Waspadai Bisnis Vaksin di Balik Wabah Flu Burung

Lagi-lagi, Indonesia telah dijadikan ajang bisnis multinasional dengan berbagai modus. Tidak hanya murni bisnis semata. Bahkan, cenderung dalam satu modus, Indonesia telah dijadikan obyek pemerasan oleh pengusaha kapitalis yang bersembunyi di balik hegemoni lembaga PBB. Nasib serupa juga dialami negara-negara miskin dan berkembang.

Awalnya adalah adanya wabah penyakit flu burung (avian influenza-AI) yang masuk ke Indonesia pada 2003. Ketika itu, yang diserang masih pada ayam. Pada 2005, virus AI atau yang disebut H5N1 itu sudah menyerang pada manusia. Tiga orang meninggal dunia. Wabah di tanah Karo pada 2006 bahkan sudah dinyatakan sebagai wabah yang menular dari manusia ke manusia. Indonesia terancam diembargo hingga negara kolaps, lalu datanglah dewa penolong.

Sejak 2005, hingga 2012, di Indonesia tercatat ada 191 kasus AI. Sebanyak 159 orng meninggal. Lalu, sekitar 150 ribu itik di 50 kabupaten di sembilan provinsi di Indonesia mati, hingga November 2012. Seorang balita di Bogor meninggal akibat terjangkiti H5N1 dari unggas yang mati.

Mengantisipasi makin merebaknya wabah flu burung itu, akhir tahun 2012 lalu Menko Kesra HR Agung Laksono pun menyatakan, pemerintah akan mulai memproduksi vaksin flu burung tahun dan mengalokasikan lagi dana kompensasi untuk depopulasi atau pemusnahan unggas yang terkena wabah.

Terhadap timbulnya wabah penyakit seperti itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) pun menyarankan pemusnahan unggas yang terkena wabah tersebut. WHO pula mewajibkan negara yang dilanda wabah itu untuk menyerahkan sampel virus ke Global Influenza Surveillance Network (GISN) yang berada di bawah WHO.

Tak lama kemudian, datangkan vaksin AI untuk menanggulangi wabah flu burung tersebut. Tak lama berselang, muncullah wabah AI dengan varian yang berbeda. Kalau di Indonesia H5N1, di Meksiko AI yang beredar berasal dari varian H1N1. Wabah serupa juga dalam bentuk virus anthrax.

Namun, sejak 2007, Indonesia menolak menyerahkan virus AI ke GISN-WHO. Akibatnya, Menteri Kesehatan ketika itu Siti Fadilah Supari harus tabah menerima hujatan karena berani-beraninya melontarkan adanya kecurangan WHO. Saat berbicara dalam dialog publik bertajuk Mengurai Tingkat Ketahanan Negara dan Masayarakat Terhadap Ancaman Bioterorisme, Selasa (9/4) di Jakarta, Siti Fadilah mengungkapkan, pihak GISN WHO telah melakukan kecurangan dan ketidakadilan.

“Tragedi flu burung di negara berkembang telah dikomersialkan dengan cara oleh GISN menyerahkan virus kiriman dari negara terkena wabah ke perusahaan swasta agar dibuatkan vaksinnya,” kata Siti Fadilah yang kini menjadi penasihat Presiden SBY. Semula, perusahaan itu menciptakan vaksin untuk virus H5N1, tapi belakangan swasta besar di Amerika Serikat itu juga memproduksi vaksin untuk virus jenis H1N1. Alhasil, WHO pun menjual vaksin itu ke negara-negara yang terkena wabah.

Bahkan, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari pun meminta balik virus yang pernah dikirimkan ke WHO. Dari 4-5 virus H5N1 yang dikembalikan, rupanya 2-3 virus di antaranya sudah direkayasa menjadi virus H1N1. Karenanya, Menkes berkampanye mengajukan usulan deklarasi untuk mereformasi WHO agar berbuat adil dan transparan dalam mengatasi wabah penyakit di negara-negara berkembang.

Tudingan Siti Fadilah pun dibenarkan Dr Wolfgang Wodarg, chairman of the health committe of PACE. Pada Januari 2010 Wolfgang berhasil menginvestigasi para ilmuwan di WHO. Hasilnya, benar mereka telah melakukan skandal terbesar abad ini. “Jangan sampai bangsa Indonesia menerima penjajahan ini, Waspada di tiap kerjasama penelitian dengan bangsa lain terutama jika harus memberikan atau menggunakan material biologi kita,” tutur Siti Fadilah yang juga ketua umum Dewan Kesehatan Rakyat (DKR).

Selamatkan Uang Negara

“Kasus flu burung itu adalah kasus bioterorisme yang lebih dimotivasi oleh kepentingan bisnis dari pada aspek kemanusiaan,” tutur pengamat bioteror Isroil Samihardjo, kepada Neraca, di sela-sela diskusi yang digagas DKR dan Ditjen Kesatuan Bangsa dan Politik Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) tersebut.

Isroil, ejabat dari Badan Intelijen Negara (BIN) itu mengakui, hasil kerja keras Siti Fadilah itu pun berhasil menyelamatkan uang Negara hingga triliunan rupiah.

Sekjen DPN Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Fadli Zon mengungkapkan kecurigaannya dengan wabah flu burung tersebut. Sebab, tiga orang korban meninggal di Tangerang itu tidak bersinggungan dengan unggas-unggas yang sudah terjangkiti virus H5N1. Sebab, salah satu dari ketiganya baru saja pulang dari luar negeri.

Dari hasil riset yang dilakukan Kemenkes ketika itu disimpulkan bahwa H5N1 tidak menular dari unggas ke manusia. “Jadi ada dugaan bahwa penyebaran flu burung yang terjadi berkaitan dengan upaya bioterorisme,” kata Fadli.

Dia pun menganalisis, virus H5N1 yang menyerang Indonesia diduga kuat berasal dari China. Jika penyebabnya karena migrasi unggas, kata Fadli, faktanya Indonesia bukan tempat migrasi burung dari China. Jikalau pun memang karena migrasi unggas, semestinya Vietnam, Kamboja, Thailand atau Malaysialah yang lebih dulu terkena virus ini. (saksono)

TABEL

KASUS FLU BURUNG PADA UNGGAS DI INDONESIA 2007 – 2013

----------------------

TahunKasus

(desa)

----------------------

20072.751

20081.413

20092.293

20101.502

20111.390

2012546

2013*141

---------------------

*hingga Februari 2013

Sumber: paparan Isroil Samihardjo

Related posts