Pegadaian Targetkan 3,8 Ton di 2013 - Penjualan Emas

NERACA

Jakarta - PT Pegadaian (Persero) menargetkan penjualan logam mulia emas sebesar 3,8 ton selama 2013 atau naik dibanding penjualan di 2012 yang mencapai dua ton seiring dengan peningkatan minat masyarakat membeli emas untuk investasi. \"Target penjualan emas tahun ini sekitar 3,8 ton atau senilai Rp1,5 triliun dibanding tahun 2012 sebesar dua ton senilai Rp1 triliun,\" kata Direktur Bisnis II Pegadaian, Wasis Djauhar di Jakarta, Rabu (10/4).

Dia juga menyebut, hingga kuartal I 2013, realisasi penjualan emas sudah mencapai Rp469 miliar atau meningkat 50% dibanding periode yang sama tahun 2012. \"Penjualan selama kuartal I 2013 meningkat mungkin karena harga selama periode ini memang turun sehingga masyarakat menggunakan kesempatan untuk membeli,\" ujarnya.

Wasis mengatakan, pembelian emas selama periode Januari hingga Maret 2013 mencapai rata-rata 10 kilogram per hari. \"Sebagian besar pembelian dilakukan di Galeri Pegadaian sementara pembelian secara online belum banyak. Porsi pembelian secara online kemungkinan baru 10% dari total penjualan, di mana rata-rata transaksi per hari mencapai 25 kali,\" ungkap dia.

Menurut Wasis, Pegadaian tetap terjun dalam bisnis emas karena sejak jaman dahulu emas menjadi barang yang dijaminkan (digadaikan) oleh masyarakat untuk memperoleh uang tunai dari lembaga keuangan tersebut. \"Sebagian besar atau 97% barang jaminan yang diberikan masyarakat berupa emas. Jadi Pegadaian tetap menggeluti bisnis ini,\" katanya.

Terkait adanya investasi bodong emas beberapa waktu lalu yang merugikan masyarakat, Wasis mengingatkan adanya risiko investasi emas. Risiko tersebut antara lain kemungkinan mendapatkan emas palsu, risiko tempat berinvestasi yang tidak kredibel, risiko penyimpanan emas dan risiko fluktuasi harga.

\"Untuk menghindari mendapatkan emas palsu, investor harus membeli di tempat yang memberi garansi keasliannya, kemajuan teknologi memungkinkan emas dipalsukan sehingga masyarakat umum dapat dengan mudah dikelabuhi,\" jelas Wasis.

Sementara untuk investasi emas yang menjanjikan imbal hasil yang tinggi, menurut dia, masyarakat harus hati-hati agar tidak menanggung rugi akibat adanya pengelola investasi yang memberikan iming-iming mendapatkan imbal hasil yang tinggi.

\"Kasus seperti ini yang kemarin sempat ribut-ribut, ini karena pengelola investasi membayar imbal hasil itu dari investor yang baru masuk. Ketika tidak ada investor baru yang masuk maka pengelola tidak dapat membayar imbal hasil itu,\" tukas dia.

Berdasarkan data World Gold Council dan Statistik Perbankan Syariah Bank Indonesia, tren permintaan emas di Indonesia secara jumlah ton meningkat 600%, dari hanya tiga ton pada 2008 menjadi 22 ton di 2011. [ardi]

Related posts