Dipicu Data Negatif, IHSG Kembali Terkoreksi

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Rabu sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 22,112 poin (0,45%) ke level 4.877,475. Sementara Indeks LQ45 terkoreksi 4,360 poin (0,53%) ke level 822,865. Pelemahan indeks BEI dipicu aksi ambil untung investor yang terjadi di seluruh saham dan termasuk investor asing.

Menurut analis Trust Securities, Reza Priyambada, aksi ambil untuk investor menahan indeks bertahan di zona hijau, “Pelaku pasar asing yang mengambil posisi jual menjadi salah satu pemicu indeks BEI melemah, tercatat jual bersih asing mencapai Rp264,864 miliar,\" katanya di Jakarta, Rabu (10/4).

Dia menambahkan, sementara indeks saham Asia berada dalam area penguatan setelah data inflasi di China yang menunjukkan penurunan sehingga pelaku pasar berekspektasi pemerintah tidak akan mengetatkan kebijakan moneternya.

Sementara analis Panin Sekuritas, Purwoko Sartono mengatakan, pergerakan IHSG BEI dibayangi oleh wacana kebijakan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang rencananya akan diluncurkan pemerintah, “Konsumsi BBM bersubsidi yang semakin meningkat, mengancam defisit anggaran tahun ini. Selain itu pasar juga menanti kebijakan \'BI Rate\' sehubungan dengan inflasi yang cenderung tinggi beberapa bulan terakhir,\"ujarnya.

Oleh karena itu, dengan mempertimbangkan kondisi tersebut indeks BEI diproyeksikan akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah di kisaran 4.836-4.903 poin. Setelah mengalami penurunan kemarin, investor diperkirakan juga akan mulai melakukan akumulasi pada saham berkapitalisasi besar.

Tercatat pada perdagangan kemarin, tekanan jual mulai muncul menjelang penutupan perdagangan sesi I, setelah saham-saham naik tinggi diawal perdagangan kemarin. Saham-saham yang naik tinggi itu langsung terkena aksi ambil untung.

Dua sektor masih bertahan di zona hijau, yaitu sektor agrikultur dan konsumer. Delapan sektor ditutup negatif, dipimpin oleh sektor aneka industri. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 136.616 kali pada volume 5,922 miliar lembar saham senilai Rp 7,663 triliun. Sebanyak 93 saham naik, sisanya 157 saham turun, dan 116 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia menutup perdagangan dengan mixed cenderung menguat. Memanasnya konflik di semenanjung Korea tidak menghentikan investor dalam berburu saham. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Gudang Garam (GGRM) naik Rp 2.200 ke Rp 52.200, Metropolitan Kentjana (MKPI) naik Rp 1.200 ke Rp 7.200, Akasha Wira (ADES) naik Rp 775 ke Rp 4.650, dan Ultra Jaya (ULTJ) naik Rp 375 ke Rp 3.275.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Delta (DLTA) turun Rp 12.000 ke Rp 326.000, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.750 ke Rp 37.750, Sumber Alfaria (AMRT) turun Rp 400 ke Rp 6.100, dan Tower Bersama (TBIG) turun Rp 350 ke Rp 5.600.

Menutup perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup melemah 26,688 poin (0,54%) ke level 4.872,899. Sementara Indeks LQ45 turun 5,516 poin (0,67%) ke level 821,709. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 73.235 kali pada volume 2,598 miliar lembar saham senilai Rp 4,134 triliun. Sebanyak 99 saham naik, sisanya 142 saham turun, dan 100 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.950 ke Rp 5.1950, Akasha Wira (ADES) naik Rp 575 ke Rp 4.450, Ultra Jaya (ULTJ) naik Rp 300 ke Rp 3.200, dan Mitra Adiperkasa (MAPI) naik Rp 250 ke Rp 8.150.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Delta (DLTA) turun Rp 10.500 ke Rp 327.500, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.850 ke Rp 37.650, Asahimas (AMRT) turun Rp 500 ke Rp 6.000, dan Mayora (MYOR) turun Rp 450 ke Rp 30.050.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka naik 9,46 poin atau 0,19% ke posisi 4.909,05. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 2,37 poin (0,29%) ke level 829,59, “Mayoritas bursa Asia termasuk indeks BEI dibuka menguat dipicu positifnya bursa global dan komoditas,\" kata analis Samuel Sekuritas, Yualdo Yudoprawiro.

Yualdo Yudoprawiro mengatakan, mayoritas harga komoditas dunia menguat Selasa kemarin dengan harga minyak kembali naik ke level 94,2 dolar AS per barel. Dia menambahkan, antisipasi pelaku pasar saham terhadap data ekspor China yang diperkirakan tumbuh sebesar 11,7% pada bulan Maret menambah sentimen positif bagi pasar saham.

Namun demikian, Yualdo mengatakan penguatan IHSG BEI relatif terbatas menyusul minimnya sentimen positif baru dari domestik, selain itu pasar saham domestik juga sedang mengantisipasi pengumuman suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate).\"Selain itu, pelaku pasar juga menanti pandangan BI terhadap tekanan inflasi domestik yang semakin tinggi,\"tuturnya.

Bursa regional diantaranya indeks Hang Seng Rabu, dibuka menguat 92,42 poin (0,42%) ke level 21.962,76, indeks Nikkei-225 naik 83,63 poin (0,63%) ke level 13.275,98, Straits Times melemah 10,03 poin (0,30%) ke posisi 3.286,54. (bani)

Related posts