Serangan Anthrax dan Flu Burung

Serangan Anthrax dan Flu Burung

1993 wabah anthrax melanda Komeido, Tokyo. Sebanyak 10 orang meninggal dunia.

2003 avian influenza (AI) masuk Indonesia dan menjangkiti unggas jenis ayam. Puluhan ekor mati.

2005 avian flu burung menjangkiti manusia, tiga orang meninggal dunia di Serpong, Tangerang Selatan. Korbannya, Iwan dan dua anaknya. Iwan meninggal tak lama setelah pulang dari luar negeri.

2005 Serangan anthrax melanda Kedutaan Besar Repubik Indonesia (KBRI) untuk Australia di Canberra pada bulan Juni. Selama satu pekan, komplek gedung itu dituttup untuk sterilisasi. Setiap karyawan yang masuk harus menjalani pemeriksaan yang sangat ketat.

2006 Avian flu di Tanah Karo diklaim sebagai human to human transmission. Tapi berhasil dikoreksi. Jika tak dilawan, Indonesia akan diembargo dan secara ekonomi akan kolaps, dan harus bertekuk lutut pada WHO. Namun tak ada data berapa korban jiwa dalam kasus itu.

2007 Indonesia menolak mengirim virus H5N1 ke WHO. Akibatnya Menkes dihujat oleh seluruh dunia, termasuk kalangan di dalam negeri. Sebaliknya, pemerintah Indonesia menuntut agar virus yang sudah dikirimkan ke WHO, dikembalikan.

2008 diketahui, beberapa virus yang dikembalikan itu, terdapat virus yang sudah direkayasa menjadi virus gabungan antara H5N1 dan H1N1, turunan virus yang ada di Puerto Rico, di kawasan Karibia, Amerika .

Indonesia berjuang menegakkan kedaulatan negara yang sedang berkembang dalam menghadapi wabah. Selama ini negara yang sedang berkembang senantiasa menjadi korban yang tidak berdaya. Indonesia minta agar WHO berlaku adil dan transparan.

2009 Negara Meksiko diserang wabah flu burung H1N1, tapi disebut sebagai swine flu. Kasus itu terjadi sepanjang bulan April.

2011 Pada Maret 2011, WHO akhirnya merevisi sistem virus sharing sesuai dengan tuntutan Indonesia, walaupun masih ada usaha-usaha untuk tetap tidak adil. Kalangan anggota (WHA) pun semakin sadar dengan perlakuan WHO.

2012 Pada tanggal 23 April, gedung Kedutaan Besar Perancis untuk Indonesia di Jakarta mendapat serangan virus sebangsa anthrax. Namun, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Letjen TNI Marciano Norman menyatakan tidak ada tak ada anthrax yang menyerang Kedubes Prancis. Kendati demikian, pola penanganannya dilakukan secara tepat, kendati Jakarta tak memliki peralatan yang memadai, tapi mampu meredam serangan itu.

Tak jelas kapan waktunya, pilot Fokker 27 yang terbang di ketinggian 2.743 meter atau 8.000 feet dan dengan kecepatan 400 kilometer per jam, memergoki pesawat milik Amerika Serikat jenis S2R melintasi di ketinggian 3.048 meter atau 10.000 feet. Pesawat itu melaju dengan kecepatan 287 kilometer per jam.

Pesawat S2R itu ketahuan menyebarkan serbuk virus saat berada di kota Bolondron, puluhan kilometer sebelah timur Havana, ibukota Mexico. Alhasil, dalam hitungan bulan berikutnya, ratusan warga terjangkiti virus flu burung dengan spasialis yang berbeda, yaitu H1N1. Sedangkan Indonesia, flu burung berasal dari jenis H5N1.

Ketika itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) membuat beberapa hal yang tidak sesuai dengan aturan main yang berlaku. Yaitu, pertama, saat menentukan nomenklatur virus. Kedua, dalam mengumumkan jenis virus baru. Ketiga, WHO juga gegabah menetapkan global pandemik. Keempat, menetapkan pemberian vaksin H1N1 yang ternyata tidak perlu. (saksono)

Related posts