Nasib Namru-2 di Tangan Siti Fadilah

Nasib Namru-2 di Tangan Siti Fadilah

Negara di dalam Negara. Ungkapan itu cukup tepat untuk menilai keberadaan Naval Medical Research Unit 2 (Namru-2) yang ada di Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Sebab, laboratorium yang berada di komplek Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Kesehatan itu dioperasikan oleh tentara Angkatan Laut Amerika Serikat itu seakan tak tersentuh hukum dan otoritas pemerintah Indonesia.

Para staf laboratorium yang berjumlah 19 orang itu mengantungi hak kekebalan diplomatik, walaupun sejatinya mereka bukan diplomat. Banyak hasil riset yang tak bisa disentuh pemerintah Indonesia, sampai-sampai Menhankam/Pangab Jenderal Wiranto minta Menteri Kersehatan agar menutup Namru-2 karena dinilai tak membawa manfaat.

Menlu Alwi Shihab pada 19 November 1999 juga minta Presiden BJ Habibie untuk melalui Menlu menghentikan program Namru-2, kendati masih membuka perundingan agar ke depan laboratorium itu juga bermanfaat bagi bangsa Indonesia. Empat tahun kemudian, Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari menutup Namru-2 pada November meninjau ulang perjanjian tentang Namru-2. Pada 28 Januari 2000, pemerintah 2004. Namun, presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan dibuka lagi. Namru-2 berdiri pada 16 Januari 1970 yang ditandai dengan penandatanganan naskah kerjasama antara Menteri Kesehatan GA Siwabessy dan Duta Besar AS untuk Indonesia Francis Galbraith. Pendirian Namru-2 atas permintaan Indonesia agar AS mau membantu Indonesia mengatasi wabah penyakit malaria dan campak.

Dalam naskah perjanjian, tidak disebutkan batas waktu keberadaan Namru-2. Tapi, hanya dituliskan, pembatalan sebelum 10 tahun, harus disepakati dua belah pihak. Baru selewat 10 tahun, masing-masing bisa membatalkannya.

Kemenkes mengharuskan rumah sakit di Indonesia untuk mengirimkan sampel virus flu burung ke Namru-2 untuk diteliti. Namru-2 adalah unit kesehatan angkatan laut Amerika yang berada di Indonesia untuk mengadakan berbagai penelitian mengenai penyakit menular. Pada Desember 2005, Menkes Siti Fadilah melarang semua rumah sakit di Indonesia mengirim sampel virus, sebab masa kontraknya sudah habis.

Banyak pihak curiga Namru-2 lebih banyak melakukan kegiatan intelijen dari pada kerjasama riset kesehatan. Menteri Fadilah Supari terpaksa memutasi Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai pejabat eselon II karena telah mengirimkan sampel virus ke Namru-2 tanpa izin. “Ibu Endang pernah membawa virus flu burung tanpa sepengetahuan kami,” kata dia.

Pada 16 Oktober 2009, Namru-2 akhirnya benar-benar ditutup ditandai surat Menteri Kesehatan kepada Duta Besar AS untuk Indonesia Cameron Hume. “Dengan hormat, pemerintah Republik Indonesia menyatakan pemberhentian kerja sama,” ungkap Menkes.

Kendati demikian, sebelum menutup Namru-2, saat berkunjung ke Washington DC, AS, 15 September 2009, Menteri Fadilah Supari telah membuat kesepakatan dengan Menkes AS tentang kerjasama baru yang diberi nama Indonesia – United States Center for Medical Research (IUC). Kerja sama itu ditandai dengan pendirian laboratorium biomedis untuk pengembangan vaksin, alat diagnostik, identifikasi virus, bakteri, dan lainnya.

Tak lama kemudian, Menteri Fadilah Supari dicopot dari jabatannya karena memang sudah selesai masa baktinya dan tidak diperpanjang lagi. Yang mengejutkan, Presiden SBY pun menunjuk Endang sebagai pengganti Siti. Namun, Rahayu mengundurkan diri dari jabatannya karena sakit. Pada 2 Mei 2012, dia mengembuskan nafasnya yang terakhir. Paru-parunya digerogoti kanker stadium 4. (saksono)

Related posts