Bakal Dijual, VIVA Percantik Kinerja Keuangan - Bukukan Pendapatan Naik 25%

NERACA

Jakarta- Kabar PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) bakal dibeli pemilik CT Corp, rupanya memberikan berkah bagi perusahaan karena harga sahamnya terdongkrak. Disamping itu, hal ini juga menjadi sentimen positif setelah perseroan memperoleh pendapatan tahun 2012 sebesar Rp 1,24 triliun atau umbuh 25,06% dari tahun lalu Rp 992,63 miliar.

Komisaris Utama PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) Anindya Novyan Bakrie mengatakan, pihaknya membuka kesempatan kepada para pihak yang ingin membeli Viva Group. \"Kita tentunya selalu terbuka tetapi pada saat bersamaan kita mesti fokus pada pertumbuhan organik. Sayang kalau kinerjanya tak fokus pada fundamental,\"katanya di Jakarta, Senin (8/4)

Dia menuturkan, saat ini VIVA adalah sebuah perusahaan yang mempunyai kinerja sangat baik. Di-kuartal pertama tahun 2013 peningkatan perusahaan media tersebut mencapai 40%.

Namun dirinya, mengakui pada intinya industri media VIVA berkembang sangat pesat. Jadi dia berkeyakinan minat pembeli bukan saja pemain bisnis yang sudah ada tetapi para investor perusahan publik lainnya.

Sebagai informasi, perseroan juga membukukan laba bersih tercatat naik sebesar 177,21% atau menjadi Rp72,92 miliar pada 2012 dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp26,30 miliar.

Untuk laba usaha, naik menjadi Rp258,95 miliar pada 2012 dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp152,35 miliar, dan laba per saham dilusi diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik menjadi Rp4.430 pada 2012 dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp1.795.

Sepanjang tahun 2012 beban usaha perseroan tercatat mengalami kenaikan menjadi Rp982,48 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp840,27 miliar. Sementara total liabilitas perseroan naik menjadi Rp1,31 triliun pada 31 Desember 2012 dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp822,27 miliar.

Selain itu, ekuitas perseroan juga naik menjadi Rp1,67 triliun pada 31 Desember 2012 dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,59 triliun. Sementara kas dan setara kas perseroan turun menjadi Rp554,95 miliar pada 31 Desember 2012 dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp561,87 miliar.

Peluang Piala Dunia

Dalam pengembangan usahanya di tahun ini, perseroan melebarkan sayapnya dengan meluncurkan televisi berbayar yang diharapkan dapat memberikan kontribusi pada kinerja perseroan ke depan. Seiring meningkatnya daya beli masyarakat, bisnis TV berbayar di Indonesia dinilai memiliki peluang pasar yang besar dengan tingkat pertumbuhan yang diproyeksikan dapat mencapai 7% pada 2014.

Kata Direktur Utama VIVA, Erick Thohir, salah satu program yang ditayangkan dalam saluran televisi tersebut merupakan tayangan eksklusif olahraga, seperti Indonesia Super League (ISL) dan piala dunia (world cup) pada 2014 mendatang.

Menurutnya, tayangan olahraga seperti ini mampu menarik penonton yang cukup banyak sehingga dapat menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan kinerja perseroan.“Terutama untuk program World Cup yang diharapkan nanti jadi pengikat masyarakat untuk loyal berlangganan,” jelasnya.

Direktur VIVA Otis Hahijary juga pernah bilang, program piala dunia yang akan tayang pada 2014 diperkirakan mampu menjaring penonton hingga delapan kali lipat. “Tanpa world cup rating bisa naik 480%. Jadi dengan world cup kami kira bisa sampai 700-800%,” ujarnya.

Otis menilai, potensi pertumbuhan pelanggan televisi berbayar masih cukup tinggi dengan pertumbuhan ekonomi dan banyaknya masyarakat kelas menengah di Indonesia. Penikmat televisi berbayar di Indonesia, menurut dia, masih sebanyak 3 juta pelanggan. Sementara jumlah kelas menengah diperkirakan mencapai 45 juta jiwa.

Pihaknya mencatat, di Malaysia yang jumlah penduduknya tidak lebih tinggi dari Indonesia, pelanggan televisi berbayar sudah mencapai 10 juta. Karena itu, pihaknya optimistis rencana perseroan untuk masuk sebagai televisi berbayar ini akan dapat memacu kinerja perseroan.

Asal tahu saja, untuk pengembangan bisnis ini, perseroan mengalokasikan dana sebesar US$ 150 juta berasal dari kas internal perseroan, sedang sisanya digali dari pendanaan lain seperti obligasi (bond) ataupun pinjaman (loan). (lia)

Related posts