Keberanian Melawan Imperialisme

Oleh Bani Saksono

Wartawan Harian Ekonomi Neraca

Seluruh peserta dialog publik di Gedoeng Joeang 45, di Jalan Menteng Raya 31, Jakarta Pusat memberikan tepuk tangan ketika dengan lantang Ketua Umum Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Siti Fadilah Supari menceritakan kembali pengalamannya melawan kaum komprador kesehatan yang berada di bawah kekuasaan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Belum selesai menangani para korban bencama tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 yang menewaskan ribuan orang, Siti Fadilah yang ketika itu menjadi Menteri (Menkes) sudah mendapat ujian baru lagi, yaitu menghadapi wabah virus flu burung yang katanya berasal dari Negeri China.

Ternyata, wabah itu bukan kasus alamiah biasa seperti yang diderita kaum Nabi Ayyub yang dihukum Tuhan karena tidak mau mengikuti ajaran Ayyub. Dari hasil analisis sejumlah pakar, wabah flu burung (avian influenza) yang melanda Indonesia tidak alami. Jika alamiah, virus yang dibawa secara migrasi oleh burung dari Negeri China tentu tidak secara langsung menuju Jawa Timur yang letaknya jauh.

Jika sesuai alur, harusnya burung-burung migrasi itu hinggap dulu di kawasan Sumatera. Atau bahkan mampir lebih dulu di Thailand atau Vietnam. Tapi korban jatuh akibat flu burung di Thailand dan Vietnam tidak sebanyak di Indonesia. Ada rekayasa atas kehadiran virus itu.

Alhasil, virus dari negeri berkembang pun dikomersialkan. Pihak WHO meminta sampel virus untuk diteliti. Tapi kenyataannya, oleh pihak WHO, virus itu diserahkan lagi ke kalangan swasta di Amerika maupun di Eropa untuk dibuatkan vaksinnya. Dan vaksin itu yang dijual mahal kepada negeri yang tengah dilanda wabah tersebut. Komersialisasi vaksin.

Duta besar khusus AS John Lange yang menemui Menkes Fadilah Supari menyatakan pemerintah AS telah banyak membantu RI mengatasi flu burung. Kementerian Pertanian telah mendapat bantuan hingga US$ 53 juta. Lange membujuk agar Fadilah tidak mengusik WHO. Fadilah justru mempertanyakan mengapa virus H5N1 dari Indonesia sudah berada di Los Alamos, New Mexico, tempat laboratorium Kementerian Energi AS. Lab itulah yang dulu menciptakan bom atom yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki.

Siti Fadilah pun bercerita, dalam rangka kunjungannya ke India, mendapat suguhan buah pisang dan jeruk yang kelihatannya tidak segar. Jauh dibandingkan dengan buah-buahan impor yang banyak dijual di pasar-pasar tradisional maupun supermarket di Indonesia.

Rupanya itu adalah buah segar lokal. Tak ada buah impor dan supermarket moderen yang menjanjakan barang impor. Itu adalah ajaran swasembadanya Mahatma Gandhi. Indonesia, sebetulnya Presiden Soekarno pernah mengajarkan bangsanya untuk berdikari, berdiri di atas kaki sendiri, tanpa banyak menggantungkan diri pada orang lain atau orang asing. Saat Presiden Soeharto, kita dengar istilah swasembada.

Namun, baik kata berdikari maupun swasembada sudah mulai dilupakan orang, baik pejabat, masyarakat, maupun pengusaha. Semua tergoda untuk memakai barang atau mengonsumsi produk asing, yang katanya lebih murah, lebih enak, dan dengan kemasan yang lebih bagus.

Related posts