Tolak Holding, Jajaran Direksi Indofarma Dirombak

NERACA

Jakarta – Penggantian direksi dan jajaran komisaris PT Indofarma Tbk (INAF) berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) INAF bukan karena penolakan usulan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menginginkan merger antara INAF dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF). “Pemegang saham mayoritas yaitu Dwiwarna yang memutuskan pergantian jajaran direksi ini, kita tidak mengetahui dasarnya apa. Ini bukan dikarenakan penolakan usulan menteri BUMN mengenai mergerantara INAF dan KAEF untuk membentuk holding BUMN farmasi,\" kata Direktur Utama Indofarma INAF, Elfiano Rizaldi di Jakarta (11/4).

Dia mengungkapkan, dari awal para pemegang saham meminta kerjasama Indofarma dan Kimia Farma bisa dipercepat. Alasannya, kerjasama ini akan menjadi sinergi yang bagus. Sementara untuk kapan akuisisi atau merger, kata Elfiano, belum bisa dijelaskan dan ini semua diserahkan kepada pemegang saham.

Rencana dalam jangka pendeknya, Indofarma dan Kimia Farma akan duduk bersama untuk membahas kekurangan dan kelebihan dalam sisi produksi. Pihak Indofarma sendiri inginkan adanya kemandirian bahan baku.

Saat ini, keinginan tersebut masih dalam tahap pengkajian dengan Kementerian Kesehatan mengenai pembangunan pabrik bahan baku. Berdasarkan hasil keputusan RUPS, pemegang saham menyetujui untuk mengganti Dirut dan tiga komisarisnya yaitu Komisaris Utama Akmal Taher yang sebelumnya dijabat oleh Supriyantoro, Komisaris dijabat oleh Rina Moreta sebelumnya Dumoly Pardede, dan komisaris independen Marzuki Abdullah digantikan oleh Fajar Rahman Zulkarnain dan Elfiano Rizaldi menggantikan Djakfarudin Junus. Selain itu, hasil RUPS juga memutuskan menurunkan gaji Dirut dari sebelumnya Rp 70 juta menjadi Rp 60 juta.

Sebagai informasi, Menteri BUMN Dahlan Iskan mengancam akan memecat direksi yang menghambat holding BUMN Farmasi. Dahlan mengungkapkan, lambatnya penggabungan kedua perusahaan tersebut salah satunya karena masalah internal dalam salah satu perusahaan, yaitu ketidaksetujuan salah satu direksi atas penggabungan kedua perusahaan. \"Karena masih ada yang tidak setuju, pihak sana tidak setuju, setelah ditelusuri ada direksi yang tidak ingin terlaksana, dia kemana-mana mencari backing agar program ini tidak berjalan,\"ujarnya Dahlan

Bagikan Dividen

Tahun ini, Indofarma akan membagikan dividen sebesar 10% atau senilai Rp 4,23 miliar dari perolehan laba bersih perseroan pada tahun 2012 sebesar Rp42,39 miliar, “Hasil RUPS memutuskan untuk pembagian dividen 10 persen dari laba bersih tahun lalu, pembagiannya paling lambat pada bulan Mei tahun ini,\" kata Elfiano.

Menurutnya, pembagian dividen ini adalah bentuk apresiasi perseroan kepada seluruh pemegang saham. Dirinya pun berharap, tahun depan pembagian dividen bisa diberikan lebih besar lagi dibandingkan tahun lalu.

Sepanjang tahun 2012, perseroan membukukan penjualan bersih sebesar Rp1,16 triliun atau turun dibandingkan 2011 yang mencapai Rp1,2 triliun. Sementara laba bersih Indofarma mengalami peningkatan dari Rp36,92 miliar pada 2011 menjadi Rp42,39 miliar di 2012. I

Hal ini disebabkan beban pokok penjualan perseroan mengalami penurunan sepanjang tahun lalu sebesar Rp788,16 miliar dari Rp807,28 miliar pada tahun 2011. Sementara penjualan tahun 2013 ditargetkan mencapai Rp 1,4 triliun dan akan didominasi penjualan obat generik. (nurul)

Related posts