Alat Kontrol Siap Dipasang di 276 SPBU - Pengendalian BBM Bersubsidi

NERACA

Jakarta - PT Pertamina (Persero) memastikan bakal memasang sistem monitoring dan pengendalian (SMP) atau alat radio frequency identification (RFID) di 276 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Jakarta. Pemasangan alat ini bertujuan mengetahui konsumsi premium dengan dilekatkan dalam kendaraan.

Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina, Hanung Budya mengaku implementasi RFID tahap I bakal dilakukan di wilayah DKI Jakarta.\"Sebanyak 276 SPBU di DKI Jakarta bakal dipasang SMP mulai bulan April atau Mei ini,\" tutur dia di Jakarta, Senin (8/4).

Setelah itu, dia menguraikan, akan dilanjutkan dengan pemasangan alat RFID di SPBU wilayah Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi pada Agustus. Sementara giliran wilayah Sumatera mulai diimplementasikan pada Februari 2014, dan wilayah lainnya.\"Sehingga secara total sebanyak 5.027 unit SPBU yang tersebar di Indonesia bakal terpasang alat RFID pada Juli 2014 sebagai langkah pengendalian Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi,\" jelasnya.

Sistem ini, kata Hanung, akan mencatat setiap transaksi, plat atau nomor polisi kendaraan, identitas pelanggan. Sehingga perlu juga mendapat dukungan melalui pembenaman alat RFID pada kendaraan pribadi roda empat.

Alat RFID dipasang pada tangki BBM setiap kendaraan. Saat pengisian dimulai, sistem kontrol di SPBU akan mengidentifikasi seluruh identitas pengguna kendaraan. \"Jumlah kendaraan di DKI Jakarta sendiri lebih dari 5 juta dan untuk memasangnya perlu waktu. Jadi implementasi untuk kendaraan diperkirakan bulan Juli ini,\" papar dia. Cara ini, dinilai Hanung cukup efektif untuk memonitoring dan mengontrol konsumsi BBM bersubsidi.

Kelangkaan BBM

Di tempat berbeda,Wakil Ketua Komisi VII DPR Ahmad Farial menegaskan, kasus kelangkaan BBM subsidi seperti solar sangat meresahkan, terutama bagi pengusaha angkutan. Sementara di sisi lain, lanjutnya, Pertamina tidak menambah pasokan BBM subsidi khususnya di wilayah Jawa. “Dengan kondisi ini, maka Pertamina bisa mempercepat penggunaan alat monitoring BBM subsidi. Apalagi PT INTI sudah memenangkan tender sistem monitoring. Tunggu apa lagi,” timpalnya. Dengan sistem ini pula, kata dia, Pertamina bisa memantau sejauh mana konsumsi BBM subsidi tersebut.

Sebelumnya, berdasarkan pantauan di beberapa wilayah Jawa Tengah akhir pekan lalu masih ditemui antrean mobil, bus dan truk untuk membeli BBM subsidi jenis solar. Bahkan, di beberapa pom bensin tidak menjual solar karena stoknya habis.

Salah satu pom bensin yang kehabisan solar adalah pom bensin yang berada di daerah Lempuyangan, Jawa Tengah. Di pom bensin ini solar subsidi sudah habis. Tio, petugas jaga mengatakan, pasokan solar belum datang. Kendati pihaknya menyediakan pertamina dex alias solar non subsidi tapi peminatnya minim karena harganya dua kali lipat harga solar subsidi.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina Ali Mundakir mengatakan, perseroaan tetap menyalurkan solar sesuai dengan kuota yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Rencananya pengadaan sistem monitoring BBM bersubsidi ini akan digunakan untuk seluruh wilayah Indonesia pada awal 2014.

“Dari tender sedang dilakukan Pertamina terkait dengan pengadaan sistem monitoring dan pengendalian BBM bersubsidi tersebut sudah sewajarnya harus diawasi secara bersama baik oleh rakyat maupun pemerintah agar Pertamina benar-benar mendapatkan pemenang tender yang sesuai harapan dan mendapatkan teknologi yang tepat guna dan tidak mubazir,” imbuh Ferial.

Pihak Pertamina menyatakan proses lelang pemanfaatan TI melalui program Sistem Monitoring dan Pengendalian Bahan Bakar Minyak (SMP BBM) bersubsidi menyisakan dua peserta. Senior Vice President Fuel Marketing and Distribution Pertamina Suhartoko mengatakan, kedua peserta tender itu adalah PT Telkom Tbk dan PT INTI. Sebelumnya, PT LEN dan PT Sucofindo juga turut bersaing. Dalam prosesnya INTI menawarkan harga Rp 18 per liter. Sementara Telkom Rp 72,5 per liter.

Pertamina akhirnya menunjukkan PT INTI sebagai pemenang lelang TI SMP. BUMN ini menargetkan penandatanganan kontrak dengan pemenang tender pada 1 April 2013. Pemenang tender ditargetkan telah memasang peralatan TI di seluruh wilayah Jabodetabek 1 Juli 2013.

Related posts