011 senilai US$ 3,55. Tahun 2013, ia memperkirakan, harga jual kakao kembali turun. Untuk edel high grade sebesar US$ 4,20 dan low grade Rp 14 ribu. Kakao bulk high grade menjadi US$ 2,50 dan low grade turun hingga Rp 12 ribu per kilogram.

Related posts