BEI Dinilai Lembek Soal “Goreng” Saham - Tidak Serius Menangani

NERACA

Jakarta- Masyarakat Investor Sekuritas Indonesia (MISSI) menilai PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak menaruh perhatian serius terkait masalah manipulasi pasar atau goreng mengoreng saham yang terjadi di pasar modal. \"Kasus manipulasi pasar sering terjadi tanpa ada kepedulian atau perhatian pihak bursa dan otoritas. Toh, ini hanya masalah investor kecil.\" kata Ketua Umum MISSI, Sanusi di Jakarta, Rabu (10/4).

Menurutnya, hal ini menjadi penyebab turunnya jumlah investor publik dan juga penyebab utama enggannya masyarakat untuk berinvestasi secara langsung di bursa. Ironisnya, yang harus menderita kerugian besar akibat terjadinya manipulasi pasar ini yaitu investor pemula. Contohnya, kenaikan saham PRAS pada 8 April kemarin.

Disebutkan Sanusi, pada tanggal 8 April tersebut, pihaknya mencermati terjadi perdagangan yang anomali pada saham PRAS. Saham ini pada awal bursa bergerak dengan volume yang sangat besar dengan harga naik dari sehari sebelumnya 570 bergerak naik mencapai 690 dan pada sore hari turun drastis ditutup 485. \"Perdagangan pada sesi satu sangat aktif sekali dan merupakan transaksi paling aktif di bursa. Ada sekelompok investor yang terkordinasi mengaktifkan perdagangan saham ini.\" tuturnya.

Jika ada investor pemula, lanjut dia, yang membeli saham ini sebanyak 100 ribu lembar untuk 200 lot pada harga Rp680 misalnya, atau senilai Rp68 juta maka pada akhir tutup bursa nilai investasi si investor pemula ini hanya akan tinggal Rp.48,5 juta dengan potensial loss Rp19,5 juta atau mengalami kerugian sebesar 28.67 % dalam sehari. Pada tanggal 10 April, jika investor tidak cutloss pada hari sebelumnya maka kerugian mencapai Rp30 juta atau hampir 43 % dalam tiga hari.

Saham Tidak Likuid

Sementara pengamat pasar modal, Budi Frensidy mengatakan, goreng saham kerap terjadi pada saham-saham yang tidak likuid atau memiliki nilai kapitalisasi pasar kecil dan tidak dapat dipungkiri menjadi risiko berinvestasi saham. \"Biasanya rentan pada saham-saham berkapitalisasi pasar kecil, tidak likuid, dan kurang begitu dikenal karena jarang ditransaksikan sehingga masuk sekelompok orang yang memiliki modal besar untuk menggoreng saham itu.\" tuturnya.

Menurutnya, langkah yang dapat diambil untuk meminimalisir terjadinya manipulasi pasar dapat dilakukan dengan memonitor dan menentukan nilai kapitalisasi pasar dan jumlah kepemilikan publik atas saham-saham yang beredar di pasar modal. \"Saat IPO atau di awal boleh 20%, tapi dibuat ketentuan dan terus dimonitor dengan batas kepemilikan publik minimum 40%. Begitu juga dengan jumlah kepemilikannya minimal 500 orang, jangan hanya 100-200 orang.\" jelasnya.

Dengan adanya ketentuan tersebut, lanjut dia, akan menjadikan saham tersebut likuid di pasar dan tidak dijadikan celah oleh spekulan yang berniat goreng-menggoreng saham. Di samping pengawasan dari pihak otoritas, Budi menyarankan agar investor pemula tidak bermain pada saham-saham kecil. Meskipun di satu sisi terkadang dapat memberikan keuntungan yang lebih besar jika investor tersebut tepat mengambil keputusan saat terjadi spekulasi. \"Investor-investor kecil ini tidak dapat sepenuhnya di-protect. Mereka sebaiknya main pada saham-saham top 30 atau 45.\" ujarnya. (lia)

Related posts