Industri Otomotif Diharapkan Ramah Lingkungan

NERACA

Jakarta - Kementerian Perindustrian mengingatkan para pengelola perusahaan otomotif untuk memperhatikan dampak lingkungan dalam memproduksi mobil. \"Perubahan iklim ini menjadi isu besar. Diharapkan memproduksi mobil yang ramah lingkungan dan hemat bahan bakar,\" kata Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kemenperin Budi Darmadi di Jakarta, Rabu.

Selain itu, Budi juga mengimbau perusahaan otomotif untuk melibatkan sumber daya manusia lokal dari Indonesia baik dalam proses produksi maupun pengembangan dan penelitian. \"Kami harap SDM lokal atau tenaga kerja Indonesia dilibatkan dalam perusahaan otomotif,\" ujarnya.

Yang juga penting, kata Budi, SDM lokal juga harus dilibatkan dalam pembinaan industri komponen dalam negeri. \"Tapi, bukan berarti kontraktor dari luar tidak diajak untuk memperkuat industri otomotif di Indonesia,\" terangnya.

Industri otomotif kini mengalami peningkatan, yakni dari 107 ribu unit menjadi 132 ribu unit pada 2012 dan empat ribu unit menjadi 100 ribu unit pada 2011. Karena itu, Budi berharap perkembangan industri otomotif di Indonesia bisa memenuhi kebutuhan baik pasar domestik maupun pasar global.

Di pihak lain, program pelatihan otomotif untuk kaum muda resmi diluncurkan oleh Plan Indonesia bekerja sama dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Program yang didukung oleh Korea International Cooperation Agency (KOICA), ODA Agency dan Hyundai Motor Company tersebut merupakan salah satu upaya untuk menekan tingginya tingkat pengangguran dan keterbatasan lapangan pekerjaan bagi anak muda.

Menurut Country Director Plan Indonesia Peter La Raus, dalam keterangan tertulisnya, Rabu, pihaknya menargetkan sekitar 1000 anak muda berusia 15-24 tahun bisa mengikuti pelatihan otomotif tersebut. \"Dengan mengikuti pelatihan ini, mereka diharapkan segera mendapatkan pekerjaan atau mengembangkan usaha sendiri di bidang otomotif,\" katanya.

Peter La Raus menilai dari perspektif industri, ada kesenjangan antara kebutuhan industri terhadap Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang otomotif dengan sisi pasokan. Dia menjelaskan berlimpahnya pasokan SDM belum dibarengi dengan kualifikasi yang diperlukan. \"Yang terjadi, SDM sulit mendapatkan pekerjaan sementara dunia industri kesulitan mendapatkan SDM berkualitas,\" katanya.

Padahal, lanjutnya, Indonesia memiliki potensi besar dalam pertumbuhan industri otomotif. Potensi tersebut ditopang oleh permintaan domestik yang kuat, dukungan SDM terampil dan tumbuhnya industri komponen.

Investasi Meningkat

Berdasarkan survei dasar Plan Indonesia tentang industri otomotif dan hubungan dengan ketenagakerjaan di Indonesia, pertumbuhan investasi pada industri otomotif tahun 2011 mencapai 70 persen. Pada kuartal ketiga 2012, nilai investasi lebih dari 1,3 miliar dollar AS. Dengan demikian, otomotif menjadi salah satu sektor yang paling besar investasinya di Indonesia tahun 2012.

Dari survei itu juga diketahui bahwa jumlah angkatan kerja di Jabodetabek pada Agustus 2012 mencapai 2,91 juta orang. Angka ini bertambah 37,4 ribu orang dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja Agustus 2011 yaitu 2,87 juta orang. Sementara itu, tingkat Pengangguran Terbuka usia 15-24 tahun di Jabodetabek pada Agustus 2012 mencapai 654 ribu jiwa.

Menurut La Raus, tantangan bagi lulusan pendidikan kejuruan otomotif dalam dunia kerja makin berat. Kondisi ketenagakerjaan dengan tingkat pengangguran anak muda yang tinggi memerlukan terobosan yang substansial dan sistematis dari setiap pemangku kepentingan.

\"Sinergi antar dan antara pemerintah, dunia pendidikan dan dunia industri atau usaha dapat dilakukan dengan kerangka pendidikan, pemberdayaan, penempatan tenaga kerja serta pengembangan kewirausahaan, termasuk di bidang otomotif,\" ujarnya.

Related posts