Daya Tahan Ekonomi Lokal

Oleh : Tumpal Sihombing

Direktur Utama Bond Research Institute

Mengapa Yunani default? Saat negara ini secara teknis dinyatakan gagal-bayar, total utang-nya hampir 1,5 kali lipat dari produk domestik bruto (PDB). Namun, apakah hal itu yang menjadi biang kerok kolapsnya sistem keuangan negeri para dewa itu? Jika dibandingkan dengan Jepang yang memiliki total utang dua kali lipat PDB-nya, namun tetap berada pada peringkat investasi level dunia.

Lalu, faktor umum apakah yang menjadi biang keroknya? Penjelasan yang paling gamblang dan justified mungkin dapat dilihat dari sudut pandang berikut; Yunani ini bisa dianalogikan bagai seorang jobless yang mengandalkan kelanjutan hidupnya dari kartu kredit, tak heran dengan tingkat penganggurannya yang mencapai 26,40%.

Sebaliknya, Jepang dianalogikan sebagai seorang pekerja superproduktif yang juga menggunakan kartu kredit bahkan lebih jor-joran, namun tingkat penganggurannya jauh lebih rendah yaitu 4,20%. Hikmahnya, selama aktivitas sumber daya fisik (hard-infrastructure) masih sangat produktif dan sustainable, masalah finansial suatu negara masih berpotensi untuk dapat teratasi. Siprus juga tidak terlepas dari problematika identik dengan tingkat pengangguran yang relatif tinggi di level 14%.

Sekarang, yang menjadi pertanyaan penting dan relevan adalah, apa yang dapat di serap dari kondisi tersebut agar daya tahan perekonomian domestik tetap kuat dan sustainable saat krisis parsial eurozone berubah jadi krisis global. Bahkan yang lebih jauh lagi, langkah apa saja yang perlu dipersiapkan menghadapi kondisi global yang terekstrem sekalipun. Indonesia boleh saja berharap segala sesuatu akan baik-baik saja, namun akan lebih baik lagi apabila memiliki plan-B untuk menghadapi kondisi yang terburuk sekalipun.

Dari asumsi rentang indikator yang ditetapkan oleh pemerintah dalam stress-test terhadap perubahan nilai tukar (terdepresiasi 20% dari IDR9,300 menjadi IDR11,160 per US$), harga minyak (naik 25% dari US$100 menjadi US$125 per barel), tingkat suku bunga (SPN naik dari 5% menjadi 8%) dan pertumbuhan ekonomi (turun dari 6,8% menjadi 5,8%) proyeksi hingga ke tahun 2015, BondRI dapat menyimpulkan satu hal, yaitu pemerintah Indonesia belum memasukkan skenario event risk krisis global dalam rumusan kebijakan ekonomi.

Artinya, para perumus kebijakan ekonomi Indonesia memiliki asumsi bahwa krisis global tidak akan terjadi dalam jangka waktu dekat. Lebih jauh lagi, dapat dikatakan bahwa apabila krisis global terjadi dalam waktu singkat, perekonomian Indonesia akan sulit bertahan. Pasalnya, kondisi negeri ini sangat tidak imun terhadap entropi negatif potensi krisis global.

Karena itu, pemerintah didesak memasukkan krisis global sebagai salah satu skenario dalam definisi state of nature. Perekonomian Indonesia telah mengalami beberapa kali krisis dalam sejarahnya. Tidak ada seorangpun yang dapat memastikan bahwa krisis berikutnya tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Dalam kondisi normal, peluang krisis global bakal terjadi atau tak terjadi sangat mudah ditebak, yaitu 50% vs 50%.

Yang penting untuk diperhatkan adalah apabila total world debt sudah lebih besar dari total world output, dan kenaikan total world debt juga sudah lebih cepat dari kenaikan total world output, sehingga kondisi “no-crisis” akan berpeluang lebih rendah untuk terjadi dalam jangka pendek ketimbang kondisi sebaliknya.

Oleh sebab itu, boleh jadi inilah saat yang tepat untuk mendengarkan pepatah yang berbunyi “prevention is better than cure” dan “regret is always come late.” Waspadalah!

Related posts