Obligasi Perlu Immunitas Nilai Portofolio - Mitigasi Risiko

NERACA

Jakarta – Pasar obligasi tahun ini masih dalam tren pertumbuhan positif seiring dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi. Namun ditengah tingginya penyerapan oleh investor, otoritas pasar modal diminta membuat aturan baru soal perlu immunisasi nilai portofolio efek terhadap faktor risiko eksternal.

Direktur Utama BondRI Tumpal Sihombing mengatakan, immunisasi nilai portofolio efek dimaksudkan untuk melindungi nilai investasi invetor di pasar modal, “Dengan adanya aturan ini, investor tidak perlu lagi khawatir nilai investasinya bakal tergerus dari persoalan sistemik baik dari dalam dan luar,”katanya kepada Neraca beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, immunisasi adalah upaya menghilangkan dampak perubahan suku bunga terhadap nilai portofolio asset under management (AUM). Ini merupakan suatu bentuk best practice yang dapat memitigasi risiko investor dalam memegang obligasi.

Selain itu, dirinya juga menilai pasar obligasi yang besar ini perlu dimanfaatkan sebaik mungkin bagi investor lokal agar tidak di dominasi asing. Pasalnya, kuatnya dominasi asing dikhawatirkan bisa mengkhawatirkan stabilitas pasar ketika mereka keluar dari pasar modal.

Oleh karena itu, edukasi dan sosialisasi investasi obligasi harus terus dilakukan oleh otoritas pasar modal ataupun PT Bursa Efek Indonesia, “Didaerah penyerapan pasar obligasi masih cukup besar, karena belum semuanya teredukasi,”ujarnya.

Kemudian, lanjut Tumpal, investor juga diminta untuk memperhatikan obligasi yang ditawarkan korporasi soal kemampuan dalam membayar agar tidak terjadi gagal bayar, “Tingkat kemampuan issuer dalam pelunasan kewajibannya perlu diperhatikan investor agar tidak dirugikan dikemudian hari, “jelasnya.

Sebagai informasi, tahun ini PT Bursa Efek Indonesia menargetkan sebanyak 67 penerbitan obligasi dengan total nilai emisi sekitar Rp50 triliun. Direktur Penilaian PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Hoesen pernah bilang, proyeksi pertumbuhan obligasi tahun ini didasarkan pada kondisi makro dan perekonomian Indonesia, di mana saat ini mencatatkan pertumbuhan yang sangat positif sehingga diharapkan dapat mendorong perkembangan investasi.

Hal senada juga disampaikan pengamat obligasi dari PT Pemeringkat Penilai Efek Indonesia (Pefindo), Fakhrul Aufa, prospek penerbitan obligasi tahun ini masih cukup positif. “Pertumbuhan obligasi di tahun depan diproyeksikan dapat mencapai sekitar 20-25%,”ujarnya.

Menurutnya, obligasi korporasi akan tetap menjadi incaran investor dikarenakan dapat memberikan imbal hasil yang lebih tinggi daripada obligasi pemerintah. Pihaknya mencatat, untuk imbal hasil obligasi pemerintah saat ini tidak lagi dapat memberikan sebesar 7%. Tenor paling panjang 30 tahun pemerintah itu di level 6,41%. Sementara untuk imbal hasil obligasi korporasi bisa mencapai 7% sesuai rating yang diperoleh perusahaan untuk penerbitan obligasi tersebut. (bani)

Related posts