Proyek Wisata Bahari, Hanya Untungkan Singapura

NERACA

Jakarta – Seluruh dunia sudah mengetahui besarnya potensi wisata alam yang dimiliki Indonesia, dari Sabang hingga Papua. Namun, diakui atau tidak, dan sudah bukan rahasia juga bahwa bangsa ini belum mampu memaksimalkan potensi dari karunia Tuhan tersebut. Terbukti bahwa penghasilan negara dari sektor pariwisata belum terlalu signifikan. Bahkan, kalah dari negara tetangga seperti Malaysia yang ‘hanya’ memiliki Genting Highlands dan Langkawi.

Rupanya, potensi besar tersebut tercium oleh Singapura dengan menandatangani Joint Report to the Leaders RI-Singapore dengan pemerintah Indonesia. Salah satunya, kerjasama di bidang pengembangan pariwisata. Singapura berkomitmen akan mendatangkan kapal pesiar untuk memasuki wilayah kepulauan Indonesia.

Di acara tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengakui kelemahan Indonesia dalam hal promosi tempat-tempat wisata ke mancanegara. “Indonesia memiliki objek-objek wisata yang banyak tetapi kita kalah di promosi dan konektivitas kita. Sementara Singapura memiliki promosi yang bagus tetapi tidak memiliki objek wisata yang banyak,” ujarnya di Jakarta, Senin (8/4).

Untuk itu, kata Hatta, diharapkan dapat dibangun pelabuhan skala besar yang mampu menjadi tempat bersandar kapal-kapal pesiar besar. Sejumlah pelabuhan yang rencananya akan disinggahi antara lain Medan, Surabaya, Bali, dan Semarang.

Yang menjadi masalah, siapa yang lebih diuntungkan dengan adanya kerjasama tersebut? Pasalnya, Singapura yang mempromosikan destinasi-destinasi wisata di Indonesia untuk mendatangkan turis mancanegara datang ke Singapura. Di Negeri Jiran tersebut, para turis ditawarkan pesiar menggunakan kapal pesiar untuk berkeliling menikmati eksotiknya wisata bahari yang dimiliki negeri ini. Dalam hal, tak berlebihan bila Indonesia hanya dijadikan ‘tempat singgah’ bagi turis dari Singapura itu.

Melihat kondisi seperti itu, Direktur Indef Enny Sri Hartati menilai hal tersebut tidak akan banyak menguntungkan bagi Indonesia. “Coba lihat di Pantai Marina itu cuma transit. Mungkin tidak ada MoU, jadi cuma lewat. Spending dari turis nyaris tidak ada, hanya tiket masuk saja,” kata Enny kepada Neraca, Senin.

Berbeda keadaannya kalau ada MoU di awal, lanjut Enny, seperti misalnya kalau kapal-kapal pesiar itu harus turun ke darat. Dengan begitu, maka minimal restoran dan hotel akan ikut merasakan spending dari turis kapal pesiar.

Enny mengkritisi lemahnya pemerintah Indonesia dalam pengembangan wisata bahari. “Kalau kita masih bernapas, punya kreatifitas, niat usaha, pasti bisa. Kita bangun industri pesawat terbang saja bisa. Kenapa tidak bikin infrastruktur sendiri, termasuk kapal-kapal pesiarnya itu juga. Potensi perairan wisata kita luar biasa kalau mau dimanfaatkan wisata baharinya. Andai pemerintah punya goodwill, maka akan banyak investor yang ingin ikut dalam industri berbasis bahari,” jelas Enny.

Permasalahan lain, lanjut Enny, adalah bahwa sektor pariwisata belum ditempatkan pada di sektor ekonomi melainkan sosial. Kementerian Pariwisata ada di bawah Menko Kesra, bukan Menko Perekonomian. “Di Singapura itu, pariwisata ada di bawah sektor perdagangan. Kalau posisi pariwisata ada di kuadran ekonomi, maka segala pengeluaran pariwisata itu jadi investasi ekonomi. Indonesia belum begitu,” tandas Enny.

Tidak Masalah

Sementara itu, menurut Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar, tidak bisa disalahkan bila pendapatan Singapura lebih besar dari kerjasama pengembangan potensi wisata bahari tersebut, karena Singapura yang memiliki kapal pesiar. “Selama ini, dalam setahun ada 300 lebih kapal pesiar dari luar yang membawa turis asing melewati kepulauan indonesia seperti Bali, Jawa dan lombok. Itu juga kan menambah penghasilan kita\", ujarnya kepada Neraca, kemarin.

Bahkan, lanjut Sapta, sah pula apabila dibangun pelabuhan besar di beberapa pulau Indonesia untuk dilalui kapal pesiar asal Singapura. Dia mengumpamakan maskapai penerbangan milik Singapura yang membawa turis asing dari Eropa ke Indonesia. \"SIA bawa turis Eropa ke sini, itu kan untungkan kita. Tidak mungkin dari Eropa lalu tinggal disini hanya dua hari. Pasti mereka disini belanja yang tentunya menambah pendapatan. Ini win-win solution bagi Indonesia dan Singapura\", tukas Sapta.

Dia juga menambahkan bahwa pihaknya saat ini mengembangkan destinasi seperti di Bali akan tetapi untuk pariwisata seperti kapal pesiar masih belum bisa. \"Kunjungan kapal pesiar asing sudah dibuka sejak tahun 2000-an jadi kita jangan menutup diri terhadap pihak asing yang ingin datang menikmati keindahan indonesia\", ujarnya. nurul/iqbal/rin

Related posts