Investor Domestik Diklaim Mendominasi Pasar Modal

NERACA

Jakarta – Sepanjang kuartal pertama tahun 2013, kepemilikan saham di bursa saat ini lebih didominasi oleh investor dalam negeri. Keadaan ini jauh berbeda pada tahun 2008 yang dikuasai asing hingga 70%, “Saat ini investor Indonesia dalam perdagangan transaksi sehari-hari ada sekitar 60% dan asing 40%. Namun kepemilikan asing masih mendominasi 58% dan domestik 42%, “kata Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito di Jakarta, Rabu (10/4).

Sementara, dalam sehari rata-rata lebih dari 160ribu saham diperdagangkan. Oleh karena itu, dirinya merasa gembira dengan turunnya kepemilikan asing yang menurutnya dapat tercapai dengan partisipasi investor domestik.\"Sejak 2010 sampai 2011, kami menekankan pada edukasi untuk investor domestik.Kami tidak pernah menargetkan saham investor domestik tetapi mendorong komposisi investor domestik di bursa,”tandasnya.

Menurutnya, Eedukasi dan sosialisasi adalah kata kunci meningkatkan jumlah investor domestik dan salah satunya medianya adalah sekolah pasar modal (PSM). Berdasarkan data BEI, dana deposito masyarakat mencapai ribuan triliun di bank.

Dengan jumlah sebesar itu, pihak BEI ingin meningkatkan kesadaran dan pengetahuan pasar modal di masyarakat. Agar masyarakat berinvestasi di bursa efek dan makin menambah jumlah innvestor asing di BEI.

Peserta SPM sendiri terus meningkat, pada 2010 ada 13ribu peserta, 2011 lebih dari 17ribu peserta dan 2012 sedikit turun menjadi 16,7ribu peserta. Dengan adanya SPM ini, besar kemungkinan akan meningkatkan investor domestik. Pasalnya pada level 1, adalah pengenalan pasar modal kepada peserta lalu pada level 2, peserta SPM wajib memiliki rekening efek di BEI.

Sementara itu, Ito juga menyatakan keprihatinannya dengan masalah investasi emas yang dialami masyarakat, “Sebagian masyarakat mAsih tergoda dengan iming-iming investasi emas yang tidak sehat. Padahal sebagian yang menjadi korban adalah masyarakat berpendidikan Strata 1 bahkan 2. Akan tetapi pengetahuan mereka mengenai investasi yang sehat masih kurang,”paparnya. (nurul)

Related posts