Produk UMKM Disodorkan ke Pasar Asia Pasifik

NERACA

Jakarta - Direktur Kerjasama Kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri, Arto Suryodiputro menegaskan, tren saat ini, banyak negara berlomba memperkenalkan produk-produk UMKM ke pasar dunia.

\"Melalui forum APEC ini, pihak Indonesia akan berusaha memperjuangkan dunia UMKM agar mampu menembus pasar Asia-Pasifik. Apalagi UMKM menjadi materi pembahasan cukup penting di bidang ekonomi perdagangan APEC,\" ungkap Arto, Senin (8/4).

Ia menjelaskan dengan dukungan teknologi yang makin modern, dia berharap menjadi pintu masuk bagi produk-produk UMKM lokal menembus persaingan pasar global. \"Kami sangat yakin kalau UMKM di Indonesia memiliki kekuatan untuk menguasai pasar Asia Pasifik. Sistem informasi dan teknologi modern akan menjadi media pemasaran yang sangat praktis dan efisien,\" jelasnya.

Selain itu, ada pembahasan khusus yang memungkinkan setiap negara untuk bisa saling belajar soal regulasi (aturan) yang berlaku dalam perdagangan internasional. \"Harapannya, negara-negara peserta APEC bisa melindungi produk dalam negerinya dan bisa lebih membuka diri. Kita berharap pembahasan ini akan berdampak baik UMKM di Indonesia,\" katanya.

Para pengusaha di Indonesia, kata dia, perlu belajar tentang regulasi itu. Sebab, hampir semua negara yang memasarkan produk UMKM, menjadikan usahanya sebagai potensi ekonomi yang besar. \"Sumbangannya pada pertumbuhan ekonomi negara sangat tinggi dan biasanya kebal terhadap krisis,\" paparnya.

Tidak Mampu Bersaing

Direktur Pusat Industri, UKM dan Persaingan Usaha, Universitas Trisakti, Tulus Tambunan melihat bahwa kemampuan UKM untuk bersaing di pasar global berada pada tahap merisaukan. Kondisi ini dapat membuat produk UKM tak mampu menghadapi serbuan barang impor di pasar domestik. Ia menyebutkan, guna mencari solusi atas masalah ini pihaknya bekerja sama dengan USAID akan mengadakan penelitian. Target penelitian adalah untuk mengetahui kelemahan dan potensi yang dimiliki UKM untuk bisa menembus pasar ekspor.

Tulus mengatakan, tujuan utama penelitian adalah mencari solusi bagi UKM agar punya daya saing di pasar global. \"Kalau bicara soal akses kredit yang sulit itu sudah menjadi masalah klasik. Kami ingin satu langkah lebih maju yakni mendorong kemampuan UKM masuk ke pasar ekspor,\" ujarnya.

Menurut Tulus, ada 100 UKM di wilayah Jawa Tengah yang akan menjadi objek penelitian, yakni Solo, Semarang dan Jogja. Penelitian dilakukan melalui kerja sama dengan Kadin. \"Dalam penelitian ini, ada nilai tambah mengenai peran pemerintah terkait fasilitas ekspor yang diberikan kepada UKM. Penelitian yang lain belum pernah ada yang memasukkan indikator ini, dari Badan Pusat Statistik sekalipun,\" kata Tulus.

Tulus menambahkan, berdasar data yang dirilis APEC, Indonesia menempati posisi terakhir untuk daya saing UKM. \"Persoalan yang paling utama yang dihadapi UKM Indonesia adalah lemahnya penggunaan fasilitas internet, dan penguasaan teknologi,” ujar Tulus yang juga pengurus Kadin Indonesia.

Berdasar data BPS, lanjut Tulus, hambatan utama yang dihadapi UKM di Indonesia adalah keterbatasan modal dan kesulitan pemasaran. \"Walaupun sudah banyak skema kredit yang ditawarkan, tetapi UKM di desa belum bisa mengakses dengan mudah kredit yang ditawarkan bank maupun lembaga keuangan,\" tambahnya.

Berdasarkan hasil penelitian dari DHL Express yang bekerja sama dengan perusahaan informasi global IHS merilis penelitian yang menunjukkan UKM yang ekspansi ke pasar internasional punya tingkat keberhasilan dua kali lebih tinggi dari UKM yang beroperasi hanya di lokal. Penelitian itu berdasarkan analisa ekonomi makro dan survei terhadap 410 orang direktur usaha kecil dan menengah atau UKM di negara-negara G7 dan BRICM atau Brazil, Rusia, India, Cina, dan Meksiko.

Hasilnya menunjukkan bahwa UKM yang ‘bermain’ di pasar internasional memiliki kemungkinan untuk berhasil dua kali lebih besar dari pada UKM yang hanya beroperasi di dalam negeri berdasarkan pada tingkat pertumbuhan rata 3 tahunan. Chief Executive Officer DHL Express Asia Pasifik Jerry Hsu mengatakan bahwa dibandingkan dengan negara-negara maju, hampir dua kali lipat UKM di negara berkembang melakukan perdagangan internasional dalam 5 tahun sejak memulai bisnis. \"Para UKM ini memaksimalkan penggunaan teknologi komunikasi yang terjangkau dan jasa logistik yang efektif dan berpengalaman sehingga memungkinkan UKM untuk bersaing secara internasional,\" katanya.

Dari total jumlah UKM yang disurvei, 26% perusahaan yang melakukan perdagangan internasional secara signifikan unggul di pasar dibandingkan dengan 13% UKM yang beroperasi di dalam negeri.

Related posts