Pengamat: Jangan Hanya Data Sekilas - Sensus Pertanian BPS

NERACA

Jakarta – Sepanjang Mei 2013, Badan Pusat Statistik (BPS) akan melakukan Sensus Pertanian yang merupakan perhelatan rutin sepuluh tahunan. Pengamat ekonomi pertanian Bustanul Arifin mengingatkan bahwa Sensus Pertanian tersebut jangan hanya menjadi data-data begitu saja tanpa diolah lebih lanjut.

“Sensus Pertanian supaya bermanfaat perlu terhubung dengan sensus-sensus sebelumnya. Jadi ada keberlanjutan kebijakan. Keberlanjutan itu penting, karena keburukan kita adalah tidak pernah belajar apa yang menyebabkan seperti ini,” kata Bustanul kepada Neraca.

Bustanul mencontohkan kedelai. “Kita pernah berhasil produksi kedelai dengan kemampuan teknologi, sumber daya, lalu tiba-tiba sejak 1998 tarif impor dibikin nol. Kedelai kita hancur. Berarti kita tidak pernah belajar,” jelas dia.

Hal kedua yang dikritisi Bustanul dari Sensus Pertanian adalah bahwa seharusnya pemutakhiran data itu juga mengikutkan perusahaan pertanian. “Lakukan update direktori perusahaan, yaitu sensus mulai dari seberapa luas lahan sampai kepada seberapa banyak produksi. Harus ada teknik lain yang digunakan oleh BPS karena tidak semua perusahaan mudah melakukan itu,” kata dia. Sedangkan hal ketiga yang dikritisinya adalah bahwa seharusnya survei pendapatan petani dan struktur biaya produksi masuk dalam target sensus. BPS pernah punya data itu, tapi putus sejak 2001. Dengan data tersebut, bisa dipahami berapa biaya produksi petani. Dari survei ini bisa dikaitkan dengan penguasaan lahan, ketahanan pangan, dan kemiskinan.

Direktur Eksekutif Econit Hendri Saparini juga memiliki kritisi terhadap Sensus Pertanian yang berfokus pada data supply. “Sensus Pertanian harus bisa menyajikan data demand maupun supply, jadi tidak hanya produksi pertanian seperti lahannya dan jumlah petaninya. Tapi juga, berapa sih permintaan dari produk-produk pertanian, sehingga maping-nya bisa dibuat,” jelas dia. Permintaan konsumsi maupun permintaan untuk investasi, lanjut dia, perlu dibuat dengan jelas. “Dengan begitu, kita bisa mengerti perlu menyiapkan lahan seberapa lebar. Jadi harus tahu sekarang demand-nya seberapa,” kata Hendri. Sayang sekali kalau demand tidak dihitung, kata dia, karena penghitungan demand ini yang tidak akan dilakukan oleh Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian. Demand yang dimaksud bukan hanya demand dari rumah tangga, tetapi juga dari industri.

“Saya melihat Sensus Pertanian yang akan dilakukan itu hanya memotret saat ini. Sebaiknya, Sensus tersebut dapat menyajikan data kira-kira konversi lahan seberapa besar dari pertanian ke non pertanian, dari pertanian ke perkebunan. Kebijakan apa yang harus dilakukan kalau pertumbuhan konversi ini sangat tinggi. Repot kalau cuma memotret yang sekarang,” jelas Hendri. Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih memiliki fokus kritik yang berbeda. “Kami berharap, data-data akurat tentang distribusi dan penguasaan kepemilikan tanah. Itu yang paling mendasar bagi petani,” jelas Henry.

Hingga awal April 2013, BPS sudah menyiapkan banyak hal dalam rangka mendorong Sensus Pertanian ini berjalan baik. Kepala BPS Suryamin mengatakan akan menerjunkan 246.412 petugas dalam 61.603 tim. “Jadi ada tiga orang pendata dan ada satu orang koordinator,” kata Suryamin.

Pelatihan petugas pencacah, lanjut Suryami, dilakukan mulai dari minggu keempat Maret 2013 sampai akhir April 2013. Pelatihan ini akan terbagi dalam 13.147 kelas di seluruh Indonesia. “Untuk masa kampanye, sudah dimulai, baik di media cetak, televisi, maupun hiburan rakyat seperti di Ngawi. Semua itu dipersiapkan untuk pendataan Sensus Pertanian tanggal 1-31 Mei 2013,” pungkas Suryamin. [iqbal]

Related posts