Bank Syariah Didorong Berperan Aktif di Sektor Riil

NERACA

Jakarta - Direktur Eksekutif Perbankan Syariah Bank Indonesia (BI), Edy Setiadi, mengungkapkan pihaknya akan terus mendorong peran serta perbankan syariah bagi perekonomian Indonesia hingga pengawasan perbankan benar-benar beralih ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2014 mendatang.

Dia menuturkan, upaya yang dilakukan bank sentral, salah satunya, menekankan perbankan syariah agar berperan lebih aktif di sektor riil. “Ke depan, BI terus mengarahkan bagaimana kami senantiasa mendorong bank syariah untuk masuk pada sektor riil, melalui pembiayaan yang ramah lingkungan, terutama dalam masa transisi ke OJK,” kata Edy di Jakarta, Rabu (10/4).

Dia mengatakan, dengan diarahkan agar masuk ke sektor riil yang produktif, maka manfaatnya akan benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas. Sementara itu, terkait peraturan perbankan syariah, Edy menjelaskan, bank sentral selalu mengarahkan agar peraturan yang dikeluarkan tetap dapat menjaga stabilitas sistem keuangan dan perbankan syariah.

Ketentuan perbankan syariah yang selama ini berjalan dapat terus dilaksanakan oleh OJK saat pengawasan perbankan beralih ke lembaga tersebut pada tahun depan. “Sebelum peraturan dikeluarkan kami teliti implementasinya bagi bank syariah,” terangnya.

Menurut Edy, BI juga senantiasa mengarahkan peraturan perbankan syariah dalam kaitannya terhadap perlindungan masyarakat, optimalisasi lembaga perbankan syariah dalam menunjang program pembangunan, serta mencegah praktik penyelewengan di bidang perbankan.

Terkait investasi emas di perbankan syariah, Deputi Menko Perekonomian bidang Perdagangan dan Industri, Edi Putra Irawadi, mengatakan perlu adanya penguatan pengawasan investasi emas di perbankan syariah untuk menjaga agar tidak menyimpang dari karakteristik syariah itu sendiri.

\"Sebenarnya investasi emas ini sangat menguntungkan. Hanya saja masalahnya di publikasi dan penjelasannya kurang serta diperlukan pengawasan yang kuat,\" ungkap dia. Edi pun menilai, selama ini, baik dari Bank Indonesia (BI), Kementerian Keuangan (Kemenkeu) maupun Kementerian Perdagangan (Kemendag) juga sudah melakukan pengawasan namun dalam praktiknya masih kurang.

Menurut Edi lagi, perlu ada forum pengawasan bersama untuk membuktikan dan menyatakan bahwa investasi emas di perbankan syariahnya tidak menyimpang dari karakter syariah sebenarnya. Edi juga menambahkan terkait pernyataan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan suatu lembaga syariah tertentu telah melaksanakan prinsip-prinsip syariah, menurutnya itu hanya bersifat rekomendasi.

\"Yang dari MUI itu sifatnya hanya rekomendasi, tetapi yang di lapangan kan perlu tahu dan mengawasi. Itulah yang kita harus bedah dahulu,\" tandasnya. Sementara Perwakilan Asosiasi Bank-bank Syariah Indonesia (Asbisindo), Jefri Prayana, menerangkan investasi emas masih memiliki peluang cukup tinggi.

Dia memprediksi, pada 2015 potensi permintaan emas di perbankan syariah bisa menembus angka Rp306 triliun. Sedangkan tahun lalu, permintaan emas sudah mencapai angka Rp165 triliun. \"Ini baru dari sisi gadai saja,\" jelasnya. Jefri pun mengklaim pertumbuhan investasi emas diprediksi akan terus meningkat hingga 100% setiap dua tahun.

Direktur Bisnis II PT Pegadaian (Persero), Wasis Djauhar, menuturkan pihaknya menargetkan penjualan logam mulia emas sebesar 3,8 ton selama 2013 atau naik dibanding penjualan di 2012 yang mencapai dua ton, seiring dengan peningkatan minat masyarakat membeli emas untuk investasi. \"Target penjualan emas tahun ini sekitar 3,8 ton atau senilai Rp1,5 triliun dibanding tahun 2012 sebesar dua ton, atau senilai Rp1 triliun,” jelas dia. [ardi]

Related posts