Harum Kopi Indonesia Merebak ke 74 Negara - Jadi Promadona di Pasar Ekspor

NERACA

Jakarta - Ahli Agronomi dan Hortikultura dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Ade Wachjar menjelaskan bahwa kopi asal Indonesia menjadi primadona di pasar ekspor dunia. Tak ayal, beberapa negara menginginkan kopi asal Indonesia.

\"Setidaknya ada 74 negara yang menjadi tujuan ekspor kopi Indonesia,\" ungkap Ade saat peluncuran produk JJ Royal Coffee di Jakarta, Kamis (11/4).

Diantara 74 negara yang menjadi tujuan ekspor Indonesia, 10 diantaranya adalah Jepang, Amerika, Malaysia, Italia, Jerman, Belgia, Inggris, India, Maroko dan Algeria. \"Dari ekspor tersebut, kopi menjadi salah satu penyumbang devisa negara. Pada 2012, ekspor kopi mencapai 425 ribu ton atau senilai dengan US$1,3 miliar. Angka ini meningkat 30% dibandingkan dengan 2011 yang mencapai 350 ribu ton,\" tambahnya.

Namun ia menyayangkan disamping Indonesia adalah penghasil kopi terbesar di dunia namun tingkat konsumsi kopi Indonesia masih jauh lebih rendah dibandingan dengan negara-negara lain. \"Tingkat konsumsi Indonesia hanya mencapai 0,6-0,9 kilo per kapita pertahun. Masih kalah dibandingkan dengan Finlandia yang mencapai 12 kg, Jerman mencapai 6,9 kg, Brazil mencapai 6 kg, Malaysia mencapai 2 kg dan Vietnam mencapai 1,1 kg per kapita pertahun,\" tambahnya.

Sementara itu, Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Kementerian Perdagangan, Mardjoko, menyatakan, kopi menjadi salah satu andalan ekspor nonmigas Indonesia. \"Kontribusi naik terus selama 2007-2012,\" katanya. Ia menjelaskan, pertumbuhan ekspor kopi rata-rata mencapai 10,5% per tahun. Total kontribusi kopi untuk ekspor nonmigas pada 2012 naik 20,5% dari tahun sebelumnya menjadi US$ 1,2 miliar. Namun, katanya, nilai tersebut masih tercatat kurang dari satu persen dalam total ekspor nonmigas.

Mardjoko menambahkan, kinerja ekspor kopi bisa dianggap menggembirakan, dengan volume 448 ribu ton tahun lalu. Meski demikian, menurut dia, Indonesia masih menghadapi masalah perkopian. \"Menyangkut kandungan karbaril yang diterapkan Jepang,\" ucapnya.

Ia menyampaikan, Jepang hanya bersedia menerima kopi dengan kandungan karbaril maksimal 0,01 miligram per kilogram. Padahal, Eropa dan Amerika Serikat tidak menerapkan kebijakan seketat itu. Menurut Mardjoko, Amerika Serikat dan negara-negara Eropa masih mau menerima kopi dengan kandungan karbaril 0,1 miligram per kilogram. \"Tantangannya sekarang adalah negosiasi dengan Jepang agar kopi kita bisa tetap masuk,\" kata Mardjoko.

Produksi Rata-rata

Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), Irfan Anwar menjelaskan, luas areal produktif perkebunan kopi Indonesia dewasa ini mencapai 950.000 hektar dari luas areal perkebunan kopi sebesar 1,3 juta hektar. Dari luar areal produktif tersebut dihasilkan kopi dengan produksi rara-rata 750.000 ton per tahun. Artinya, dari sekitar 5 juta keluarga petani kopi, dihasilkan 780 kilogram per hektarnya.

Sementara itu, Vietnam yang hanya memiliki lahan produktif seluas 550.000 hektar mampu menghasilkan 2.000 – 3.000 kilogram per hektar. Juga Brazil yang mampu memproduksi 3.000 – 4.000 kilogram per hektar. Dijelaskan Irfan, peningkatan produksi kopi nasional bisa dilalukan dengan program intersifikasi yang meliputi beberapa langkah. Antara lain pemberian pupuk yang ramah lingkungan dengan harga terjangkau bagi para petani. Perlu juga dilakukan penggantian tanaman tua dengan tanaman bibit unggul yang diberikan secara gratis kepada petani. Dan, penyuluhan kepada petani untuk melakukan budidaya kopi dengan benar.

Sementara, program ekstensifikasi dapat dilakukan dengan cara pembukaan lahan baru untuk kopi arabika pada lahan-lahan yang sesuai di wilayah Aceh Tengah (Aceh), Cangkringan (Yogyakarta), Tana Toraja (Sulawesi Selatan), Flores dan Papua. Langkah lain ialah penanaman kopi arabika di areal kehutanan tanpa menggangu ekosistem hutan. \"Hal ini telah dilakukan oleh pihak inhutani di Kabupaten Bandung Barat, Sukabumi, Cianjur dan beberapa kabupaten di Jawa Barat,\" terang Irfan.

Ekspor Fluktuatif

Selama beberapa tahun belakangan ini, jelas Irfan, volume eskpor kopi nasional juga mengalami fluktuasi meski mulai mengalami peningkatan hingga pada tahun 2012. Tahun 2010, volume ekspor sempat mengalami penurunan. Total ekspor saat itu hanya mencapai 440,241 ton. Penurunan itu berdampak pada tahun berikutnya menjadi sebesar 353,698 ton atau turun sebesar 25%.

Namun, pada tahun 2012 mulai membaik menjadi 510.000 ton atau naik 45%.Hal lain yang cukup menggembirakan ialah, selain ekspor kopi biji, ekspor kopi instan juga meningkat menjadi 70.000 ton. “Ini merupakan peningkatan signifikan dibanding tahun 2011 sebesar 7.196 ton. Hal ini membuktikan bahwa industri pengolahan kopi dalam negeri terus bergairah,” ujarnya.

Dari sisi devisa negara, nilai ekspor kopi Indonesia tahun 2012 diperkirakan mencapai di atas 1,5 juta US$. Menurut Irfan, angka tertinggi yang pernah dicapai sejauh ini. Namun, yang tidak kalah menarik ialah, konsumsi kopi dalam negeri yang juga mengalami kenaikan yang cukup berarti.

Related posts