Pasar Modal Dinilai Belum Meyakinkan

NERACA

Jakarta- Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbuh lebih baik dari tahun sebelumnya, pasar modal Indonesia dinilai belum cukup meyakinkan bagi investor untuk menanamkan modalnya, baik dari sisi kepercayaan maupun produk. “Selain instrumen juga dibutuhkan investornya. Bagaimana mengelola investasi di Indonesia agar transparan, adil, dan utamanya adalah masalah trust.” kata Direktur Utama PT Schroders Investment Management, Michael Tjoajadi di Jakarta, Selasa (9/4).

Menurutnya, tidak hanya dari pihak otoritas, namun penyelenggaraan hal tersebut tidak terlepas dari oknum-oknum yang menggunakan dana-dana yang ada seperti emiten, ataupun perusahaan penyelenggara investasi.

Mengingat, investasi merupakan industri kepercayaan sehingga dengan harmonisasi regulasi dan menjadikannya akuntabel akan membuat industri ini maju. Selain meningkatkan kepercayaan terhadap investor, kata dia, agar jumlah saham yang beredar di pasar modal juga bisa lebih besar. Pasar modal Indonesia yang mulai aktif sejak 2009, namun sayangnya free float masih 30%, atau lebih kecil dibandingkan dengan negara tetangga yang sudah mencapai 40%-50%.

Bahkan, di negara Amerika Serikat atau Eropa, sebesar 80% dari saham emiten yang tercatat sudah dimiliki publik. Selain itu, masih perlu adanya upaya untuk memperdalam pasar modal ke depan sebagai alternatif pembiayaan di perekonomian.

Caranya, yaitu dengan mendorong bukan hanya emiten, namun juga individu/perusahaan-perusahaan mau melakukan investasi di pasar modal. Hal ini menjadi tantangan bagi pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Disebutkan Michael, dana kelolaan di pasar modal yang ada saat ini saja baru sekitar Rp300 triliun. Di sisi lain, investor lokal belum menunjukkan perhatiannya terhadap investasi di pasar modal. Padahal, di dalam perekonomian yang sudah global seperti ini, Indonesia bisa menjadi salah satu alternatif untuk masuk capital market setelah negara Amerika Serikat dan Eropa \\\'tenggelam\\\'. “Saat investor asing berebut masuk ke pasar modal Indonesia, investor dalam negeri belum melihat ini seperti mereka.” ucapnya.

Hal penting yang dibutuhkan investor saat ini, lanjut dia, yaitu kondisi pasar yang transparans, likuid, yang notabene menjadi poin utama investor untuk berinvestasi. Selain itu, bagaimana OJK agar dapat mengembangkan produk derivatif yang dibutuhkan, perlindungan investor, termasuk pengembangan human recources sehingga dapat berkompetisi. “Harmonisasi regulasi harus dipentingkan. Di Capital market kita belum lihat sinkronisasi, harusnya ada human resources untuk berkompetisi.” ujarnya.

Pentingnya menciptakan dan memupuk keyakinan investor, sebelumnya juga disampaikan oleh Kepala Bagian Pengembangan Asosiasi Analis Efek Indonesia, Lucky Bayu Purnomo. “Pihak otoritas perlu menciptakan keyakinan dari para investor. Sistem hukum dan peraturan yang berlaku selama ini perlu mendapatkan perhatian.” jelasnya.

Menurutnya, permasalahan hukum menjadi salah satu kendala utama pertumbuhan pasar modal selama ini. Padahal pada prinsipnya Indonesia merupakan negara berkembang dan memiliki potensi yang cukup tinggi bagi pertumbuhan investasi. Di dalam negeri, dari populasi Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa, jumlah investor saham di pasar modal Indonesia baru ada sekitar 400 ribu rekening. (bani)

Related posts