Kenaikan Harga BBM Ancam Bisnis Logistik - Daya Saing Kian Melemah

NERACA

Jakarta - Pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang bakal menaikkan harga produk tersebut bakal kian memberatkan kondisi usaha pelaku jasa logistik. Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Iskandar Zulkarnain, memastikan jika kenaikan harga BBM semakin menurunkan daya saing usahanya.

Menurut Iskandar, kenaikan harga pada akhirnya akan memberatkan konsumen akhir, lantaran penyesuaian tarif logistik pasti dibebankan kepada pengguna jasa. Asumsinya, jika harga BBM naik 20%-30%, maka besaran kenaikan tarif logistik dipastikan sama dengan kenaikan harga BBM tersebut. \"Harga jadi naik. Makin berat daya saing,\" kata dia di Jakarta,Kamis (11/4).

Biaya logistik di Indonesia terbilang besar. Pada tahun 2011, biaya logistik Indonesia mencapai 24,64% dari PDB Indonesia atau sebesar Rp 1.800 triliun. Sementara Amerika Serikat hanya mencapai 9,9%, Jepang 10,6% dan Korea Selatan sebesar 16,3%.

Inefisiensi logistik Indonesia, yang salah satu indikatornya adalah biaya logistik, juga terekam dalam hasil survei Logistic Performance Index (LPI) oleh Bank Dunia. Tahun 2012 Indonesia menduduki peringkat 59 dengan skor LPI 2,94.

Peringkat itu jauh di bawah negara-negara tetangga di kawasan ASEAN, seperti Singapura di peringkat 1 dengan skor LPI 4,13, Malaysia di peringkat 29 dengan skor LPI 3,49, dan Thailand di peringkat 38 dengan skor LPI 3,18.

Sebelumnya Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi menyatakan kapasitas pelabuhan maupun bandara di Tanah Air saat ini belum mampu mengakomodasi kapal kargo dengan ukuran besar. Hal ini membuat pengusaha harus menggunakan pihak ketiga untuk melakukan pengiriman ini. \"Kita tidak punya kapal yang cukup sehingga menggunakan pihak ketiga,\" ujarnya.

Selain masalah transportasi, aspek promosi yang minim memberikan dampak terhadap produk-produk Indonesia, sehingga kurang dikenal oleh negara-negara dunia. Jika memang Pemerintah ingin menggenjot ekspor maka aspek promosi harus terus ditingkatkan. \"Kekurangan kita adalah promosi, selama ini kita serahkan urusan promosi itu kepada pelaku usaha masing-masing, tentunya terbatas,\" kata Sofjan.

Produk Indonesia memiliki keunggulan dari murahnya harga yang ditawarkan. Hal ini tentu menjadi nilai tambah dalam merebut pasar negara-negara berkembang dunia. Saking kompetitifnya, saat ini produsen yang berorientasi ekspor tengah memperbesar kapasitas produksinya. \"Produk negara maju memang kualitas tinggi tapi mahal. Cuma kalau Afrika, mereka ingin harga rendah,\" terang Sofjan.

Segmentasi Ekspor

Karena itu, dia berharap kedepannya perlu ada segmentasi pasar ekspor, yang mempromosikan ekspor berdasarkan daya beli masing-masing pasar. \"Selama ini mungkin kita terlalu terkonsentrasi kepada pasar ekspor tradisional, pasar baru seperti Afrika dan Eropa Timur yang potensial justru terlupakan,\" lanjutnya.

Selain itu, Sofjan juga mengharapkan pihak perbankan nasional juga berperan serta dalam mendukung penetrasi komoditas ekspor Indonesia ke pasar non-tradisional, melalui peningkatan porsi pembiayaan ekspor dalam portofolio kreditnya. \"Harapannya adalah UKM terus dibiayai supaya mereka bisa mengekspor lebih banyak, selain upaya untuk fasilitas pembiayaan (trade financing) karena sejauh ini perbankan nasional masih mengandalkan korespondensi dengan bank asing dalam hal itu,\" katanya.

Menurut Sofjan, melalui ajang Trade Expo Indonesia 2012, Apindo berharap para pengusaha Indonesia bisa saling melihat kekuatan produknya. Yakni produk yang berorientasi ekspor maupun produk yang diarahkan untuk konsumsi dalam negeri. \"Dengan begitu impor bisa dikurangi. Sebab, para pengusaha bisa saling mengetahui produk-produk impor yang sudah bisa diproduksi oleh produsen dalam negeri,\" jelasnya.

Di pihak lain, industri manufaktur di Indonesia masih terbelit banyak masalah. Selain regulasi yang susah untuk mendirikan perusahaan, industri padat karya ini juga terbelit masalah permodalan, masalah infrastruktur, dan tentu saja masalah mengenai ketenagakerjaan. Permasalahan buruh yang mengemuka belakangan ini ditengarai membuat takut investor, baik lokal maupu asing. “Ini kan masalah manufaktur kan turun terus, dan ini akan merugikan kita semua, akan ada masalah pengangguran,” kata Sofjan.

Dijelaskan Sofjan, perusahaan di Indonesia banyak yang berskala besar, demikian juga perusahaan skala kecil. “Tapi yang menengah tidak ada. Dan ini menyebabkan ketimpangan antara kita melihat kaya miskin terjadi, ketimpangan ekonomi. Ini bagaimana memperbaiki ini. Pemerintah kita saya melihat punya policy populis saja, karena semua dibebankan ke pengusaha,” jelas dia.

BERITA TERKAIT

Raup Dana IPO Rp 125 Miliar - Menteng Heritage Poles Kinerja Bisnis Perhotelan

NERACA Jakarta – Debut perdana di pasar modal, perdagangan saham PT Menteng Heritage Realty Tbk (HRME) dibuka melesat 69,5% menjadi…

DFSK Glory 560 Dijual dengan Harga Mulai Rp210 Juta

Manufaktur otomotif China Dongfeng Sokon (DFSK) mengumumkan produk terbaru DFSK Glory 560 akan dijual mulai Rp210 juta hingga Rp270 juta.…

Agen Sambut Baik Turunnya Harga Tiket

Sejumlah agen perjalanan di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, menyambut gembira kebijakan Pemerintah Pusat yang telah mengeluarkan aturan baru terkait penurunan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

AMMDes Pacu Produktivitas, Siap Rambah Ekspor

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian secara konsisten dan berkelanjutan terus mendorong pemanfaatan dan pengembangan Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes) untuk…

KKP Permudah Pelayanan Perijinan Pakan dan Obat Ikan

NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) percepat pelayanan perijinan pakan dan obat ikan. Ketentuan ini tercantum dalam Peraturan…

INDI 4.0 Untuk Ukur Kesiapan Sektor Manufaktur

NERACA Jakarta – Memasuki satu tahun implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0, pemerintah telah melaksanakan beberapa agenda yang tertuang dalam…