JJ Royal Coffee Segera Bikin Pabrik Baru - Potensi Pasar Besar

NERACA

Jakarta - Salah satu produsen kopi premium kelas satu JJ Royal Coffee berencana membangun pabrik baru di daerah Bekasi. Menurut Direktur Utama JJ Royal Coffee Yusuf Sumarta, pembangunan pabrik baru tersebut untuk meningkatkan produksinya. \\\"Pada akhir tahun ini, kami berencana membangun pabrik baru di Bekasi,\\\" ungkap Yusuf saat ditemui dalam peluncuran produk JJ Royal Coffee Tubruk di Jakarta, Kamis (11/4).

Menurut dia, potensi pasar kopi di Indonesia masih terbuka. Sebab jika dilihat dari konsumsi kopi perkapita orang Indonesia, terlihat masih cukup rendah dibandingkan dengan negara maju lainnya. Konsumsi konsumsi Indonesia hanya mencapai 0,6-0,9 kilo per kapita pertahun. Masih kalah dibandingkan dengan Finlandia yang mencapai 12 kg, Jerman mencapai 6,9 kg, Brazil mencapai 6 kg, Malaysia mencapai 2 kg dan Vietnam mencapai 1,1 kg per kapita pertahun.

Ia menjelaskan bahwa total market kopi di Indonesia mencapai Rp10 triliun pertahun. Hal inilah yang mendorong JJ Royal Coffee untuk masuk ke pasar ritel dengan meluncurkan JJ Royal Kopi Tubruk Specialty Grade 1. Kopi dalam bentuk sachet ini perpaduan antara biji kopi murni yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. \\\"Kami membandrol seharga Rp2.500. Memang jauh lebih mahal dibanding kopi sachet lain, namun penikmat kopi dapat merasakan kemurnian 100%kopi kualitas terbaik dari Indonesia untuk Indonesia,\\\" lanjutnya.

Kualitas Tidak Konsisten

Direktur eksekutif Asosiasi Kopi Spesial Indonesia, Ina Murwani menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi tinggi untuk menanam kopi spesial yang berkualitas premium, produksi kopi spesial di Indonesia belum setinggi negara penghasil kopi lainnya. Petani kopi di Indonesia umumnya masih kesulitan terkait masalah kontinuitas produksi dan konsistensi kualitas. \\\"Produksi kopi spesial kita sebenarnya terus meningkat. Hanya saja selama ini kelemahan kopi spesial kita karena kualitas yang cenderung tidak konsisten,\\\" ujarnya.

Kopi spesial merupakan jenis kopi yang memiliki persyaratan khusus, yakni biji kopi tanpa cacat primer, bersih dan ukuran yang seragam. Selama ini menurutnya permintaan kopi spesial dari Indonesia sebenarnya cukup tinggi. Selain dari AS yang merupakan pasar kopi spesial terbesar, permintaan juga datang dari Eropa, Australia, Jepang, Korea dan Tiongkok.

Ina mengatakan, produksi kopi spesial lokal tumbuh 20-30% setiap tahunnya. Pertumbuhan produksi tersebut seiring dengan peningkatan permintaan. Permintaan tertinggi datang dari AS yang ekspornya mencapai 40-50% dari total produksi. Karena itu, sebenarnya potensi pasar kopi spesial masih sangat besar. Kopi spesial biasanya merupakan kopi Arabika pilihan. Di tanah air, ada tujuh sentra produksi Arabika spesial, antara lain, Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Jatim di kawasan gunung Ijen, Kintamani Bali, Toraja, Flores dan Papua. Tiap tahun produksi kopi jenis Arabika sekitar 90-100 ribu ton, sedangkan kopi spesial sekitar 20 ribu ton.

Selain Arabika, pihaknya sedang mengembangkan kopi spesial dari jenis Robusta karena sebenarnya juga ada pasar yang menginginkan kopi Robusta. \\\"Di India terdapat kopi fine Robusta dengan harga 100-200 dolar Amerika per kg. Padahal, kalau harga normal hanya Rp28 ribu per kg. Tapi, untuk mendapatkan Robusta dengan kualitas yang tinggi tidak mudah,\\\" tuturnya. Ada persyaratan khusus mulai dari petik, fermentasi sampai pemilihan biji. \\\"Ini yang seharusnya bisa dimanfaatkan petani kopi kita,\\\" pungkasnya.

Road Map Kopi

Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Agro Kementerian Perindustrian, Benny Wachyudi mengungkapkan sedang menyusun road map untuk program hilirisasi industri kopi nasional dan pengembangan specialty coffee, yang menjadi bagian dari program tersebut. \\\"Kemenperin sedang meng-update sejumlah kondisi yang dialami sektor kopi. Programnya menyeluruh mulai dari hulu yakni peningkatan produksi petani hingga ke hilir, termasuk memperhitungkan aspek perdagangannya,\\\" katanya.

Benny menyatakan industri hilir kopi di dalam negeri menunjukkan pertumbuhan potensial, meskipun sporadis dan tidak dalam magnitude besar. \\\"Investasi di sektor kopi itu agak berbeda. Karena berupa consumer goods, ekspansinya bergantung pada pasar atau market driven,\\\" ujarnya.

Related posts