Uni Eropa Bantu Indonesia US$ 58 Juta - Kembangkan Produk Ekspor

NERACA

Jakarta – Kumpulan Negara Eropa yang tergabung dalam Eropa Union (EU) atau Uni Eropa bekerjasama dengan Indonesia dalam pembangunan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang diberi nama Trade Support Programme II (TSP). Program tersebut. Program ini bertujuan agar Indonesia dapat meningkatkan kualitas produk ekspornya melalui bantuan pelatihan sehingga produk Indonesia mempunyai nilai tambah.

“Program ini merupakan komitmen kedua pihak sejak dua tahun lalu. Indonesia selama ini terlalu bergantung pada ekspor bahan mentah. Karena itu, sebagai penguatan nilai perdagangan kedua negara, maka Eropa ingin produk Indonesia semakin berbasis nilai tambah,” ungkap Duta Besar Uni Eropa untuk ASEAN Julian Wilson di Jakarta, Selasa (9/4).

Julian menjelaskan bahwa dana yang diberikan oleh EU kepada Indonesia bukan sekedar pinjaman semata. Melainkan untuk menjawab tantangan bahwa ekspor Indonesia tidak terlalu bergantung pada bahan mentah. “Maka dengan USD 58 juta untuk pelaksanaan TSP kedua kita ingin membantu Indonesia menambah produk ekspor bernilai tambah,” tambahnya.

Program TSP sendiri, kata dia, telah dijalankan sejak tahun lalu. Program tersebut meliputi pelatihan tentang mengemas produk yang baik dan menangkal praktik illegal fishing. Untuk tahap ke II, EU akan memberikan pelatihan kepada eksportir Indonesia bagaimana mengemas produk ramah lingkungan serta membangun laboratorium uji coba kualitas menjaga produk ekspor. Bila pelatihan ini sukses, produk Indonesia akan mudah masuk pasar Eropa yang menuntut prasyarat ramah lingkungan.

Wilson mengakui bahwa program ini adalah salah satu langkah merangkul Indonesia agar pemerintah segera membahas Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan Uni Eropa. Jika perjanjian itu bisa dibahas, maka perdagangan kedua pihak akan semakin diliberalisasi.

“Dana besar untuk TSP itu memang kami gelontorkan untuk memuluskan pembahasan CEPA. Pasar Indonesia sangat besar, perdagangan kita komplementer, jadi dengan semakin banyak bekerja sama, kita akan sama-sama untung,” tandasnya.

Namun, Wilson menolak bila bantuan-bantuan pihaknya melalui program TSP disebut sogokan agar Indonesia membuka diri kepada Eropa. Dia menyatakan sejak lama negara Benua Biru sudah peduli kepada perekonomian Tanah Air. Terbukti, pihaknya sejak lama sudah memberi banyak bantuan untuk pelatihan SDM Indonesia.

“Sebelum memulai pembicaraan perjanjian CEPA itupun kita sudah berusaha melakukan capacity building untuk Indonesia. Kini terbukti anda menikmati surplus perdagangan dengan Uni Eropa sebesar USD 4 miliar,” kata Wilson.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengapresiasi bantuan Uni Eropa. Dia mengatakan akan mempercepat persiapan pemerintah membicarakan CEPA dengan Eropa. Dia merasa, dengan perjanjian liberalisasi tarif itu nilai perdagangan kedua pihak akan semakin besar.

“Kami ingin menandatangani CEPA dengan Eropa secepat mungkin. Kami optimistik, dalam waktu dekat bisa segera membatasi lingkup apa saja yang masuk ke dalam draf CEPA. Kami percaya dengan peningkatan perdagangan dengan Eropa, nilai perdagangan 25 miliar Euro seperti tahun lalu bisa menjadi lebih besar lagi,” kata Gita.

Hanya saja, pemerintah belum tahu kapan bisa memulai pembicaraan CEPA. Berkaca dari pengalaman dialog serupa bersama Korea Selatan, Gita yakin prosesnya cepat asal Indonesia sudah memetakan sektor mana saja yang siap diliberalisasi untuk eksportir Eropa. “(Persiapan CEPA) bisa makan waktu 3 tahun, bisa setahun, tapi setidaknya CEPA dengan Korsel cukup lancar,” cetusnya.

Saat ini, volume ekspor Indonesia ke Eropa mencapai 14% keseluruhan ekspor nasional. Total nilai perdagangan kedua pihak tahun lalu mencapai US$ 32 miliar. Dijelaskan Gita, bahwa pihaknya akan meningkatkan produksi yang memiliki nilai tambah. “Penurunan ekspor akan kita obati dengan meningkatkan produk yang mengandung nilai tambah. Saya mengantisipasi penurunan ekspor diharga komoditas akan meningkatkan value added. Sehingga implikasinya bisa 1 banding 10,” katanya.

Diversifikasi Ekspor

Sementara itu, Menteri Perindustrian M.S Hidayat mengatakan bahwa pasar ekspor ke Eropa masih lemah lantaran masih berlangsungnya krisis global. Untuk itu, ia meminta agar ada upaya diversifikasi ekspor ke Afrika dan Timur Tengah. “Pelaku usaha harus melakukan diversifikasi tujuan ekspor dari pasar tradisional di Eropa ke Afrika dan Timur Tengah,” katanya.

Pemerintah, menurut Hidayat, telah meningkatkan target ekspor industri otomotif ke Afrika dan Timur Tengah yang saat ini sekitar 14% menjadi sekitar 30%. “Peningkatan ekspor khususnya industri otomotif dilakukan untuk mengatasi perlambatan ekonomi, khususnya di kawasan Eropa. Saat ini, Indonesia masih tergantung pada ekspor komoditas dan harus memikirkan cara agar bisa mengekspor produk-produk bernilai tambah,” paparnya.

Akibat ketergantungan pada produk komoditas, lanjut Hidayat, kinerja ekspor rentan pada fluktuasi harga. Apalagi pada saat harga komoditas turun, maka nilai ekspor Indonesia ikut turun, padahal secara volume ekspor meningkat. “Kita bisa meningkatkan ekspor melalui produk-produk yang memiliki nilai tambah, seperti otomotif, kelapa sawit, kakao, alas kaki, tekstil, elektronik,” ujarnya.

Related posts